Surga dan Neraka


Oleh : Ajahn Brahm

Ada sebuah cerita tentang seorang pendekar samurai yang ingin
mengetahui apa pandangan Buddhisme tentang surga dan neraka, apakah
surga dan neraka itu benar-benar ada atau tidak. Dia sudah berkelana ke
mana-mana mencari jawabannya, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa
memberikan jawaban yang memuaskan dirinya. 



Tetapi pada suatu hari, dia bertemu dengan seorang rahib tua. Pendekar
ini berkata, "Rahib, saya sudah bertanya kepada begitu banyak orang
tentang hal ini, tetapi saya belum menemukan jawaban yang memuaskan
saya. Saya ingin bertanya kepada anda, apakah surga dan neraka itu
benar-benar ada ?" "Jika anda benar-benar mengetahuinya, tolong
jawablah. Tetapi jika anda tidak tahu, jangan buang-buang waktu saya,
bilang saja anda tidak tahu !" ujar pendekar itu lagi. Lalu rahib tua
ini memandang wajah si pendekar dan berkata, "Kamu itu terlalu bodoh
untuk bisa memahaminya !" Si pendekar pun menjawab, "Saya tidak bodoh,
karena saya adalah seorang pendekar samurai ! Saya tidak hanya berlatih
ilmu bela diri saja, tetapi saya juga berlatih meditasi dan
mengembangkan kepribadian yang luhur. Jadi sekali lagi saya tidak
bodoh, karena saya adalah seorang pendekar samurai !" 



Sang rahib kemudian memandangi si pendekar itu lagi dan sambil
tersenyum mengejek dia berkata, "Hihihi, kamu, samurai ? Jangan
mengada-ada, kamu itu cuma seorang yang bodoh, seorang pemuda kampung.
Tidak lebih !" Si pendekar pun tidak bisa menahan amarahnya lagi dan
berteriak, "Sudah dua kali kamu melecehkan saya !" Dan sambil menghunus
pedang samurainya, dia berkata, "Hei rahib tua, saya peringatkan jika
sekali lagi kamu menghina saya, saya akan memenggal kepalamu dengan
sekali tebas, tidak perduli siapa pun kamu!" "Coba saja kalau bisa,
dasar bodoh tengik tidak tahu diri ! Kamu bahkan takkan bisa memotong
roti dengan pedangmu itu !" ejek si rahib tua ini lagi. 



Dan itu sudah lebih dari cukup. Si pendekar samurai sudah dihina
sebanyak tiga kali. Dan kemudian dengan berapi-api dia mengangkat
pedangnya dan mengayunkannya ke arah sang rahib. Dan tepat ketika ujung
pedangnya hampir menyentuh lehernya, seketika itu juga sang rahib
melihat tepat ke mata si pendekar dan berkata, "Pendekar, itulah yang
disebut neraka." Si pendekar pun terpana untuk beberapa saat, sebelum
akhirnya dia tersadar. Dia akhirnya memahami maksud dari kata-kata sang
rahib, bahwa kemarahanlah yg bisa menggambarkan seperti apa sebenarnya
neraka itu. Jawaban yg selama ini dia cari-cari telah dia temukan. Dia
begitu bahagia dan kagum kepada rahib tua tersebut. Sambil meneteskan
air mata, dia pun meletakkan pedangnya dan berlutut di hadapan rahib
itu sebagai ungkapan hormat dan rasa terima kasihnya. Melihat hal ini,
sang rahib kemudian berkata, "Dan sekarang pendekar, inilah yang
dinamakan surga...." *******







Sumber : Buddhist Society Of Western Australia (http://www.bswa.org)
                
                

                

                
                

                
                
                        
                                __________________

                                YO DHAMMAM DESESI ADIKALYANAM MAJJHEKALYANAM 
PARIYOSANAKALYANAM TI



Dhamma itu indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya
                        


      Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger. Tambahkan mereka dari 
email atau jaringan sosial Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke