--- On Tue, 3/3/09, Juan Ek Halim <[email protected]> wrote:
From: Juan Ek Halim <[email protected]>
Subject: Jalan Kaki dan Manfaatnya Bagi Kesehatan
To:
Date: Tuesday, March 3, 2009, 8:32 PM
STUDI dalam beberapa tahun terakhir semakin mengukuhkan bahwa jalan kaki memang
memberi banyak manfaat bagi kesehatan kita. Inilah sembilan manfaat yang dapat
diperoleh dari
aktivitas jalan kaki.
(1) Serangan Jantung.
Pertama-tama tentu menekan risiko serangan jantung. Kita tahu otot jantung
membutuhkan aliran darah lebih deras (dari pembuluh koroner yang memberinya
makan) agar bugar dan berfungsi normal memompakan darah tanpa henti. Untuk itu,
otot jantung membutuhkan aliran darah yang lebih deras dan lancar. Berjalan
kaki tergopoh-gopoh memperderas aliran darah ke dalam koroner jantung. Dengan
demikian kecukupan oksigen otot jantung terpenuhi dan otot jantung terjaga
untuk bisa
tetap cukup berdegup.
Bukan hanya itu. Kelenturan pembuluh darah arteri tubuh yang terlatih menguncup
dan mengembang akan terbantu oleh mengejangnya otot-otot tubuh yang berada di
sekitar dinding pembuluh darah sewaktu melakukan kegiatan berjalan kaki
tergopoh-gopoh itu. Hasil akhirnya, tekanan darah cenderung menjadi lebih
rendah, perlengketan antarsel darah yang bisa berakibat gumpalan bekuan darah
penyumbat pembuluh juga akan
berkurang.
Lebih dari itu, kolesterol baik (HDL) yang bekerja sebagai spons penyerap
kolesterol jahat (LDL) akan meningkat dengan berjalan kaki tergopoh-gopoh.
Tidak banyak cara di luar obat yang dapat meningkatkan kadar HDL selain dengan
bergerak badan. Berjalan kaki tergopoh-gopoh tercatat mampu menurunkan risiko
serangan jantung menjadi tinggal separuhnya.
(2). Stroke.
Kendati manfaat berjalan kaki tergopoh-gopoh terhadap stroke pengaruhnya belum
senyata terhadap serangan jantung koroner, beberapa studi menunjukkan hasil
yang menggembirakan. Tengok saja bukti alami nenek-moyang kita yang lebih
banyak melakukan kegiatan berjalan kaki setiap hari, kasus stroke zaman dulu
tidak sebanyak sekarang. Salah satu studi terhadap 70 ribu perawat (Harvard
School of Public Health) yang dalam bekerja tercatat melakukan kegiatan
berjalan kaki sebanyak 20 jam dalam seminggu, risiko mereka terserang stroke
menurun duapertiga.
(3). Berat badan stabil.
Ternyata dengan membiasakan berjalan kaki rutin, laju metabolisme tubuh
ditingkatkan. Selain sejumlah kalori terbuang oleh aktivitas berjalan kaki,
kelebihan kalori yang mungkin ada akan terbakar oleh meningkatnya metabolisme
tubuh, sehingga kenaikan berat badan tidak terjadi.
(4). Menurunkan berat badan.
Ya, selain berat badan dipertahankan stabil, mereka yang mulai kelebihan berat
badan, bisa diturunkan dengan melakukan kegiatan berjalan kaki tergopoh-gopoh
itu secara rutin. Kelebihan gajih di bawah kulit akan dibakar bila rajin
melakukan kegiatan berjalan kaki cukup laju paling kurang satu jam.
(5). Mencegah kencing manis.
Ya, dengan membiasakan berjalan kaki melaju sekitar 6 km per jam, waktu tempuh
sekitar 50 menit, ternyata dapat menunda atau mencegah berkembangnya diabetes
Tipe 2, khususnya pada mereka yang bertubuh gemuk (National Institute of
Diabetes and Gigesive & Kidney Diseases).
