Di perusahaan saya bekerja, benar-benar terjadi, ada 2 tipe orang (level 
engineer):
1. Orang yang pintar dalam teori
2. Orang yang pintar dalam teori dan praktek

Orang yang pintar dalam teori, sehari-sehari hanya bisa bicara tentang 
dalil-dalil yang didapat ketika sekolah. Ketika diminta untuk melakukan sebuah 
pekerjaan hanya bisa senyum tanpa hasil. Senyum untuk menutupi kebodohannya.

Orang yang pintar dalam teori dan praktek, rasanya tidak perlu dijelaskan. 

--- On Wed, 3/4/09, Budiman Sudharma ,S.H. <[email protected]> wrote:
From: Budiman Sudharma ,S.H. <[email protected]>
Subject: [MABINDO] Surga dan Neraka - Oleh : Ajahn Brahm
To: [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected],
 [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected]
Date: Wednesday, March 4, 2009, 11:27 PM











    
            Surga dan Neraka



Oleh : Ajahn Brahm



Ada sebuah cerita tentang seorang pendekar samurai yang ingin

mengetahui apa pandangan Buddhisme tentang surga dan neraka, apakah

surga dan neraka itu benar-benar ada atau tidak. Dia sudah berkelana ke

mana-mana mencari jawabannya, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa

memberikan jawaban yang memuaskan dirinya. 



Tetapi pada suatu hari, dia bertemu dengan seorang rahib tua. Pendekar

ini berkata, "Rahib, saya sudah bertanya kepada begitu banyak orang

tentang hal ini, tetapi saya belum menemukan jawaban yang memuaskan

saya. Saya ingin bertanya kepada anda, apakah surga dan neraka itu

benar-benar ada ?" "Jika anda benar-benar mengetahuinya, tolong

jawablah. Tetapi jika anda tidak tahu, jangan buang-buang waktu saya,

bilang saja anda tidak tahu !" ujar pendekar itu lagi. Lalu rahib tua

ini memandang wajah si pendekar dan berkata, "Kamu itu terlalu bodoh

untuk bisa memahaminya !" Si pendekar pun menjawab, "Saya tidak bodoh,

karena saya adalah seorang pendekar samurai ! Saya tidak hanya berlatih

ilmu bela diri saja, tetapi saya juga berlatih meditasi dan

mengembangkan kepribadian yang luhur. Jadi sekali lagi saya tidak

bodoh, karena saya adalah seorang pendekar samurai !" 



Sang rahib kemudian memandangi si pendekar itu lagi dan sambil

tersenyum mengejek dia berkata, "Hihihi, kamu, samurai ? Jangan

mengada-ada, kamu itu cuma seorang yang bodoh, seorang pemuda kampung.

Tidak lebih !" Si pendekar pun tidak bisa menahan amarahnya lagi dan

berteriak, "Sudah dua kali kamu melecehkan saya !" Dan sambil menghunus

pedang samurainya, dia berkata, "Hei rahib tua, saya peringatkan jika

sekali lagi kamu menghina saya, saya akan memenggal kepalamu dengan

sekali tebas, tidak perduli siapa pun kamu!" "Coba saja kalau bisa,

dasar bodoh tengik tidak tahu diri ! Kamu bahkan takkan bisa memotong

roti dengan pedangmu itu !" ejek si rahib tua ini lagi. 



Dan itu sudah lebih dari cukup. Si pendekar samurai sudah dihina

sebanyak tiga kali. Dan kemudian dengan berapi-api dia mengangkat

pedangnya dan mengayunkannya ke arah sang rahib. Dan tepat ketika ujung

pedangnya hampir menyentuh lehernya, seketika itu juga sang rahib

melihat tepat ke mata si pendekar dan berkata, "Pendekar, itulah yang

disebut neraka." Si pendekar pun terpana untuk beberapa saat, sebelum

akhirnya dia tersadar. Dia akhirnya memahami maksud dari kata-kata sang

rahib, bahwa kemarahanlah yg bisa menggambarkan seperti apa sebenarnya

neraka itu. Jawaban yg selama ini dia cari-cari telah dia temukan. Dia

begitu bahagia dan kagum kepada rahib tua tersebut. Sambil meneteskan

air mata, dia pun meletakkan pedangnya dan berlutut di hadapan rahib

itu sebagai ungkapan hormat dan rasa terima kasihnya. Melihat hal ini,

sang rahib kemudian berkata, "Dan sekarang pendekar, inilah yang

dinamakan surga...." *******



Sumber : Buddhist Society Of Western Australia (http://www.bswa. org)

                

                



                



                

                



                

                

                        

                                ____________ ______



                                YO DHAMMAM DESESI ADIKALYANAM MAJJHEKALYANAM 
PARIYOSANAKALYANAM TI



Dhamma itu indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya

                        



Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger. Tambahkan mereka dari email 
atau jaringan sosial Anda sekarang! http://id.messenger .yahoo.com/ invite/



[Non-text portions of this message have been removed]




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke