Sebuah "dialog" dalam pikiran "Sebuah drama tak terselesaikan dalam dialog kontroversi Buddha Bar
Semoga anda semua dalam keadaan sehat, damai dan bahagia Apakah saya mau pergi ke dialog "Kontroversi Buddha Bar" atau ke Gramedia karena sedang ada diskon 30%? Ternyata kaki melangkah juga ke acara "dialog" tersebut. Bertiga dengan dua orang sahabat saya, kita meluncur ke hotel Borobudur sambil banyak bercerita dan berdiskusi tentang banyak hal. Masuk ke pelataran hotel Borobudur, ada sebuah spanduk besar menyambut kedatangan peserta. Spanduk berwarna gambar daun pohon Bodhi berwarna hijau yang disekelilingnya diberi lis bendera Buddhis memberikan kesan bahwa kegiatan ini adalah kegiatan besar. Ketika kami sampai, acara baru saja dimulai. Seorang wanita bertubuh agak besar sedang berbicara di podium, mungkin dia adalah ketua panitia. Disusul oleh MC yang memperkenalkan moderator, dan moderator memperkenalkan nara sumber. 1 nara sumber dari DIRJEN HAKI (maaf kalau salah karena tidak detil memperhatikan jabatan ketika diperkenalkan) satu lagi adalah Ketua Dewan Pembina DPP GemaBudhi (Lius Sungkarisma) Sebuah kejanggalan mulai terasa. Apa saja itu? a. Ketika kita memdengar kata dialog? Apa yang ada di benak anda? Bukankah dialog adalah sebuah proses diskusi yang bersifat dua arah? Ternyata tidak? Sesi pertama disampaikan oleh pak Lius yang berbicara tentang bukan tentang kontroversi Buddha Bar itu sendiri, tetapi lebih menyerang teman-teman yang ada di FABB (Forum Anti Buddha Bar). Sebagian nama yang tersebut adalah CALEG-CALEG Buddhis yang berasal dari Partai PDS, PKB Muhaimin, dan Demokrat. Bahwa mereka menunggani umat Buddha melalui Forum ini agar mereka bisa mendapatkan simpati dari umat Buddha. Ponijan Liaw yang menuliskan pandangannya di koran Kontan juga kebagian porsi disebut sebagai orang yang takut periuk nasinya hilang karena mendukung GemaBudhi mendukung Buddha Bar. Kenapa surat-surat dari WALUBI yang menyatakan menolak Buddha Bar serta surat dari Budiman Sudharma yang mendukung Buddha Bar tidak dibahas? Bukankah kabarnya, tanggal surat tersebut hanya selisih satu hari. Namanya juga dialog kontroversial, bukankah kedua surat tersebut kontroversial? b. Tidak ada unsur dari FABB, atau dari Buddha Bar sendiri. Jadi, jelas bahwa acara yang namanya dialog ini ternyata bukan dialog. Orang-orang yang berada di panggung tersebut mendapatkan waktu untuk menyampaikan pandangannya dan yang mendengar boleh bertanya. Sebenarnya pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana kedua nara sumber bisa menjadi nara sumber. Untuk nara sumber dari Dirjen Haki, kita tidak perlu banyak bertanya karena memang sudah menjadi tugas pemerintah untuk memberikan pengertian kepada rakyatnya. Dalam kapasitas beliau memberikan penjelasan, terlihat bahwa memang yang disampaikan adalah apa yang beliau ketahui. Pertanyaan kedua layak diajuka kepada pak Lius sebagai nara sumber kedua yang mengatakan bahwa ia sampai harus turun gunung untuk membantu masalah ini. Adik-adik di GEMABUDHI meminta bantuan beliau untuk hadir dan membantu. Ini sebuah keanehan tetapi memang sungguh keajaiban. DPP Gemabudhi yang menyelenggarkan dialog ini sekali lagi menujukkan keberpihakkan yang sangat mendalam terhadap Buddha Bar karena nara sumber yang diundang selama menyampaikan pandangannya lebih membela Buddha Bar daripada bersikap netral. Tidak ada nara sumber yang disiapkan untuk membahas masalah ini dari dua sisi yang berbeda membuat minoritas anti Buddha Bar hanya bisa diam ketika provokasi tepuk tangan membahana tatkala pak Lius membela Budha Bar. Lebih hebat lagi, ternyata ada saudara kita Budiman Sudharma yang hadir disana tetapi malah hanya menjadi pendengar. Jika ini adalah sebuah dialog, mengapa dia tidak dihadirkan sebagai nara sumber dan panitia bisa dengan sedikit kerja keras mengundang FABB agar dialog ini menjadi berbobot. c. Kelucuan lain adalah salah satu orang GEMABUDHI (saya