--- On Thu, 3/5/09, Juan Ek Halim <[email protected]> wrote:
From: Juan Ek Halim <[email protected]>
Subject: Rumah Seribu Kaca
To:
Date: Thursday, March 5, 2009, 6:13 PM
Di sebuah desa kecil, ada sebuah rumah yang dikenal dengan nama "Rumah
Seribu Cermin.
" Suatu hari seekor anjing kecil sedang berjalan-jalan di desa itu dan
melintasi "Rumah Seribu Cermin".
Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa
yang ada di dalamnya. Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga
rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi,
ekornya bergerak-gerak secepat mungkin. Betapa terkejutnya ia ketika
masuk ke dalam rumah, ia melihat ada seribu wajah ceria anjing-anjing
kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat. Ia tersenyum lebar, dan
seribu wajah anjing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar, hangat
dan bersahabat. Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada
dirinya sendiri, "Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu saat saya akan
kembali mengunjunginya sesering mungkin."
Sesaat setelah anjing itu pergi, datanglah anjing kecil yang lain.
Namun, anjing yang satu ini tidak seceria anjing yang sebelumnya. Ia juga
memasuki rumah itu. Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk
melalui pintu. Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu
wajah anjing kecil yang muram dan tidak bersahabat. Segera saja ia
menyalak keras-keras, dan dibalas juga dengan seribu gonggongan yang
menyeramkan. Ia merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata
pada dirinya sendiri, "Tempat ini sungguh menakutkan, saya takkan
pernah mau kembali ke sini lagi."
Seringkali gambaran atau kesan tentang wajah yang ada di dunia ini, yang kita
lihat ... adalah cermin gambaran dan kesan dari wajah kita sendiri.
Kalau kita mengesankan keramahan, maka dunia akan tampak ramah... Kalau dunia
terasa suram, mungkin itu karena kesan yang kita berikan..
[Non-text portions of this message have been removed]