Utk Yuganaddha Sutta http://dhammacitta.org/tipitaka/an/an04/an04.170.than.html
Pada bagian 1-3 tidak dengan jelas bahwa melatih ketenangan dan  
pandangan terang dalam kombinasinya.
Pada bagian ke 4, dikatakan kegelisahan terkendali dengan baik  
sehingga menjadi terkonsentrasi (samadhi). Jadi pada jalan ke 4 ini  
tidak secara formil melatih ketenangan, tetapi karena kegelisahannya  
(hindrance) tidak ada, maka jhana muncul disana.

"Puna caparaṃ, āvuso, bhikkhuno dhammuddhaccaviggahitaṃ mānasaṃ  
hoti. So, āvuso, samayo yaṃ taṃ cittaṃ ajjhattameva santiţŠ
£hati sannisīdati ekodi hoti samādhiyati.

Jalan ini biasa dicapai oleh hearer, atau murid sang Buddha yang  
mendengarkan kotbah dengan terkonsentrasi bukan karena khusus melatih  
konsentrasi dan perhatian.

Pada kasus bahiya karena memang kemampuan batinnya mantap dia bisa  
langsung menembus, dikala itu pikirannya tidak gelisah dan  
terkonsentrasi. Utk malunkyaputta mungkin tidak semaju bahiya sehingga  
perlu melatih utk meredam kegelisahan dan mengembangkan konsentrasinya.

Pada mereka berdua memang mendapatkan instruksi yang sama sebagai  
berikut,

Sehubungan dengan apa yang terlihat, hanya ada apa yang terlihat.  
Sehubungan dengan apa yang terdengar, hanya yang terdengar. Sehubungan  
dengan yang dirasakan, hanya yang dirasakan. Sehubungan dengan apa  
yang diketahui, hanya yang diketahui. Demikianlah cara engkau harus  
melatih dirimu. Ketika untukmu hanya ada yang terlihat berhubungan  
dengan apa yg terlihat, hanya yang terdengar sehubungan dengan apa  
yang terdengar, hanya yang terasa sehubungan dengan apa yang terasa,  
hanya yang diketahui sehubungan dengan apa yang diketahui, kemudian,  
Bahiya, tidak ada dirimu sehubungan dengan itu. Ketika tidak ada  
engkau sehubungan dengan itu, tidak ada engkau disana. Ketika tidak  
ada engkau disana, engkau tidak berada disini atau tidak juga berada  
jauh diluar itu, tidak juga diantara keduanya. Inilah, hanya ini,  
merupakan akhir dari ketidakpuasan (Dukkha).

Jadi pada nama-rupa semua komponennya tidak ada diri (atta) disana  
sehingga tidak layak dilekati. Dengan melihat ini maka menjadi tidak  
tertarik (dispassion) karena itu tidak ada kemelekatan lagi disana.  
Disaat tidak ada kemelekatan lagi maka itulah akhir dari Dukkha.

Saya memang berbeda pandangannya dengan Pak Hud yg mengajarkan bahwa  
Sang Buddha menginstruksikan Bahiya dan Maluknyaputta utk menghentikan  
pikiran.

Sati,
Sumedho



On Jan 20, 2009, at 1:34 AM, Hudoyo Hupudio wrote:

