--- On Tue, 3/3/09, Juan Ek Halim <[email protected]> wrote:
From: Juan Ek Halim <[email protected]>
Subject: APA YANG MAU KITA SOMBONGKAN?
To:
Date: Tuesday, March 3, 2009, 6:18 PM
Seorang
pria yang bertamu ke rumah Seorang Suhu tertegun keheranan.
Dia
melihat Sang Suhu sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember
dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras.
Menyaksikan
keganjilan ini orang itu bertanya, "Apa yang sedang Anda lakukan?"
Sang
Suhu menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta
nasihat.
Saya
memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka.
Mereka
pun tampak puas sekali.
Namun,
setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat.
Kesombongan
saya mulai bermunculan.
Karena
itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya."
Sombong
adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu
kerap muncul tanpa kita sadari.
Di
tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih
kaya, lebih rupawan, lebih berkuasa, lebih tinggi pangkatnya dan lebih
terhormat daripada orang lain.
Di
tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih
pintar, lebih hebat, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang
lain.
Di
tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap
diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan
orang lain.
Yang
menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita
mendeteksinya.
Sombong
karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi
sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk
benih-benih halus di dalam batin kita.
Akar
dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan.
Pada
tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri
(self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua
hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat
dengan kesombongan.
Batas
antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.
Kita
sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati
di lain kutub.
Pada
saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa.
Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih
dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu
mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.
Perjalanan
hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang
memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian
(ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.
Perjuangan
melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa
melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang
perlu kita lakukan.
Pertama,
kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik saja,
tetapi
makhluk spiritual juga. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh
fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan
tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan
seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal.
Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala "tampak
luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak dalam".
Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan
atau ilusi ego.
Kedua,
kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya
itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu
kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.
Dalam
hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia
tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang
lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk
persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam.
Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat
baik kepada diri kita sendiri.
Kalau
begitu, apa yang mau kita sombongkan?
[Non-text portions of this message have been removed]