--- On Wed, 2/18/09, Juan Ek Halim <[email protected]> wrote:
From: Juan Ek Halim <[email protected]>
Subject: Kisah Sebotol Minyak
To: 
Date: Wednesday, February 18, 2009, 6:25 PM

Kisah Sebotol Minyak



Seorang ibu menyuruh seorang anaknya membeli sebotol penuh minyak. Ia 

memberikan sebuah botol kosong dan uang sepuluh rupee. Kemudian anak itu 

pergi membeli

apa yang diperintahkan ibunya. Dalam perjalanan pulang, ia terjatuh. Minyak 

yang ada di dalam botol itu tumpah hingga separuh. Ketika mengetahui 

botolnya

kosong separuh, ia menemui ibunya dengan menangis,



"Ooo. saya kehilangan minyak setengah botol! Saya kehilangan minyak setengah 

botol!"



Ia sangat bersedih hati dan tidak bahagia. Tampaknya ia memandang kejadian 

itu secara negatif dan bersikap pesimis.



Kemudian, ibu itu menyuruh anaknya yang lain untuk membeli sebotol minyak. 

Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh rupee lagi. Kemudian anaknya 

pergi.



Dalam perjalanan pulang, ia juga terjatuh. Dan separuh minyaknya tumpah. Ia 

memungut botol dan mendapati minyaknya tinggal separuh. Ia pulang dengan 

wajah

berbahagia. Ia berkata pada ibunya,



"Ooo. ibu saya tadi terjatuh. Botol ini pun terjatuh dan minyaknya tumpah. 

Bisa saja botol itu pecah dan minyaknya tumpah semua. Tapi, lihat, saya 

berhasil

menyelamatkan separuh minyak." Anak itu tidak bersedih hati, malah ia tampak 

berbahagia. Anak ini tampak bersikap optimis atas kejadian yang menimpanya.



Sekali lagi, ibu itu menyuruh anaknya yang lain untuk membeli sebotol 

minyak.



Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh rupee. Anaknya yang ketiga pergi 

membeli minyak. Sekali lagi, anak itu terjatuh dan minyaknya tumpah. Ia 

memungut

botol yang berisi minyak separuh dan mendatangi ibunya dengan sangat 

bahagia. Ia berkata,



"Ibu, saya menyelamatkan separuh minyak."



Tapi anaknya yang ketiga ini bukan hanya seorang anak yang optimis. Ia juga 

seorang anak yang realistis. Dia memahami bahwa separuh minyak telah tumpah,

dan separuh minyak bisa diselamatkan. Maka dengan mantap ia berkata pada 

ibunya,



"Ibu, aku akan pergi ke pasar untuk bekerja keras sepanjang hari agar bisa 

mendapatkan lima rupee untuk membeli minyak setengah botol yang tumpah. Sore

nanti saya akan memenuhi botol itu."



Kita bisa memandang hidup dengan kacamata buram, atau dengan kacamata yang 

terang. Namun, semua itu tidak bermanfaat jika kita tidak bersikap realistis

dan mewujudkannya dalam bentuk KERJA.












      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke