Dari: Milis Samaggiphala Dari: IKA POLIM
sampai saat ini jika berdiskusi ttg kata tuhan thdp "ajaran lain" dipandang dr ajaran buddha, maka kecenderungan paling pasti yang akan terjadi adalah para buddhis akan pasti menampilkan "sesuatu jawaban" versinya dr apa yang dipahaminya secara buddhis, namun yang sebenarnya terjadi thdp mereka adalah cuma "ketidaktahuan" dan "penganggapan yang berlebihan" saja! buktinya? buktinya adalah : memang ada dlm tipitaka yang berbicara ttg tuhan? sedangkan kata tuhan gak pernah munul dlm berbagai versinya disana! kecenderungan berikutnya adalah pertanyaan balik kpd para pengikut "ajaran lain"itu sbb: jika seorg anak dilahirkan cacat, apakah hal buruk itu iptaan tuhan? jika pertanyaan itu dijwb dgn sbb: apakah anda ingin mengatakan bahwa hal buruk itu merupakan akibat bekerjanya hukum karma pada anak itu? dan apakah hukum karma berkepentingan dgn kelahiran yang cacat itu? jika ya, bisa anda tunjukan how? maka dptlah disimpulkan (sementara) bahwa hanya krn "ketidaktahuan" dan "penganggapan yang berlebihan" saja , jwbaN serta cntoh yg diberikan oleh para buddhis itu didasarkan! ika. ========================= HUDOYO: Manusia menciptakan dengan akal-budinya pengertian tentang Tuhan (yang bukan hakikat sebenarnya dari Kebenaran/Al-Haq) untuk menjelaskan pengalaman hidup manusia yang sekali berada di atas dan sekali di bawah, dengan mengembalikan semuanya kepada kodrat dan iradat Illahi. Begitu pula, manusia menciptakan doktrin-doktrin tentang Hukum Karma (padahal Sang Buddha telah wanti-wanti agar umat Buddha jangan mikir-mikir tentang Hukum Karma) juga dengan maksud untuk menjelaskan pengalaman hidup manusia yang sekali berada di atas dan sekali di bawah, dengan mengembalikan semuanya sebagai buah (phala) dari perbuatan (karma) manusia sendiri. Kedua cara berpikir (paradigma) itu telah berkembang selama ribuan tahun di bagian-bagian dunia yang saling terpisah: yang satu di Timur Tengah, yang kemudian melahirkan agama-agama yang diklaim sebagai "agama samawi"; dan yang lain di anak benua India dan lebih ke Timur lagi, yang melahirkan agama-agama non-teistik. Dalam perkembangannya, kedua cara berpikir/paradigma itu telah membentuk suatu sistem pemikiran yang logis dan konsisten sehingga tidak mungkin diruntuhkan oleh argumentasi dari satu pihak kepada pihak yang lain. Seorang yang beriman kepada Tuhan YME tidak akan mampu secara obyektif meruntuhkan sistem pemikiran Hukum Karma tanpa asumsi-asumsi ketuhanan tertentu yang menegasikan Hukum Karma. Sebaliknya, seorang yang percaya penuh kepada Hukum Karma tidak akan mampu secara obyektif meruntuhkan sistem pemikiran teologis tanpa asumsi-asumsi tertentu berdasarkan Hukum Karma itu sendiri yang menegasikan teologi. Dengan demikian, perdebatan tentang "Tuhan vs Hukum Karma" ini adalah perdebatan yang sia-sia dan menggelikan. Ibarat seorang Inggris berdebat dengan seorang Rusia, yang di situ masing-masing menggunakan bahasanya sendiri tanpa mengerti bahasa pihak yang lain. ***** Bagaimanakah sikap yang tepat dalam menghadapi masalah itu? - Seorang pemeditasi vipassana/MMD akan dengan cepat bisa melihat bahwa baik teologi (ilmu kalam) maupun diskusi-diskusi tentang Hukum Karma oleh umat Buddha tidak lebih daripada spekulasi pikiran manusia belaka, yang sama sekali tidak membebaskan. Kalau orang melihat itu, maka ia tidak akan pernah lagi melibatkan diri dalam diskusi tentang teologi maupun hukum karma. Saya hanya mengingatkan kembali akan peringatan Sang Buddha akan empat hal yang seharusnya tidak dipikirkan oleh manusia (acinteyya): salah satunya adalah Hukum Karma (kamma-vipaka). Sang Buddha secara eksplisit menyatakan, orang yang memikir-mikir tentang hal itu 'bisa menjadi gila'. Saya rasa, dari sisi agama monoteistik, ada pula peringatan-peringatan yang mirip seperti itu datang dari "atas", agar manusia tidak memikir-mikir tentang Tuhan. - Dalam Al-QUr'an dikatakan: "Hanya sedikit pengetahuan diberikan kepadamu perihal RUH." - Dalam Alkitab, Tuhan dengan tegas menyerukan: "DIAMLAH, dan ketahuilah Aku Tuhan." (Mazmur) Salam, Hudoyo