Sebagaimana kita tahu bahwa kasus diabetes yang bisa diatasi tanpa perlu minum
obat, bisa dilakukan dengan memilih gerak badan rutin berkala. Selama gula
darah bias terkontrol hanya dengan cara bergerak badan (brisk walking), obat
tidak diperlukan. Itu berarti bahwa berjalan kaki tergopoh-gopoh sama
manfaatnya dengan obat antidiabetes.
(6). Mencegah osteoporosis.
Betul. Dengan gerak badan dan berjalan kaki cepat, bukan saja otot-otot badan
yang diperkokoh, melainkan tulang-belulang juga. Untuk metabolisme kalsium,
bergerak badan diperlukan juga, selain butuhpaparan cahaya matahari pagi. Tak
cukup ekstra kalsium dan vitamin D saja untuk mencegah atau memperlambat proses
osteoporosis. Tubuh juga membutuhkan gerak badan dan memerlukan waktu paling
kurang 15 menit terpapar matahari pagi agar terbebas dari ancaman osteoporosis.
Mereka yang melakukan gerak badan sejak muda, dan cukup mengonsumsi kalsium,
sampai usia 70 tahun diperkirakan masih bisa terbebas dari ancaman pengeroposan
tulang.
(7). Meredakan encok lutut.
Lebih sepertiga orang usia lanjut di Amerika mengalami encok lutut
(osteoarthiris). Dengan membiasakan diri berjalan kaki cepat atau memilih
berjalan di dalam kolam renang, keluhan nyeri encok lutut bias mereda. Untuk
mereka yang mengidap encok lutut, kegiatan berjalan kaki perlu dilakukan
berselang-seling, tidak setiap hari. Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada
sendi untuk memulihkan diri. Satu hal yang perlu diingat bagi pengidap encok
tungkai atau kaki: jangan keliru memilih sepatu olahraga. Kita tahu, dengan
semakin bertambahnya usia, ruang sendi semakin sempit, lapisan rawan sendi kian
menipis, dan cairan ruang sendi sudah susut. Kondisi sendi yang sudah seperti
itu perlu dijaga dan dilindungi agar tidak mengalami goncangan yang berat oleh
beban bobot tubuh, terlebih pada yang gemuk.
Bila bantalan (sol) sepatu olahraganya kurang empuk, sepatu gagal berperan
sebagai peredam goncangan (shock absorber). Itu berarti sendi tetap mengalami
beban goncangan berat selama berjalan, apalagi bila berlari atau melompat. Hal
ini yang memperburuk kondisi sendi, lalu mencetuskan serangan nyeri sendi atau
menimbulkan penyakit sendi pada mereka yang berisiko terkena gangguan sendi.
Munculnya nyeri sendi sehabis melakukan kegiatan berjalan kaki, bisajadi
lantaran keliru memilih jenis sepatu olahraga. Sepatu bermerek menentukan
kualitas bantalannya, selain kesesuaian anatomi kaki.
Kebiasaan berjalan kaki tanpa alas kaki, bahkan di dalam rumah sekalipun, bisa
memperburuk kondisi sendi-sendi tungkai dan kaki, akibat beban dan goncangan
yang harus dipikul oleh sendi.
(8) Depresi.
Ternyata bergerak badan dengan berjalan kaki cepat juga membantu pasien dengan
status depresi. Berjalan kaki tergopoh-gopoh bias menggantikan obat
antidepresan yang harus diminum rutin. Studi ihwal terbebas dari depresi dengan
berjalan kaki sudah dikerjakan lebih 10 tahun.
(9). Kanker juga dapat dibatalkan muncul bila kita rajin berjalan kaki,
setidaknya jenis kanker usus besar (colorectal carcinoma).
Kita tahu, bergerak badan ikut melancarkan peristaltik usus, sehingga buang air
besar lebih tertib. Kanker usus dicetuskan pula oleh tertahannya tinja lebih
lama di saluran pencernaan. Studi lain juga menyebutkan peran berjalan kaki
terhadap kemungkinan penurunan risiko terkena kanker payudara.
Semoga bermanfaat.
[Non-text portions of this message have been removed]