(Artikel)  " Hati Ikhlas Pencegah Stroke "      
    
    Posted by:      "JuanEk Halim"      
      [email protected]      
               
        
          juan.halim 
        
          
    
      Fri Jan 30, 2009 3:34 pm        (PST)    

    
            



--- On Fri, 1/30/09, Juan Ek Halim <juan.ha...@gmail. com> wrote:

From: Juan Ek Halim <juan.ha...@gmail. com>

Subject: " Hati Ikhlas Pencegah Stroke "

To: 

Date: Friday, January 30, 2009, 5:52 PM



  

Hati Ikhlas Pencegah Stroke 



Riset

menemukan bahwa satu kunci menuju hidup bahagia ialah menjaga hati

selalu terbebas dari rasa kebencian. Bersihkan pikiran dari segala

kekhawatiran, belajarlah menerima sesuatu dengan ikhlas. 



"Jagalah hati, jangan kau nodai, jagalah hati lentera hidup ini."

- KH. Abdullah Gymnastiar -, pendakwah kondang



Berita

ini sungguh mengejutkan. Seorang teman mengabarkan ayahnya terserang

stroke. Mengejutkan, karena dia seorang dokter, yang tentunya paham

dengan kesehatan. Pengalaman dan pengetahuan, dia ngelotok betul soal

'do and don't' dalam segala hal yang terkait soal kesehatan. Lain dari

itu, dia memiliki gaya hidup yang sederhana. Namun, apa mau dikata, Pak

Dokter ini terserang stroke.



Stroke adalah tersumbatnya aliran

darah secara akut alias mendadak, biasanya disebabkan gumpalan darah.

Stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga, setelah penyakit jantung

dan kanker, namun merupakan penyebab kecacatan nomor satu. Awalnya

memang penderitanya kebanyakan kaum tua. 



Namun

belakangan ini, kita sering mendengar penderitanya pun datang dari

kalangan muda. Intinya sih, mau tua atau masih muda, kalau sudah

terjadi penyumbatan gumpalan darah yang menyebabkan pembuluh sobek atau

terjadinya infeksi vaskuler, stroke pun datang menghampiri. 



Penyebab

stroke antara lain karena kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi dan

kegemukan. Satu pemicu utamanya adalah gaya hidup yang tidak sehat,

umumnya penderita tidak mengontrol makanan yang masuk ke dalam tubuh.

Lama-lama, makanan yang 'uenak tenan' itu malah menjadi biang penyakit.

Sret, satu urat tersumbat, stroke pun datang. 



Sekarang balik

lagi pada kisah Pak Dokter. Semua gaya hidup sudah dijalani. Dia tidak

memiliki korek api yang dipakainya untuk merokok. Penyakit pun, no way.

Dalam soal makanan pun, ia selalu memilih makanan yang baik dan sehat.

Olah raga pun ia lakukan dalam seminggu, walau tidak terlalu rutin. 



Lantas

apa yang menyebabkan ia terkena stroke? Secara medis tak ditemukan

tanda-tanda penyulut penyakit itu. Akhirnya muncul cerita ini. Sang

teman menjelaskan sebab musababnya. 



Menurutnya, ayahnya sering

kali menyimpan berbagai masalah yang ada di dalam hati. Ayahnya sering

kali merasa jengkel dan dongkol dalam beberapa masalah, termasuk

masalah sepele. Atau ia sering kali merasa sakit hati. Hal itu ia

simpan sendiri di dalam hati. Tanpa disadari, perlahan-lahan kebiasaan

ini berbuah petaka. Rupanya, inilah yang menyebabkan ayahnya mengalami

penyempitan pembuluh darah di otak.



Tidak ikhlas? Mungkin itu

kata yang paling tepat. Sebuah keadaan yang tidak sesuai dengan

keinginan kita, memang seringkali menyebalkan dan sangat mengganggu.

Kekalahan atau kegagalan dan juga kehilangan, merupakan hal yang amat

sulit untuk diterima. Akibatnya, kita pun berada dalam keadaan yang

tidak stabil antara menerima dan menolak. 



Nah,

bila menerima, artinya kita ikhlas. Sebaliknya, bila tidak, dia akan

bersemayam di dalam hati. Tanpa terasa, dada pun terasa sesak. Itulah

yang kita rasakan saat pacar memutuskan hubungan tanpa sebab, dus,

malah tahu-tahu menikah dengan orang lain, atau mendapati pasangan

berselingkuh, meski semua yang terbaik sudah kita berikan. 



Memang,

untuk mengikhlaskan semua kekalahan, kegagalan atau kehilangan,

bukanlah pekerjaan mudah. Bila dunia ini sepenuhnya dapat ikhlas dalam

segala persoalan, pasti tidak pernah akan ada perang yang memakan

ribuan atau jutaan korban jiwa. Bila semua orang ikhlas, tentu tidak

pernah ada yang namanya ilmu santet.



Riset pun menjelaskan bahwa

satu kunci menuju hidup bahagia ialah menjaga hati agar selalu terbebas

dari rasa kebencian. Dan, bersihkan pikiran dari segala kekawatiran.

Jadi, belajarlah untuk menerima segala sesuatunya dengan hati yang

lapang. 



Masih

sulit? Pergilah ke hutan, berteriaklah di sana. Keluarkan segala kecewa

di hati. Takkan ada yang terganggu. Kalau kejauhan, masuklah ke kamar

mandi. Lalu tutup pintu. Tapi awas, jangan sampai tetangga tahu-tahu

terbangun kaget dikira ada maling beneran atau kucing garong. Atau

pergilah berenang, di dalam air, luapkan tangis. Di kubangan air,

takkan pernah ada yang menduga bahwa Anda tengah menangis. 



Profesor

Jeffrey Lohr, dari William Fulbright College of Arts and Sciences,

menjelaskan bahwa berteriak memberikan sensasi pengendoran otot yang

tegang karena kondisi stres. Sedangkan Dr. William Frey, dari

University of Minnesota, menemukan bahwa menangis terbukti dapat

membuat seseorang merasa lebih baik. Karena air mata yang keluar

berfungsi melepaskan ketegangan saraf pada tubuh. Asal tentu saja bukan

air mata buaya. Itu kalau Anda kesulitan mengeluarkan segala kekecewaan

di dalam hati.



Kembali

lagi soal ikhlas. Lalu bagaimanakah agar kita bisa sepenuhnya ikhlas?

Tanyalah dalam hati. Ikhlas sejatinya kondisi perasaan di dalam hati.

Karena itu belajar ikhlas juga berarti belajar melihat dengan hati,

mendengar dengan hati dan tentunya, mengikuti kata hati.



Menurut

Erbe Sentanu, penulis buku 'Quantum Ikhlas', dalam kondisi ikhlas, otak

memproduksi hormon serotonin dan endorfin yang menyebabkan seseorang

merasa nyaman, tenang dan bahagia. Dalam zona ikhlas, bertebaranlah

berbagai energi positif: rasa syukur, sabar, juga termasuk fokus. Kita

pun tiba-tiba merasa penuh tenaga. Energi ikhlas ini lalu menyebar ke

setiap bagian tubuh.



Erbe Sentanu sendiri mempunyai kisah

mengenai keikhlasan. Setelah enam tahun menikah, Erbe divonis dokter

mengalami aspermatozoa. Suatu kondisi seseorang tidak akan dapat

memiliki keturunan. Awalnya Erbe terkejut, tetapi ia ikhlas. Dalam

penyerahan diri kepada Tuhan, Erbe membayangkan suatu hari nanti ia

akan dikaruniai buah hati. Hingga suatu hari ia melakukan uji kualitas

sperma. "Tidak mungkin. Dari nol persen spermatozoa menjadi tiga puluh

persen dalam tiga minggu? Tidak mungkin!" seru sang dokter

terkaget-kaget ketika membaca hasil laboratorium. Kini Erbe memiliki

putra bernama Shankara Premaswara.



Pada

akhirnya, ikhlas merupakan kata kunci untuk hidup sehat. Untuk menuju

kestabilan hati, manusia memang perlu katup pelepas. Berteriak dan

menangis merupakan satu jalan keluarnya. Setelah letih, hati dan kepala

biasanya akan berkompromi. Mudah-mudahan, keikhlasan untuk melepas

kekalahan dan kehilangan, yang akan kita peroleh. Agar hati menjadi

netral dan bersih, seperti sebuah speedometer, pada akhirnya, ia

kembali ke titik nol. Semoga. 



~~~

Dikutip dengan ijin dari artikel: Menuju Titik Nol oleh Sonny Wibisono. 

Penulis tinggal di

 Jakarta. Ia dapat dihubungi di s...@centrin. net.id 



Best Rgrds, 



Tristina Ferdianty (Nana) 
Purchasing Officer  
PT Sinar Antjol B29 
    
Ph. 021-69-11-777 ext 221 
HP. 021-9293-6729


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke