--- On Mon, 3/9/09, Juan Ek Halim <[email protected]> wrote:
From: Juan Ek Halim <[email protected]>
Subject: Hati-Hati Pada Dokter?
To: 
Date: Monday, March 9, 2009, 7:10 PM


ketika dokter indonesia sudah "menjual" hati nuraninya, kemanakah kita bila 
sakit? 

Regards,
Gendi J 



Billy N. <bi...@konsulsehat. web.id> 
reply-to        se...@yahoogroups. com 


to        e- Sehat <konsulsehat@ yahoogroups. com> 
date        Sat, Mar 7, 2009 at 10:48 AM 
subject        [sehat] hati-hati pada dokter? 



halo rekan-rekan. 
.. 
Ini
tulisan yang mungkin 'aneh', saya sebagai seorang dokter justru meminta
rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak
Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai 'caveat
venditor' (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah) . 

Ceritanya
begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam
berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di
salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk
UGD saya temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya
tunggui, jadi sangat saya tau perkembangan kondisinya. 

Abang
saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak
mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat,
nggak demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas. Mulai di UGD
sudah 'mencurigakan' , karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter
pada petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelas
an & pertanyaan dari dokter & perawat yang menurut saya
'menggelikan' . Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa
saya terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu. 

Ketika
Abang akan di-EKG, dia sudah mulai 'ribut' karena Desember lalu baru
tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan
bahwa itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus
disuntik obat Ranitidin (obat untuk penyakit lambung), padahal dia
nggak sakit lambung, & nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini
disuntikkan ketika saya ke mengantarkan sampel darah ke lab. 

Oleh
dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal
besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya
obatnya pasti ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat
untuk DBD. Jadi resep nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah
saya tanya ke teman yang praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia
rekomendasikan, katanya 'bagus & pintar', ditambah lagi dia dokter
tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu ada di RS. 

Malamnya
via telepon dokter penyakit dalam beri instruksi periksa lab
macam-macam, setelah saya lihat banyak yang 'nggak nyambung', jadi saya
minta Abang untuk hanya setujui sebagian yang masih rasional. 

Besoknya,
saya datang agak siang, dokter penyakit dalam sudah visite & nggak
komentar apapun soal pemeriksaan lab yang ditolak. Saya diminta perawat
untuk menebus resep ke apotek. Saya lihat resepnya, saya langsung
bingung, di resep tertulis obat Ondansetron  suntik, obat mual/muntah
untuk orang yang sakit kanker & menjalani kemoterapi. Padahal Abang
nggak mual apalagi muntah sama sekali. Tertulis juga Ranitidin suntik,
yang nggak perlu karena Abang nggak sakit lambung. Bahkan parasetamol
bermerek pun diresepkan lagi padahal Abang sudah ngomong kalau dia
sudah punya banyak. 

Saya
sampai cek di internet apa ada protokol baru penanganan DBD yang saya
lewatkan atau kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata nggak. Akhirnya
saya hanya beli suplemen vitamin aja dari resep. 

Pas
saya serahkan obatnya ke perawat, dia tanya 'obat suntiknya mana?',
saya jawab bahwa pasien nggak setuju diberi obat-obat itu. Perawatnya
malah seperti menantang, akhirnya dengan terpaksa saya beritau bahwa
saya dokter & saya yang merujuk pasien ke RS, Abang menolak
obat-obat itu setelah tanya pada saya. Malah saya dipanggil ke nurse
station & diminta tandatangani surat refusal consent (penolakan
pengobatan) oleh kepala perawat. 

Saya
beritau saja bahwa pasien 100% sadar, jadi harus pasien yang
tandatangani, itu pun setelah dijelaskan oleh dokternya langsung.
Sementara dokter saat visite nggak jelaskan apapun mengenai obat-obat
yang dia berikan. Saya tinggalkan kepala perawat tersebut yang
'bengong'. 

Saat
saya tunggu Abang, pasien di sebelah ranjangnya ternyata sakit DBD
juga. Ternyata dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal
& sudah 2 dipakai, padahal kondisi fisik & hasil lab nggak
mendukung dia ada infeksi bakteri. Pasien tersebut ditangani oleh
dokter penyakit dalam yang lain. Saat dokter penyakit dalam pasien
tersebut visite, dia hanya ngomong 'sakit ya?', 'masih panas?', 'ya
sudah lanjutkan saja dulu terapinya', visite nggak sampai 3 menit saya
hitung.
 

Besoknya
dokter penyakit dalam yang tangani Abang visite kembali & nggak
komentar apapun soal penolakan membeli obat yang dia resepkan. Dia
hanya ngomong bahwa kalau trombositnya sudah naik maka boleh pulang.
Saya jadi membayangkan nggak heran Ponari dkk laris, karena dokter pun
ternyata pengobatannya nggak rasional. Kasihan banyak pasien yang
terpaksa diracun oleh obat-obat yang nggak diperlukan & dibuat
'miskin' untuk membeli obat-obat yang mahal tersebut. Ini belum
termasuk dokter ahli yang sudah 'dibayar' cukup mahal ternyata nggak
banyak menjelaskan pada pasien 
sementara kadang kala keluarga sengaja berkumpul & menunggu berjam-jam hanya 
untuk menunggu dokter visite. 



Abang
sampai ngomong bahwa apa semua pasien harus ditunggui oleh saudaranya
yang dokter supaya nggak dapat pengobatan sembarangan? Abang juga
merasa bersyukur nggak jadi diberi berbagai macam obat yang nggak dia
perlukan & jadi racun di tubuhnya. 

Sebulan
lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain yang dirawat inap
di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu kota kecil
Jateng akibat sakit tifoid. Kejadian serupa terjadi pula, sangat banyak
obat yang nggak rasional diresepkan oleh dokter penyakit dalamnya. 

Kalau
ini nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan masyarakat
kalau mereka lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat ke LN.
Semoga bisa berguna sebagai pelajaran berharga untuk rekan-rekan semua
agar berhati-hati & kritis pada pengobatan dokter. 

rgds 
Billy 

Kunjungi http://KonsulSehat.web.id








      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke