--- On Thu, 1/22/09, Yona <[email protected]> wrote:
From: Yona <[email protected]> Subject: CARI PENYEBAB PERSOALAN To: "Fk" <[email protected]>, "Hy" <[email protected]>, "Lily" <[email protected]>, "Linx" <[email protected]>, "nek" <[email protected]>, "Nancy" <[email protected]>, "sin" <[email protected]>, "suan" <[email protected]>, "Yeyen" <[email protected]>, [email protected] Date: Thursday, January 22, 2009, 1:58 AM CARI PENYEBAB PERSOALAN Oleh : Suhu DUTAVIRA STHAVIRA Vihara Avalokitesvara Jln.Mangga Besar no.58 Jakarta Barat Berikut ini dialog diantara bebek kecil dengan katak yang tertulis di dalam kitab Jataka: BebekĀ (bergumam) : :" Hatiku tidak gembira. Sebaiknya aku ke gunung mencari tempat yang tenang dan indah untuk merenung." Katak: " Ada persoalan apa yang membuatmu pusing, kawan?" Bebek: " Kini ibuku tidak memperdulikanku, teman-teman pun menjauhiku. Ah.... mungkin nasibku sedang sial." Katak: " Bila ada masalah , cari penyebabnya. Janganlah setiap persoalan selalu menyalahkan nasib atau karma." Katak (melihat bebek diam saja, ia menasehati):" Persoalanmu timbul dari perasaanmu. Kini ibumu tentu tidak mengurusimu, karena kini kau telah dewasa, kau harus belajar berdikari." Bebek:" Kau benar, aku terlalu egois, hanya ingin diperhatikan. Ibuku sungguh kasihan, karena harus mengurusi adik-adikku. Tentu saja ibuku sangat sibuk." (Katak dan bebek tertawa bersama karena masalah sudah selesai). Teman se Dharma, kehidupan adalah nyata dan kondisi selalu berubah. Bila kita tidak siap menerima perubahan dan selalu mengharapkan orang memberikan perhatian, pada akhirnya kita akan menderita. Seperti bebek dalam cerita diatas, ia terbiasa mendapat perhatian penuh dari ibunya. Hal itu menjadi suatu kebiasaan dan kemelekatan , sehingga ketika ia mempunyai adik, ibunya memberikan perhatian kepada adiknya , ia merasa tersinggung, hatinya galau, muncul rasa marah.Beruntung ia bertemu katak yang mengajaknya untuk merenung dan mengintrospeksi diri. Bila ia menghindar / lari dari kenyataan dengan bersembunyi ke gunung dan membawa kemarahan, ia akan mudah sekali melakukan perbuatan bodoh yang menyebabkan ia sengsara. Bila anda menghadapi masalah yang pelik dan membuat hati tidak tenang, alangkah baiknya bila anda mau mengintrospeksi diri, melihat masalah tidak hanya dari diri sendiri, melainkan dari sisi orang lain pula. Janganlah menjalankan hidup ini hanya memikirkan kepentingan sendiri. Marilah mensyukuri apa yang telah diperoleh dan menyingkapi dengan baik apa yang belum diperoleh dengan tidak menghindar dari kenyataan. Percayalah banyak masalah berawal dari diri sendiri. Biasakan hidup bersama dengan saling memberi, tidak peduli siapa yang terlebih dahulu mulai memberi, karena semua berjalan berdasarkan ikatan karma masa lalu yang diperkuat dengan karma baru. Omitofo [Non-text portions of this message have been removed]
