---------- Forwarded message ---------- From: [email protected] <[email protected]> Date: 2009/2/5 Subject: Remembrance of Shikung Shengyen (2): orang baik, bijak, bahagia: NO FEAR To: ramu dharmajala <[email protected]>, " [email protected]" <[email protected]> Cc: tony dharmawan <[email protected]>, ZiHao Chen < [email protected]>, Chang Tho Shi <[email protected]>, Nyanagupta <[email protected]>, Yenny <[email protected]>, siwu < [email protected]>, Liana chia <[email protected]>, Juliani < [email protected]>, Merita123 <[email protected]>, " [email protected]" <[email protected]>, Tonny Chua <[email protected]>, yessy ayu <[email protected]>, Wilis Rengganiasih <[email protected]>, sanjaya <[email protected]>, ekayana <[email protected]>, Sri Lestari < [email protected]>, Susi <[email protected]>, "[email protected]" <[email protected]>, Aphin DJ <[email protected]>, Suhendra Sulistyo < [email protected]>
Orang yang Baik, Bijak, dan Bahagia Ketika terkenang Shikung Shengyen, hal pertama yang seketika teringat bagi saya adalah beliau itu orang yang baik, bijak dan bahagia. Saya tidak terlalu ingat soal meditasi yang tinggi-tinggi, soal *huatou*, silent illumination (*mochao*), samatha vs vipashyana, jhana vs non-jhana, samadhi, etc. Seketika yang teringat bagi saya adalah kwalitas pribadi beliau, yakni: good-heart, wise, and happy. Hal yang paling saya syukuri dari perjumpaan saya dengan beliau adalah 3 kwalitas tadi. Saya bersyukur sedalam-dalamnya pernah melihat dengan mata-kepala sendiri bahwa di dunia ini ada makhluk hidup beneran berdarah daging yang punya hati baik, bijaksana, dan berbahagia. Saya bersyukur bisa menyaksikan wujud nyata (*embodiment*) dari kebaikan, kebijaksanaan, dan kebahagiaan. Saya bersyukur menyaksikan bahwa bahagia, bijaksana, dan baik itu sungguh ada, sungguh mungkin. Orang besar, mahaguru meditasi, Ch'an Master tercerahkan, murid-murid di seantero dunia, Amerika, Eropa, Asia, Australia, organisasi besar & karya-karya raksasa, kok aspek yang dikenang cuma baik, bijak, hepi? Kok remeh? Bagi saya urusan ini sungguh serius, bukan urusan sepele. Bila melakukan kilas balik hidup saya, sbb: Masa kanak-kanak: Orangtua saya adalah orang-orang baik, mereka sangat menyayangi kami. Keluarga saya baik--tentu saja mereka punya keburukannya tersendiri, sebagaimana orang-oranglain. Namun mereka simply tidak paham kenapa mereka baik, sebagaimana juga mengapa mereka buruk. Bahkan, di kebanyakan waktu, mereka tidak paham benar mana yang baik mana yang buruk. Ketika berinteraksi dengan family di luar orangtua kami, yang saya jumpai lebih banyak keburukan. Jika disuruh mengingat-ingat kebajikan apa yang pernah saya saksikan di sekitar paman, bibi ..., eh, apa ya? Bahkan sampai sekarang jika ada event, resepsi atau layatan, jumpa keluarga, paman-bibi, [nyaris] tidak ada kebajikan. Sungguh sayang sekali mereka semua sudah tua-tua, atau malah sudaah wafat, andai saya punya kesempatan [kenal Dharma] dulu-dulu, mungkin saya akan ajukan pertanyaan ini, "*Eh mPek, Cek, Ko, Ik, engKu, Em, sepupu, contoh kebajikan apa ya yg kalian boleh tunjukkan ke kami-kami yang lebih muda?*" Ketika memasuki usia TK, SD, SMP, sekolah saya kwalitasnya buruk. Kawan-kawan seangkatan saya kebanyakan anak-anak etnik Cina yang orangtuanya tidak berpendidikan. Lebih banyak yang brengsek ketimbang yang baik. Dengan demikian dunia bagi saya adalah tempat yang menakutkan dan menyedihkan. Saya, sebagaimana kawan-kawan saya, menjadi anak brengsek: kebut-kebutan, ugal-ugalan, disco, berkelahi, dst. Sekarang saya baru menyadari bahwa kami menjadi brengsek, simply *because we were afraid and sad*. Orang brengsek adalah orang yang sedih dan ketakutan. Kami ugal-ugalan karena simply karena gila perhatian, ingin membuktikan bahwa diri kami adalah something, atau berusaha menumpulkan indra-indra kami dengan *gelek* atau aktifitas-aktifitas yang exciting, atau menjojoh raga dengan segala macam kenikmatan yang strong, simply because we did not want to perceive this too painful life. Di masa SMA saya beruntung sempat melihat hal-hal yang baik di sekolah Jesuit kami. Namun itu tidaklah terlalu lama, ketika memasuki dunia kerja, lingkungan bisnis kembali mengajarkan kepada saya bahwa dunia ini adalah tempat yang menyedihkan dan menakutkan. Kamu makan-orang atau dimakan, nge-* ciak* atau di-*ciak*. Sehingga ketika masih ada kesempatan, desperately, segera reguk segala nikmat dunia semaksimal kamu bisa. ... Beruntung saya mulai kenal Dharma sekian belas tahun yang lalu. Namun kenal Dharma tidaklah terlalu bermanfaat apabila ternyata di lingkungan buddhist, di lingkungan vihara, pun apa yang Anda alami dan saksikan adalah juga sejenis dunia yang "menyedihkan dan menakutkan", "nge-*ciak* atau di-*ciak* ." Jadi, dalam konteks inilah saya sungguh bersyukur, pernah menyaksikan dengan matakepala sendiri bahwa, eh, di dunia ini, ada *lho* modus yang lain dari jenis modus menyedihkan-dan-menakutkan. Ada, saya saksikan nyata-nyata, daging-dan-darah beneran, bukan patung, pada diri pribadi Shifu Shengyen. Dengan demikian hidup saya tak perlu berakhir selama-lamanya dalam modus-operandi sedih-dan-takut, nge-*ciak* atau di-*ciak*. Apabila ada orang menganggap saya berlebihan, mohon coba perhatikan baik-baik, diri Anda sendiri, oranglain, interaksi orang-orang, bagaimanakah modus beroperasinya hati Anda? modus-operandi interaksi orang-orang? Dimulai dari yang paling dekat, ketika ada interaksi orang-orang [misal di milis-milis?], bagaimana modus-nya? Apakah modus kesedihan-dan-ketakutan--dengan demikian orang butuh untuk membuktikan bahwa diri-nya sebagai* something*, butuh merendahkan, menyalahkan oranglain; merasa lebih enak kalau lebih-benar-dari oranglain--atau modus hati yang hepi, baik, bijak? Bagaimana di dunia kerja? Di antara kawan-kawan? Antar keluarga dekat? Keluarga jauh? Apakah topik yang paling hot? Why? Apa yang mendorong orang bicara?---Kesedihan & ketakutan [kesepian, kegatalan, dst] atau kebahagiaan, kepenuhan, keberlimpahan, kearifan? Saya bersyukur mendalam bahwa saya boleh menjalani sisa hidup saya dengan tidak lagi percaya dengan takhyul bahwa seluruh dunia ini mengancam saya, sehingga *my self defense mechanism* tidak harus pada posisi ON. Menurut hemat saya adalah sangat penting bagi kita untuk mengenalkan dan menemani anak-anak kita, terutama yang masih kecil, bahwa ada modus-operasi hati yang boleh baik, bijak dan hepi. Buddhist, tidak buddhist, Mahayana, Theravada, Vajrayana, tidaklah terlalu penting atau kalah penting dengan urusan ini. Meski buddhist, tapi kalau modusnya adalah ketakutan-dan-kesedihan, tidak pede, takut kehilangan umat, takut jalan sendirian, sehingga girang jika bisa menaklukkan atau meng-convert orang ... Kasihan ... Bertahun-tahun saya merenungkan, kenapa di Sutra Hati dikatakan, *Having no obstructions in their minds, there is NO FEAR.* Belakangan saya baru menyadari bahwa modus-operasi manusia yang belum tercerahkan itu semuanya pada dasarnya adalah FEAR. Deep gratitude to Shikung Shengyen, grateful, humbly grateful. Namo Kuan She Yin Pusa. deep humbly bow, agus [Non-text portions of this message have been removed]
