--- On Mon, 3/2/09, Juan Ek Halim <[email protected]> wrote:
From: Juan Ek Halim <[email protected]>
Subject: Kebahagiaan Ada Dimana-Mana
To:
Date: Monday, March 2, 2009, 6:16 PM



Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak
termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya.
Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun
titik yang membuatnya puas. Kekosongan makin senyap, sampai ada suara
yang menyapanya. Ada orang lain disana. “Sedang apa kau disini anak
muda?��?tanya seseorang. Rupanya ada seorang kakek tua. “Apa yang kau
risaukan..?��?Anak muda itu menoleh ke samping, “Aku lelah Pak Tua.
Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun
tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku.
Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda
kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku harus mencarinya?
Bilakah kutemukan rasa itu?��?Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan 
dengan penuh perhatian.
Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, “di depan
sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu,
tangkaplah seekor kupu-kupu buatku. Mereka berpandangan. “Ya…tangkaplah
seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu��?sang Kakek mengulang
kalimatnya lagi. Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu
arah, taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman itu.
Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang
bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Sang
kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat
pemuda yang sedang gelisah itu. Anak muda itu mulai bergerak. Dengan
mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap!
sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau
kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal.
Ia mulai berlari tak beraturan. Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya
rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya
semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar. Adegan itu terus
berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang
pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun
dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, “Hentikan dulu anak muda.
Istirahatlah. ��?Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi
lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri
kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua
itu.
“Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang?
Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau
rusak?��?Sang Kakek menatap pemuda itu. “Nak, mencari kebahagiaan itu
seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan
menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu.��?“Namun, 
tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan
itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau
simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam
kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari
kebahagiaan itu sering datang sendiri.��?Kakek Tua itu mengangkat
tangannya.
Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari.
Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan. Pesonanya 
begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun
perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu
indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya. Mencari
kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka
yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang
mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini,
menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya.
Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh
penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti
menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya. Namun
kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan
cara-cara seperti itu.
Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam
atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan
adalah aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada
dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan
pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula
kebahagiaan itu akan menjauh. Cobalah temukan kebahagiaan itu dalam
hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita.
Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan.
Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita. Dalam
sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia
itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita.
Percayalah, kebahagiaan itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar
kita. Bahkan mungkin, bahagia itu “hinggap��?di hati kita, namun kita
tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di
sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.

Kirim email ke