>
> Di dalam Yuganaddha-sutta (di bawah) ini, Bhikkhu Ananda mengatakan  
> bahwa
> pembebasan bisa dicapai melalui salah satu dari empat jalan. Ketiga  
> jalan
> pertama secara eksplisit mencakup semua kemungkinan hubungan yang ada
> antara 'samatha' dan 'vipassana':
>
> (1) 'samatha' dulu, dilanjutkan dengan 'vipassana';
> (2) 'vipassana' dulu, dilanjutkan dengan 'samatha';
> (3) 'samatha' bergandengan dengan 'vipassana'.
>
> Ketiga jalan ini mencakup semua kombinasi antara 'samatha' dan  
> 'vipassana'
> yang ada. Berarti, di luar ketiga jalan pertama ini, tidak ada lagi
> kemungkinan kombinasi 'samatha' dan 'vipassana'.
>
> Nah, jalan keempat yang dikemukakan oleh Bhikkhu Ananda adalah:
>
> (4) "... pikiran seorang bhikkhu dicengkeram oleh kegelisahan yang
> disebabkan oleh keadaan-keadaan pikiran yang lebih tinggi.(69)  
> Tetapi ada
> saat ketika pikirannya secara internal menjadi mantap, tenang,  
> terpusat,
> dan terkonsentrasi; kemudian Sang Jalan itu muncul di dalam  
> dirinya. ..."
>
> Jelas, jalan keempat ini tidak menyebut-nyebut 'samatha' maupun
> 'vipassana', sedangkan di lain pihak, semua kombinasi yang  
> dimungkinkan
> dari 'samatha' dan 'vipassana' SUDAH TERMASUK SELURUHNYA dalam ketiga
> jalan pertama.
>
> Apakah sebetulnya jalan keempat ini? Mengapa di sini tidak disebut- 
> sebut
> 'samatha' maupun 'vipassana'? Mengapa jalan keempat ini dijadikan
> alternatif bagi, dan terpisah dari, ketiga jalan yang tersebut  
> pertama?
>
> Catatan kaki (#69) mengacu pada kitab Komentar, yang bicara tentang
> 'kotoran vipassana' (vipassana-upakilesa). ... Catatan kaki itu  
> ditutup
> dengan: "Tetapi, ada kemungkinan bahwa 'kegelisahan yang disebabkan  
> oleh
> keadaan-keadaan pikiran yang lebih tinggi' itu adalah tekanan mental  
> yang
> disebabkan karena keinginan untuk merealisasikan Dhamma, suatu keadaan
> kecemasan spiritual yang kadang-kadang dapat mempercepat pengalaman
> pencerahan instan. Sebagai contoh, lihat kisah tentang Bahiya  
> Daruciriya
> di Ud.I,10." ... (Siapa ya penulis catatan kaki itu?)
>
> Bagi saya, jalan keempat itu tetap merupakan "teka-teki". ... Tapi  
> bagi
> saya jelas jalan keempat itu tidak lagi berkaitan dengan kontroversi
> 'samatha' vs 'vipassana'. ... Tapi apakah itu? ...
>
> Komentar #69 itu mengacu pula pada Bahiya-sutta, yang saya gunakan  
> dalam
> mengajar MMD. ... Memang tuntunan vipassana kepada Bahiya tidak bicara
> tentang 'samatha' dan tidak menamakan tuntunannya 'vipassana'. ...  
> Apakah
> ini yang dimaksud oleh Bhikkhu Ananda dengan jalan keempat itu? ...
>
> Tentang 'kecemasan spiritual' atau 'tekanan mental', yang disebut- 
> sebut
> dalam komentar #69 itu, saya rasa tidak terlalu menentukan, karena
> tuntunan vipassana yang persis sama dengan yang diberikan Sang Buddha
> kepada Bahiya juga diberikan kepada Malunkyaputta (lihat:
> Malunkyaputta-sutta). Yang tersebut belakangan ini adalah seorang  
> bhikkhu
> yang ditahbiskan pada usia lanjut. Berbeda dengan Bahiya, yang begitu
> mendengar tuntunan Sang Buddha langsung menjadi arahat tanpa perlu  
> latihan
> lagi, Malunkyaputta harus berlatih beberapa lama melaksanakan tuntunan
> Sang Buddha itu, sekalipun akhirnya ia juga mencapai tingkat arahat.
>
> Nah, kembali kepada Yuganaddha-sutta, apakah yang dimaksud oleh  
> Bhikkhu
> Ananda dengan jalan keempat itu? ... Saya tidak tahu pasti ... dan  
> hanya
> sampai di sini saja kajian intelektual yang bisa saya berikan tentang
> Yuganaddha-sutta ini ...
>
> Salam,
> hudoyo
>
> ***************************************
>
> JALAN MENUJU TINGKAT ARAHAT
>
> Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Ananda Thera berdiam  
> di
> Kosambi di Vihara Ghosita. Di sana Ananda Thera menyapa para bhikkhu
> demikian:
>
> "Para sahabat!"
>
> "Ya, sahabat," jawab para bhikkhu. Kemudian Ananda Thera berkata:
>
> "Para sahabat, siapa pun bhikkhu atau bhikkhuni yang menyatakan di
> hadapanku bahwa mereka telah mencapai pengetahuan akhir tingkat  
> Arahat,
> semua melakukannya dengan salah satu dari empat cara ini. Apakah yang
> empat itu?
>
> "Di sini, para sahabat, seorang bhikkhu mengembangkan pandangan terang
> yang didahului ketenangan.65 Ketika dia telah mengembangkan pandangan
> terang yang didahului ketenangan itu, Sang Jalan pun muncul di dalam
> dirinya. Sekarang dia mengejar, mengembangkan dan mengolah jalan itu.
> Sementara dia melakukannya, belenggu-belenggu ditinggalkan dan
