Dari: situs Daniel Johan, http://www.daniel-13-2.com/

Buddha Bar, Menghujam Hati Umat Buddha

Oleh: Daniel Johan

Baru-baru ini komunitas Buddhis Indonesia dihebohkan dengan munculnya
sebuah bar dengan menggunakan nama Guru Agung yang mereka muliakan,
BUDDHA. Meskipun keberadaan Buddha Bar bukan baru-baru ini saja, karena
Buddha Bar telah berdiri sekian tahun lalu di sejumlah negara dengan
sistem kepemilikan franchise oleh pendirinya warga Perancis. Namun karena
saat ini Buddha Bar berdiri di Teuku Umar, Jakarta, membuat hati umat
Buddha Indonesia terasa terhujam. Kepedihan hati umat Buddha karena nama
Guru Agungnya digunakan untuk sebuah tempat “mesum”, membuat puluhan tokoh
dan aktivis Buddhis berkumpul guna membicarakan permasalahan ini. Hasilnya
adalah umat Buddha dengan tegas menolak keberadaan Buddha Bar di Teuku
Umar dan menuntut tidak menggunakan nama BUDDHA secara tidak layak. Surat
keberatan umat Buddha Indonesia ini akan segera dikirimkan ke sejumlah
instansi dan lembaga seperti Menteri Agama, Menteri Pariwisata, Menteri
Dalam Negeri, Gubernur DKI Jakarta, PBB, dan sejumlah Kedutaan Besar
negara yang terdapat Buddha Bar, dan tentunya kepada pemilik franchise
Buddha Bar di Indonesia, Renny Sutiyoso, anak dari kandidat Calon Presiden
yang juga mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso. Penggunaan kata BUDDHA
secara tidak layak bukan hanya menghujam hati umat Buddha, tetapi juga
mendapat reaksi keras dari sejumlah tokoh dan aktivis lintas agama dan
sektor. Ini merupakan penghinaan atas simbol-simbol agama. Yang lebih
menghujam hati adalah bila di dalam bar tersebut terjadi kegiatan mesum
dan asusila. Berdasarkan pengamatan sejumlah tokoh yang menyempatkan
berkunjung ke Buddha Bar, di sana terjadi pula kegiatan tidak pantas
sebagaimana bar-bar malam pada umumnya. Mari atas nama kebenaran dan
kepatutan kita melakukan tindakan agar Buddha Bar tutup atau segera
mengganti nama. Siapa pun pemiliknya, mereka telah menghujam umat Buddha
ke hatinya yang paling dalam.

Jakarta, 10 Januari 2009

=====================

HUDOYO:

Semangat yang tercermin dalam tulisan ini patut diacungi jempol.

Namun, tindakan apa yang mau diambil perlu dipertimbangkan masak-masak.
Mengingat bahwa Buddha Bar adalah suatu rantai franchise multinasional,
maka teman-teman yang mau tampil menyuarakan hati nurani umat Buddha perlu
berpikir seribu kali. Menggoyang "Buddha Bar" sama artinya dengan
menggoyang "Hard Rock Cafe".

Perjuangan kalian bukan hanya terbatas pada mengirim surat ke berbagai
pejabat dan instansi saja. Kalau cuma itu, pagi-pagi saya berani katakan,
tidak akan ada dampaknya sama sekali. Kalian harus siap untuk berdemo
secara intens dan berkepanjangan memperjuangkan aspirasi kalian.

Apalagi, konon yang pegang franchise di Indonesia adalah orang berduit dan
dekat dengan pusat kekuasaan. Percayalah, perjuangan kalian tidak akan
mudah. Siapkah kalian bersikap konsisten untuk jangka panjang? Kalau
tidak, kalau cuma angat-angat tai ayam, saya rasa yang akan malu adalah
umat Buddha sendiri, "Yaa, cuma segitu."

Lihat bagaimana Ibu Lia Aminuddin ("Lia Eden"), yang tidak punya kaitan
dengan duit & pusat kekuasaan, baru bisa digoyang setelah banyak
kelompok Islam berdemo terus-menerus. - Begitu pula saya rasa dengan
masalah Buddha Bar ini, tidak akan selesai dengan rundingan di belakang
meja, tapi baru akan berdampak dengan adanya ribut-ribut di lapangan.

Salam,
Hudoyo
Situs Web MMD: http://meditasi-mengenal-diri.org
Forum Diskusi MMD: http://meditasi-mengenal-diri.ning.com



Kirim email ke