`Televisi 29 inc' di kuti saya

Sewaktu di Panditarama Forest Monastry saya mempunyai sebuah `televisi
29 inc' di kamar. Sebuah kemewahan yang luar biasa bukan? Untuk
seseorang Biku yang hidup di tengah hutan, di sebuah negara yang
penghidupannya masih di bawah garis kemiskinan, ini adalah hal yang `wah'.

Sebagai seorang murid Guru Buddha berjubah saat itu, idealnya aku tak
memiliki kemewahan apa-apa. Jubah cuma dua stel. Dua hari cuci sekali.
Yang satu dijemur, satunya dipakai. Yang dijemur kering, satunya lagi
yang dicuci, begitu siklusnya. Di samping itu, aku memiliki mangkok
patta yang dipakai mengumpulkan makanan di pagi hari, berikut sendok
dan garpu yang digunakan saat makan, alat cukur, alat mandi, beberapa
alat tulis dan kamus. Alat makan ini kami cuci sendiri habis makan dan
dijemur di depan kuti.

Rutinitas kami dimulai bangun jam tiga pagi (gilanya aku suka langsung
mandi, hehe). Terus meditasi bersama di hall. 

Waktu menunjukkan setengah enam saat makan pagi, habis itu dilanjutkan
pindapatta, memberikan kesempatan umat perumah tangga mendapat
kebajikan berdana pada mereka yang tengah berlatih.

Karena letak monastry di tengah hutan, untuk pindapatta, tiap pagi
kami diangkut mobil truck melewati jalan hutan berdebu ke perkampungan
penduduk. Biasanya kami menutup muka dengan secarik kain menembus
kabut debu bertebangan oleh laju ban mobil truck. Sekitar setengah jam
perjalanan kami tiba di perkampungan penduduk, dan diturunkan di ujung
jalan. 

Mulailah menyusuri tapak-tapak jalan desa yang terkadang berkrikil
tajam. Sambil mengumpulkan makanan, kami melakukan meditasi jalan.
Pemahaman saya, dalam kondisi batin meditatif, kami menjadi lahan yang
efektif bagi umat yang berdana, apalagi jika disertai ketulusan yang baik.

Rasanya air mata ini selalu akan meleleh tiap kali melihat ketulusan
penduduk yang meski hidup dalam kemiskinan mendanakan sendok demi
sendok nasi ke mangkok patta kami, dengan begitu tulus dan rendah
hati. Terkadang mereka melakukannya di depan gubuk mereka yang sangat
`mungil'! (maafkan aku teman, susah bagiku menjelaskannnya  dengan
kata-kata). 

Melihat kondisi ini, aku berpikir alasan lain kami berpindapatta,
adalah memicu semangat kami agar lebih tekun berlatih, sehingga karma
baik yang mereka tanam dalam bentuk dana makanan menjadi tak sia-sia. 

Karena untuk monastry berkelas international, branchnya ada di seluruh
dunia, dengan donatur yang global, kami tak akan kekurangan makanan.
Monastry sendiri memiliki tukang masak yang tiap hari menyajikan
makanan berkualitas bagi yogi yang berlatih. 

Biasanya makanan hasil pindapatta digabungkan masakan koki di monastry.

Kembali ke pindapatta. Biasanya penduduk yang berdana berdiri di depan
rumah atau di pesimpangan jalan yang biasa dilalui barisan biku
berpindapatta. Berdiri di atas aspal di samping alas kaki yang sengaja
dicopot. Kalau membawa anak, anaknya disuruh bersujud terus menerus
sementara orang tuanya kusyuk mendanakan sendok demi sendok nasi ke
dalam mangkok kami. Ada juga yang sebelum berdana, bernamaskara dulu
di aspal. Setelah dana makanan habis, ia bernamaskara lagi. 

Sepulang dari pindapatta dengan kaki pegal, karena kerikil tajam,
terkadang gatal karena menginjak kotoran hewan, aku biasa mandi lagi
dan melanjutkan jadwal meditasi seharian di hall. Di luar kegiatan
rutin tentu suatu yang sangat surprise, ketika suatu malam sehabis jam
meditasi di aula, menjelang tidur, aku mendapat kehadiran `televisi,
layar lebar di kuti aku. Wow, kemewahan yang luar biasa! Tapi juga
mengerikan!

Bayangkan, di tengah hutan sunyi dan dingin, di tengah kuti gelap
gulita karena diesel monastry dimatikan tiap jam 10 malam, tiba-tiba
hadir televisi 29 inci berwarna yang tengah menyala dengan sendirinya?
Begitulah kenyataannya. 

Malam itu aku sudah berbaring. Saat mataku hampir terpejam, tiba-tiba
muncul televisi layar lebar itu di dinding kamarku. Tentu saja
bentuknya tak seperti televisi konvensional yang kita kenal. Televisi
di kuti aku lebih tipis, bahkan tak memakai boks, berupa layar
menempel di dinding.

Mula-mula kaget setengah mampus mendapatkan kehadiran ini. Tapi aku
segera mepertahankan kesadaran dengan meditasi pada bentuk tubuhku
saat tidur, merasakan dinginnya matras tidurku. Intip-intip aku
melihat apa yang ditampilkan televisi itu. Ada berberapa wanita
berjalan, masuk rumah, berpakaian merah, ada pembantaian, merah darah…
sampai akhirnya aku merasa tubuh kasar aku sudah tertidur dan tak bias
digerakkan, tapi kesadaranku masih terjaga. Tapi itu hanya sebentar,
karena kemudian aku tak ingat apa-apa lagi, benar-benar udah pulas.
Televisi itu? Tak tahulah, saat terjaga pukul 3 pagi tak ada lagi.

Keesokan harinya, ketika giliran audisi dengan sayadaw pembimbingku
yang terkasih, yang juga guru penabisku di Panditarama Forest
Monastry: U Tamana Kyaw, aku melaporkan yang aku alami. 

Tanpa melihat wajahnya (selama retreat kami tak boleh melihat wajah
guru pembimbing saat melaporkan hasil meditasi) aku merasakan beliau
mendengarkan seksama dan berpesan agar aku cukup tau dan sadar. 

Jangan mengamati apa yang ditayangkan di layar. Jangan mengamati warna
baju yang dipakai warna apa dan sebagainya. Cukup sadar, sadar, sadar.
Mungkin bahasa gampangnya, melihat dengan tak melihat, hehe.

Nasehat  yang manjur. Karena selanjutnya, setelah dua tiga hari,
karena `dicuekin', televisi itu `ditarik' lagi oleh distributornya.
Dalam arti, gambaran layar yang sangat jelas di dinding kamar aku tak
muncul lagi. Aku juga tak keberatan `televisi' ditarik supliernya,
karena memang aku tak pernah meminta apalagi memesannya, hehe.

Namaskara buat guruku U Tamana Kyaw dari jauuhhhh, terima kasih atas
bimbingannya.


Ancol, 13 Januari 2009 (jam 3.06  pagi)

Harpin R

Sumber: www.harpin.wordpress.com

Kirim email ke