Dari: Forum Diskusi Dhammacitta.org, thread MMD, http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=2355.msg138690#msg138690
Dari: MARKOS PRAWIRA Beberapa hal yang sampai saat ini masih dipegang dari MMD adalah : - tidak mengakui JMB8 yg notabene sudah dinyatakan dgn jelas sebagai satu2nya jalan utk mencapai nibbana - hanya mengakui tentang sati saja, yg notabene hanya merupakan salah empat dari 37 faktor - Mengusung ajaran J. Khrisnamurti, namun menggunakan label Buddhism. Padahal ajaran J. Khrisnamurti sudah jelas berisikan mengenai Nihilisme, yg merupakan salah satu dari pandangan salah mengenai Atta yg disebut dalam Brahamajala Sutta - mengenai Terhentinya Pikiran : sudah jelas ini selaras dengan Nihilisme itu, jadi tidak ada apapun. Berbeda sekali dengan Buddhism dimana pada saat mencapai nibbana sekalipun, selalu ada proses batin (pikiran/citta dan cetasika/faktor batin) Kalau mau dilihat metode MMD yg tidak sesuai dengan meditasi adalah : 1. Prinsip Nihilisme : tujuan bhavana adalah pencapaian nibbana. Sementara krn prinsip MMD berasas dari JK maka akan berujung pada Sunya/Kosong. 2. Pada MMD, disebut bhw pada Arahat ada tahap terhentinya pikiran. Ini sangat keliru karena spt yg sy sebut diatas. Ini yg membuat org anti thd pikiran itu, yg jika dikembangkan terus, dlm kelahiran mendatang mgkn bisa menjadi mahluk asannasatta (tidak punya sanna atau batin) karena dlm kelahiran saat ini, batinnya terus mengembangkan konsep nihilisme itu sendiri Dan sampai saat ini, bro hudoyo masih terus hal2 yg disebut diatas...... silahkan bro Kai nilai sendiri ==================================== HUDOYO: Rekan Markos Prawira, Memang Anda menguasai kitab Abhidhamma Pitaka, tapi Anda tidak memahami ajaran Buddha Gotama berikut ini: "Seorang arahat/buddha mengalami langsung nibbana, tapi tidak membayangkan nibbana, TIDAK BERPIKIR: 'Aku di dalam nibbana, aku berhadapan dengan nibbana, aku memiliki nibbana, aku berbahagia di dalam nibbana." ... Ini diulangi untuk semua pikiran apa pun yang bisa dipikirkan oleh manusia ... Dengan kata lain, Sang Buddha menegaskan, dalam diri arahat/buddha TIDAK ADA LAGI PIKIRAN yang berkaitan dengan aku, sebagaimana seorang puthujjana SELALU berpikir. Dengan kata lain, Sang Buddha hendak menegaskan bahwa dalam batin seorang arahat/buddha TIDAK ADA LAGI PIKIRAN SEBAGAIMANA PUTHUJJANA BERPIKIR! Lalu Anda juga tidak memahami tuntunan vipassana ajaran Buddha Gotama kepada Bahiya & Malunkyaputta: "Bahiya, lakukan demikian: di dalam apa yang terlihat hanya ada yang terlihat [jangan diikuti oleh si aku & pikiran yang menanggapi apa yang terlihat] ... begitu seterusnya dengan semua yang tercerap dan semua yang dapat dikenal ... Kalau kamu bisa berada dalam keadaan itu, maka KAMU TIDAK ADA LAGI, KAMU TIDAK ADA DI MANA PUN JUGA! Itulah akhir dukkha." KESIMPULAN: Anda sama sekali tidak memahami ajaran Sang Buddha dalam Bahiya-sutta & Malunkyaputta-sutta, karena menurut LOGIKA Anda di atas maka Sang Buddha pun mengajarkan "NIHILISME" kepada kedua orang itu, sebagaimana Krishnamurti dan saya mengajarkan "nihilisme" di abad ke-20 dan 21 ini. Yang Anda kuasai hanyalah isi Abhidhamma Pitaka yang dikarang oleh bhikkhu-bhikkhu non-arahat yang datang belakangan sesudah Sang Buddha, dan diklaim sebagai ajaran Sang Buddha yang diajarkan kepada ibunya di langit. Salam, Hudoyo