lupa namanya tapi ia sukses di Prudential) berargumen dengan mengambil contoh Thailand sebagai negara Buddhis dan apa saja yang maksiat bisa ditemukan di Thailand. Lucu bukan, sebagai Buddhis, ia bangga negara Buddhis menjadi sarang maksiat dan menjadikanya contoh di sebuah dialog yang menentang kehadiran sebuah Bar bermerk Buddha. d. Siapa saja yang pernah menginap di hotel Borobudur tentu saja tahu berapa dolar yang harus dikeluarkan untuk bisa menikmati surga disana. Salut kepada teman-teman di Gemabudhi yang sudah mampu membuat sebuah acara yang begitu "meriah" di hotel yang begitu mewah. Mengapa hotel Borobudur yang dipilih? Tidakkah ada kelucuan dan kecurigaan disana? Mampukah Gemabudhi membiayai ini semua? e. Salah satu rekomendari dari pak Lius adalah menempuh jalur hukum. Ini tentu saja sebuah solusi yang baik karena kita semua tahu Buddha mengajarkan kita untuk selalu bersikap non kekerasan. Dirjen Bimas Buddha, menurut Beliau, harus berperan aktif dalam hal ini. Nah, siapa saja tentu tahu ini bukan butuh waktu satu atau dua hari. Nara sumber dari Dirjen HAKI mengatakan bahwa penggunaan merek Buddha Bar bisa digugat dengan melayangkan surat protes ke pemegang lisensi Budha Bar di Perancis. Bisa kita bayangkan lucunya berapa lama proses ini akan berlangsung dan berapa biaya yang dikeluarkan. Selama proses itu pula, Budha Bar akan terus beroperasi. Nah, selama Buddha Bar beroperasi, selama itu pula simbol-simbol agama Buddha akan terus dilecehkan. f. "Buddha itu anak raja. Buddha banyak dihina orang dan dia bisa saja meminta bapaknya yang raja itu untuk menghabisi orang yang menghinanya?" Sekali lagi kita boleh tertawa karena nara sumber kita ternyata belum mengerti dan mengenal Buddha. Jika Buddha dihina dan langsung meminta ayahnya untuk menghabisi siapa saja yang menghinanya, kita boleh bertanya apakah benar Siddharta Gautama telah menjadi Buddha. Sebagai orang suci yang batinnya sudah tenang dan damai, Buddha tidak dengan mudah bereaksi seperti kita. Tetapi ketika Buddha difitnah dan dicaci oleh Cinca, apakah murid Buddha diam saja. Cinca adalah pelacur yang menfitnah Buddha dengan berpura-pura hamil. Ia mengikatkan sesuatu di perutnya dan berpura-pura hamil dan menuduh Buddha telah menghamilinya. Biksu Mogalana yang memiliki kesaktian menciptakan tikus-tikus untuk mengerogoti tali yang mengikat benda untuk menunjukkan Cinca hamil. Ketika tali itu terputus, terbukti bahwa Cinca tidak hamil. Masihkah kita tertawa mendengar seorang nara sumber yang mengaku Buddhis tetapi tidak mengenal Buddha. Ia malah meminta para biksu untuk mengajarkan dharma yang lebih tinggi, lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Sayang sekali, sepertinya beliau belum mendengar, apalagi membaca, apalagi mempraktikkan Mahasatipatana sutta. Hiks sungguh sayang. Sulit bagi saya untuk percaya kepada nara sumber seperti ini. g. "Apa kata hati nurani anda?" demikian tanya ibu Ernawati Sugondo, ( saya tidak tahu beliau adalah CALEG atau sudah menjadi anggota Dewan). Sayang jawaban dari sang nara sumber tidak terdengar dan moderator sudah menutup sesi pertama dan dilanjutkan dengan sesi break. Sayang pulang saya tida bisa ikut acara hingga karena memang hasil akhirnya sudah diketahui sebelum pertandingan dimulai. h. Bagaimana reaksi bangsa Indonesia jika ada yang bar yang bernama "Lius Bar." Lebih ekstirm lagi, Soekarno Bar, GusDur Bar, dan sederet nama tokoh yang bisa saya tuliskan disini untuk menjadi nama bar. Bukanhah hati kita akan terusik. Pantaskah nama pahlawan, misalnya, Sudirman dibuat menjadi nama sebuah bar? Sebagai umat Buddha, lucu rasanya melihat ada orang yang juga mengaku beragama Buddha tidak keberatan nama agung junjungannya dijadikan merek dagang. Bukan sekedar merek dagang, tetapi merek dagang yang bertolak belakang dengan hakikat sejatinya. Semoga tulisan ini bisa membuka wawasan banyak orang. Semoga bermanfaat Jakarta 13 Maret 2009 Lim Hendra, S.S