> kecenderungan-kecenderungan yang mendasari pun lenyap.(66)
>
> "Atau juga, para sahabat, seorang bhikkhu mengembangkan ketenangan  
> yang
> didahului oleh pandangan terang.(67) Sementara dia engembangkan  
> ketenangan
> yang didahului oleh pandangan terang itu, Sang Jalan pun muncul di  
> dalam
> dirinya. Sekarang dia mengejar, mengembangkan dan mengolah jalan itu.
> Sementara dia melakukannya, belenggu-belenggu ditinggalkan dan
> kecenderungan-kecenderungan yang mendasari pun lenyap.
>
> "Atau juga, para sahabat, seorang bhikkhu mengembangkan ketenangan dan
> pandangan terang yang digabungkan berpasangan.(68) Sementara dia
> mengembangkan ketenangan dan pandangan terang yang digabungkan secara
> berpasangan itu, Sang Jalan pun muncul di dalam dirinya. Sekarang dia
> mengejar, mengembangkan dan mengolah jalan itu. Sementara dia
> melakukannya, belenggu-belenggu ditinggalkan dan
> kecenderungan-kecenderungan yang mendasari pun lenyap.
>
> "Atau juga, para sahabat, pikiran seorang bhikkhu dicengkeram oleh
> kegelisahan yang disebabkan oleh keadaan-keadaan pikiran yang lebih
> tinggi.(69) Tetapi ada saat ketika pikirannya secara internal menjadi
> mantap, tenang, terpusat, dan terkonsentrasi; kemudian Sang Jalan itu
> muncul di dalam dirinya. Sekarang dia mengejar, mengembangkan dan  
> mengolah
> jalan itu. Sementara dia melakukannya, belenggu-belenggu  
> ditinggalkan dan
> kecenderungan-kecenderungan yang mendasari pun lenyap.
>
> "Para sahabat, siapa pun bhikkhu atau bhikkhuni yang menyatakan di
> hadapanku bahwa mereka telah mencapai pengetahuan akhir tingkat  
> Arahat,
> semuanya melakukannya dengan salah satu dari empat cara ini."
>
> (IV, 170)
>
> Catatan:
>
> 65 "Samatha-pubbangamam vipassanam". Ini mengacu pada meditator yang
> menggunakan ketenangan sebagai sarana prakteknya (samatha-yanika),  
> yaitu
> orang yang pertama-tama mengembangkan konsentrasi akses, jhana-jhana  
> atau
> pencapaian tanpa-bentuk dan kemudian mengambil meditasi pandangan  
> terang
> (vipassana).
>
> 66 "Sang Jalan" (magga) adalah jalan supra-duniawi pertama, jalan
> pemasuk-arus. Untuk "mengembangkan jalan itu", menurut AA, berarti
> berpraktek untuk pencapaian tiga jalan yang lebih tinggi. Mengenai  
> sepuluh
> kekotoran batin, lihat Bab III, no. 65-67; tentang tujuh kecenderungan
> mendasar, lihat Bab I, no. 25.
>
> 67 "Vipassana-pubbangamam samatham." AA: "Ini mengacu pada orang yang
> lewat kecenderungan alaminya terlebih dahulu mencapai pandangan  
> terang,
> dan kemudian, berdasarkan atas pandangan terang, menghasilkan  
> konsentrasi
> (samadhi)." AT: "Ini adalah orang yang menggunakan pandangan terang
> sebagai sarana (vipassana-yanika)."
>
> 68 "Samatha-vipassanam yuganaddham." Di dalam praktek jenis ini, orang
> memasuki jhana pertama. Kemudian, setelah keluar dari situ, dia  
> menerapkan
> pandangan terang pada pengalaman itu; yaitu orang melihat bahwa lima
> kelompok kehidupan di dalam jhana (bentuk, perasaan, persepsi, dll.)  
> itu
> bersifat tidak kekal, terkena penderitaan dan tanpa-diri. Kemudian dia
> memasuki jhana kedua dan merenungkannya dengan pandangan terang; dan
> menerapkan prosedur pasangan seperti itu pada jhana-jhana lain juga,
> sampai dia dapat merealisasikan jalan pemasuk-arus dll.
>
> 69 "Dhammuddhacca-viggahitam manasam hoti." Menurut AA, "kegelisahan"
> (uddhaca) yang dimaksudkan di sini adalah reaksi terhadap munculnya
> sepuluh "korupsi pandangan terang" (vipassanupakkilesa) ketika mereka
> secara salah dianggap merupakan indikasi pencapaian-Sang-Jalan.  
> Istilah
> dhammavitakka, "pemikiran-pemikiran tentang keadaan-keadaan yang lebih
> tinggi" (lihat Teks 41 dan Bab III no. 70) diambil untuk mengacu pada
> sepuluh korupsi yang sama itu. Tetapi, ada kemungkinan bahwa  
> "kegelisahan
> yang disebabkan oleh keadaan-keadaan pikiran yang lebih tinggi" itu  
> adalah
> tekanan mental yang disebabkan karena keinginan untuk merealisasikan
> Dhamma, suatu keadaan kecemasan spiritual yang kadang-kadang dapat
> mempercepat pengalaman pencerahan instan. Sebagai contoh, lihat kisah
> tentang Bahiya Daruciriya di Ud I, 10. Namaste
>
> Sumber:
> http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg05144.html
>
> Salam,
> Hudoyo
> Situs Web MMD: http://meditasi-mengenal-diri.org
> Forum Diskusi MMD: http://meditasi-mengenal-diri.ning.com
>
>
> 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke