--- On Mon, 3/2/09, Juan Ek Halim <[email protected]> wrote:
From: Juan Ek Halim <[email protected]>
Subject: Artikel: Biarkan Roda Kehidupan Itu Terus Berputar
To: 
Date: Monday, March 2, 2009, 6:40 PM


Hore,

Hari Baru!

Teman-teman.



Salah satu frase paling populer dilingkungan kita berbunyi;"belajar 

sepanjang hayat."  Jika kita terlalu berfokus kepada pelajaran 

formal, tentu frase itu tidak akan relevan. Namun, jika kita meyakini 

bahwa proses belajar itu bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, 

maka kita tidak akan pernah kehilangan momentum untuk bisa belajar 

dan meningkatkan diri. Tetapi, apakah proses belajar itu bisa 

dilakukan dalam 'situasi apapun'? Kelihatannya memang demikian. Dalam 

situasi sulit sekalipun? Betul. Sesulit apapun? Nampaknya begitu. 



Saya teringat dengan sepeda pertama yang saya miliki dimasa kecil. 

Ketika mendapatkan sepeda itu, saya belum benar-benar bisa bersepeda. 

Sehingga ketika sepeda itu tiba dirumah, pada awalnya saya hanya bisa 

menatapnya saja. Rasa senang dan takut bercampur aduk. Lalu, 

berkembanglah itu menjadi antsusiasme dan kenekatan. Antusias karena 

senang, nekat karena sebenarnya belum bisa bersepeda. Walhasil, hal 

paling mudah dikenang dari masa-masa awal belajar bersepeda itu 

adalah ketika sepeda saya tidak bisa dikendalikan hingga menabrak box 

penjual rokok dipinggir jalan. Lecet disikut kiri kanan, ditambah 

omelan dari sang pedagang tidak bisa menghentikan kenekatan itu. 

Diulangi lagi. Dan ndilalah, lha kok setelah nabrak itu saya menjadi 

lancar bersepeda.  



Saya yakin, anda memiliki pengalaman serupa itu ketika belajar 

bersepeda. Dan sekarang, kita semua sudah sangat mahir melakukannya. 

Cobalah anda bayangkan; apa jadinya kita seandainya dulu, kita 

langsung berhenti setelah terjatuh? Tentu kita tidak akan pernah 

mahir naik sepeda. Mengapa? Karena setelah kejatuhan yang menyakitkan 

itu, kita tidak mau mencoba memulainya kembali. 



Menurut pendapat anda, apakah hidup juga demikian?  Kelihatannya iya, 

ya. Dalam hidup pun, kadang kita terjatuh. Kita merasa sakit fisik. 

Sakit perasaan. Luka di badan. Dan luka kehormatan. Dan,  seperti 

bersepeda tadi; seandainya kita berhenti setelah mengalami jatuh dan 

luka-luka itu, mungkin kita tidak akan terampil lagi dalam mengarungi 

hidup. 



Dalam dunia nyata, kita menyaksikan betapa banyak orang yang benar-

benar terhenti oleh kegagalan hidup. Oleh jatuhnya bisnis mereka. 

Oleh berakhirnya kontrak kerja mereka. Dan setelah bertahun-tahun 

kemudian, mereka terus terkurung oleh perasaan marah dan kecewa. 

Lantas menumpahkan kemarahan itu kepada tindakan-tindakan yang kurang 

produktif, sehingga akhirnya mereka benar-benar kehilangan makna 

hidup. Padahal, mereka adalah orang-orang yang memiliki potensi diri 

yang begitu tinggi.



Dalam dunia nyata, kita juga menyaksikan betapa banyak orang yang 

begitu gigih dan tidak membiarkan dirinya dihentikan oleh cobaan 

hidup yang berkali-kali menimpanya. Ketika bisnisnya jatuh, mereka 

bangun lagi. Jatuh lagi, bangun lagi. Itulah sebabnya mereka tidak 

menyebut bisnisnya 'jatuh', melainkan 'jatuh-bangun' . Artinya, ketika 

terjatuh pun, mereka masih berusaha bangun lagi. Ketika perusahaan 

tempat mereka bekerja berkata;'we are sorry to tell you that we 

cannot keep you stay with us.....' tentu mereka kecewa. Tetapi, 

mereka tidak berhenti pada 'kecewa', karena segera setelah itu mereka 

meneruskan hidup dengan melakukan apa saja untuk memastikan roda 

kehidupannya terus berputar. Sehingga, meskipun mereka telah 

kehilangan pekerjaan itu; mereka menemukannya kembali. Bagaimana jika 

dengan semua usaha yang dilakukannya, mereka  tidak berhasil 

menemukannya kembali? Mereka belajar sesuatu dari 

ketidakberhasilanny a. Lalu mereka membuat pekerjaannya sendiri. 

Sehingga selalu ada pekerjaan yang bisa menjaga diri mereka tetap 

produktif.



Bagaimana mereka bisa setangguh itu? Sederhana; mereka percaya bahwa 

bahwa hidup selalu menyembunyikan pelajaran berharga. Dari perjalanan 

hidup mereka menemukan pelajaran untuk melanjutkan hidup. Dan, ketika 

secara konsisten mereka melakukan itu, mereka mendapati roda 

kehidupan terus berjalan. Dan semakin hari, mereka semakin terampil 

menjalaninya.



Hore,

Hari Baru!

Dadang Kadarusman


Business Administration & People Development 

Business Talk Setiap Jumat: 06.30-07.30 di 103.4 FM Day Radio 



Catatan Kaki: 

Kehidupan itu seperti sepeda; kita tidak akan pernah terjatuh, selama 

kita terus mengayuh.



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke