--- On Sat, 3/7/09, Juan Ek Halim <[email protected]> wrote:
From: Juan Ek Halim <[email protected]>
Subject: Nikmati Kopinya Bukan Cangkirnya
To:
Date: Saturday, March 7, 2009, 7:57 PM
Sekelompok alumni satu universitas yang telah mapan dalam karir
masing-masing berkumpul dan mendatangi professor kampus mereka yang
telah tua. Percakapan segera terjadi dan mengarah pada keluhan tentang
stress di pekerjaan dan kehidupan mereka..
Menawari tamu-tamunya kopi, professor pergi ke dapur dan kembali
dengan porsi besar berisi kopi dan cangkir berbagai jenis dari
porselin, plastic, gelas kristal, gelas biasa, beberapa di antaranya
gelas mahal dan beberapa lainnya sangat indah, dan mengatakan pada para
mantan mahasiswanya untuk menuang sendiri kopinya…
Setelah semua mahasiswanya mendapat secangkir kopi di tangan,
professor itu mengatakan : “Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang
indah dan mahal telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan
murah saja. Meskipun normal bagi kalian untuk mengingini hanya yang
terbaik bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber
masalah dan stress yang kalian alami.”
Pastikan bahwa cangkir itu sendiri tidak
mempengaruhi kualitas kopi. Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal
dan dalam beberapa kasus, bahkan menyembunyikan apa yang kita minum.
Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukan cangkirnya,
namun kalian secara sadar mengambil cangkir terbaik dan kemudian mulai
memperhatikan cangkir orang lain.
Sekarang perhatikan hal ini : hati kita bagai kopi, sedangkan
pekerjaan, uang dan posisi adalah cangkirnya. Sering kali karena
berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal untuk menikmati kopi yang
disediakan bagi kita.
R e n u n g a n :
.. Kehidupan yang sesungguhnya adalah hati kita..
.. Apakah kita sudah merasa bahagia dan damai?
.. Apakah kita mencintai dan dicintai oleh keluarga, saudara dan teman-teman
kita?
.. Apakah kita tidak berpikir buruk tentang orang lain dan tidak gampang marah?
.. Apakah kita sudah sabar, murah hati, bersukacita karena kebenaran, sopan dan
tidak egois?
Hanya hati kita dan Tuhan
yang tahu.. Namun bila kita ingin menikmati kopi dan bukan cangkirnya,
hal-hal yang tidak semarak ini harus lebih mengendalikan kita ketimbang
hal-hal semarak seperti pekerjaan, uang dan posisi kita..
[Non-text portions of this message have been removed]