Kembali ke Myanmar.

Aku berkunjung ke Myanmar lagi saat World Buddhist Summit ke 4,
Desember 2004. Oleh Guru saya terkasih saya ditugaskan mewakili Sangha
Agung Indonesia bersama Yang Mulia Bhante Nyanasuryanadi Mahathera. 

Pada hari ‘H’ aku berangkat ke Batam. Entah mengapa aku menolak
membawa cindramata rupang besar dari Bhante Aryamaitri Mahasthavira
yang sudah seperti orang tua saya.  Aduh kualat deh. Ampun Bhante, hehe.

Tapi untunglah, belakangan aku tahu, Bhante Nyanasuryanadi yang
Mahathera sekalipun, sangat rendah hati membawakan patung itu. 

Keesokan harinya, Bhante Nyanasuryanadi Mahathera menyusul tiba di
Batam. Kami menginap di Vihara Buddhayana Nagoya Point, untuk keesokan
menyebrang dengan kapal feri ke Singapura.

Di Singapura kami mencari pesawat ke Myanmar. Sebenarnya bisa terbang
langsung dari Jakarta ke Singapura, tapi supaya irit, perjalanan
dilakukan ala back paker traveler. 

Ada rekan Hendritanti menemani dari Batam sampai Bandara Changi,
Singapura. Terimakasih dan namaskara untuk rekan Hendritanti, yang
kini menjadi Biku Nyanagupta. Siapa menyusul? Haha.

Seperti biasa, tiba di Myanmar, Bapak Handaka yang helpfull pada Monk
menunggu di airport. Berbeda dengan perjumpaan pertama saat beliau
masih menggunakan celana panjang, kini beliau ‘menyatu’ dengan
masyarakat Myanmar, kemana-mana pakai sarung kotak-kotak, hehe. 

Hari pertama kami bermalam di kediamannya. Terdapat ‘kuti’ di rumah
beliau untuk biku-biku  yang transit belajar ke Myanmar. Kami juga
menerima dana makanan Ibu Eli yang selalu memberi terbaik buat biku.

Setelah cukup istirahat, kami bersafari dengan keluarga Handaka: Bapak
Handaka, Ibu Eli dan kedua anaknya : Voni dan Nyonyo (waktu itu anak
yang ketiga , Minggala belum hadir,hehe) ke vihara-vihara suci di
Myanmar, sebelum akhirnya meregister di hotel, yang disediakan panitia
World Buddhist Summit.

Ada catatan kecil manfaat yang saya dapat dari kebiasaan mencatat
proses batin, chittanupassana. Terimakasih pada Sayadaw U Tejaniya
yang mematangkan karma aku tentang chittanupassana.

Setidaknya kini aku  bisa meditasi di tempat ramai sekalipun, aku bisa
meditasi dengan mata terbuka, sambil baca koran, sambil ngobrol,
sambil nonton televisi. 

Jadi saat mata aku nonton televisi, bila ada pikiran melintas aku
mencatatnya, seperti :melamun, sambil mengalihkan sejenak mata dari
televisi, plong melamun itu hilang, nonton lagi. Merencanakan, catat:
rencana, pusaran pikiran rencana itu melemah dan hilang, kembali ke
televisi. 

Terkadang kita seperti melihat dua hal pada saat bersamaan. Saat mata
menonton ke televisi tetapi batin kita melihat /merasakan proses
pikiran yang tercatat berputar lalu melemah. Kadang untuk
menyeimbangkan proses dalam batin, kepala aku bergerak pelan ke kiri
atau ke kanan 15 derajat seperti menoleh sesuatu di samping. Jadi saat
nonton televisi, televisi jadi objeck meditasi utamanya,hehe.

Proses pencatatan dalam batin ini sangat bermanfaat bagi pengendalian
diri, terutama saat mengobrol dengan umat maupun rekan biku supaya tak
hanyut dalam pikiran dan pembicaraan yang berkembang. Karena batin
yang terbiasa mencatat, aku cepat tersadar kemana pikiran atau ucapan
bergerak. 

Misalnya tanpa sadar pembicaraan menjurus ke arah benci atau iri,
biasanya sifat pembicaraan ini cepat tertangkap melalui kebiasaan
mencatat yang otomatis: Ini kebencian. Ini irihati, ini kesombongan, 
sehingga aku cepat mengerem pembicaraan.

Ringkasnya pencatatan pikiran membantu kesadaran akan hadirnya
akar-akar kejahatan yang bersifat sangat halus, seperti kebencian,
keangkuhan, keserakahan, nafsu dan irihati, yang bisa menciptakan
karma buruk melalui pikiran, ucapan dan perbuatan. untuk kemudian
sadar dan tak melanjutkan.

Jadi kini dari segi wajah, menurut aku sendiri, tampaknya aku lebih
bahagia, hehe. Ups, ini keangkuhan, hehe lagi. 

Sambil menonton televisi, baca koran terkadang makan ubi berteman
secangkir teh aku mengamati proses yang berlangsung dalam batin datang
dan pergi. Tuing muncul pikiran, tuing pikiran itu menjadi lemah,
tuing muncul lagi, tuing lemah lagi. Tuing tuing tuing, terkadang
prosesnya cepat sekali, tapi kadang juga lambat sekali. 

Ketika World Buddhist Summit yang berlansung sekitar 2 minggu
berakhir, aku melanjutkan perjalanan ke Panditarama Forest Monastry. 

Sedangkan Yang Mulia Bhante Nyanasuryanadi Mahathera yang sangat
rendah hati harus segera ke Indonesia, tugasnya di Sangha Agung
Indonesia dan dosen di IIAB Smara Tunggal Ampel, Boyolali telah menanti.


Batavia, 05 Februari 2009 (05:17 am)

Harpin.


Kirim email ke