(Renungan) Pelita - Cahaya Penerang Buat Diri Sendiri Dan Orang Lain
Posted by: "JuanEk Halim" [email protected] juan.halim
Tue Jan 20, 2009 4:54 am (PST)
--- On Tue, 1/20/09, Juan Ek Halim <juan.ha...@gmail. com> wrote:
From: Juan Ek Halim <juan.ha...@gmail. com>
Subject: Pelita - Cahaya Penerang Buat Diri Sendiri Dan Orang Lain
To:
Date: Tuesday, January 20, 2009, 7:00 PM
Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah
sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.
Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama
saja buat saya! Saya bisa pulang kok."
Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat
kamu, biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju
untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan,
seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei,
kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!" Tanpa berbalas
sapa, mereka pun saling berlalu.
Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si
buta bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa
pelita ini supaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu yang
buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!" Si buta tertegun..
Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah
yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta." Si buta
tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata
kasar saya." Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali
pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan
masing-masing.
Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang
buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan
santun, "Maaf, apakah pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho,
saya justru mau menanyakan hal yang sama." Senyap sejenak. secara
berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta?" Secara serempak
pun mereka menjawab, "Iya.," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun
berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang
berjatuhan sehabis bertabrakan.
Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris
saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut.
Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul
pikiran dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga,
jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa
ikut melihat jalan mereka."
Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti
menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan
kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral
rintangan (tabrakan!).
REFLEKSI
Sibuta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin,
keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah
orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke
arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi
bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi
lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas
kasih dari pihak lain. Ia
juga belajar menjadi pemaaf.
Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang
kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk
"membuta" walaupun mereka bisa melihat.
Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan
dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau
tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang
pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan
saling membantu.
Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin
dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak
bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya.
Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek,
semakin bijaksana.
Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya
memiliki pelita kebijaksanaan.
-
Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika
sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH
PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.
Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat
dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan
meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.
Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika
telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang
tanpa penghalang membuahkan penciuman. Pikiran yang tanpa penghalang
hasilnya adalah kebijaksanaan.--
Peace & Love
Best Rgrds,
Tristina Ferdianty (Nana)
Purchasing Officer
PT Sinar Antjol B29
Ph. 021-69-11-777 ext 221
HP. 021-9293-6729
[Non-text portions of this message have been removed]