Bagaimana kita harus bersikap terhadap sesuatu yang dipersepsikan "negatif"?  

1. Pertama mari belajar dari cerita. Persahabatan seorang Master zen dan 
seorang seniman ternama telah sampai pada titik yang sangat dalam. Suatu hari, 
seniman bertanya kepada master zen: Waktu kamu melihat lukisan saya, apa yang 
kamu lihat? Master Zen menjawab: seorang BUDDHA. Kemudian master Zen balik 
bertanya: Waktu saya meditasi, apa yang kamu lihat. Merasa ini saat yang paling 
tepat untuk menang telak, seniman menjawab: Seonggok Tahi! Mendengar ini, 
master Zen tertawa terbahak. 

Pulang dengan perasaan penuh dengan kemenangan, seniman menceritakan hal ini 
kepada istri. berbeda dengan yang diduga seniman, istrinya malah menjawab. Kamu 
harusnya malu dengan dirimu. Kamu melihat dirimu sendiri adalah seonggok tahi, 
sementara master Zen telah melihat dirimu seorang Buddha.   

Pelajaran dari sini: persepsi itu seperti cermin, jika kita melihat diri orang 
lain adalah tahi, maka satu yang pasti kita adalah itu!

2. Belajar dari sumber lain. Dikisahkan suatu hari Yesus dihadapkan dengan 
masalah yang serius, seorang pria dan wanita yang terlibat prostitusi. Menurut 
hukum taurat maka kedua orang itu harus dihukum rajam. Ahli taurat mendesak 
supaya Yesus melaksanakan Hukum tersebut. Yesus tidak menjawab, sebaliknya 
malah santai mencoret-coret ditanah. Karena didesak terus, akhirnya Yesus 
mengatakan: Siapa diantara kalian yang tidak berdosa silakan lemparkan batu 
pertama kepada pasangan tersebut. Tidak seorangpun melemparkan batu termasuk 
Yesus.  
 
Pelajaran dari sini: Tidak ada orang yang suci bersih sepanjang memiliki badan, 
jadi jangan menghakimi apalagi mengutuk orang masuk neraka avici. Why, sebagian 
tubuh/pikiran sang penguntuk sudah dineraka tersebut pada saat kutuk itu keluar 
dari pikiran. 

3. Belajar dari diri sendiri dengan mengambil hikmah dari kedua cerita 
tersebut. Caranya, dengan melihat ketika hal negatif muncul. Inilah saat yang 
paling kritikal dalam membentuk diri kita dan menimbulkan kematangan 
kebijaksanaan. Yang patut direnungkan adalah: apakah hal negatif tersebut 
berada diluar sana atau justru berada dalam pikiran kita. Jika berada diluar 
sana, benarkah demikian lantas mengapa dapat menganggu kita? Benarkah sesuatu 
yang diluar diri dapat merugikan kita. Jika dia ada dipikiran kita, dapatkah 
kita membiarkan hal tersebut ada disana, tanpa memberi respon. Sadari saja 
munculnya pikiran negatif itu dan amati sampai hilang, setelah itu coba sadari 
bagaimana perasaan kita.  

4. Dharma itu apa? apakah hanya berisi hal -hal positif, apakah yang negatif 
bukan dharma? 


5. Boddhisatva Manjusri justru bergaul dengan pekerja sek, para pelayan wanita 
kerajaan justru pada saat Vassa. Dalam peraturan ini adalah pelanggaran. Akan 
tetapi Buddha Sakyamuni menjawab, kebijaksanaan Manjusri tidak terukur.Why? 
bukahkah dengan bergaul baru bisa mentransfer kebijaksanaan dan dharma.   


Kita hidup diabad Prahara. Dimanapun dan kapanpun, hal negatif selalu ada. Ini 
adalh sebuah fakta dan realitas kehidupan modern. Baru keluar dari pagar rumah, 
mobil kita sudah diserempet. Jika tidak, klakson yang keras dari mobil tetangga 
dapat membangkitkan kemarahan dan kejenggelan. Dijaman dahulu hal-hal seperti 
ini nyaris tidak ada. oleh karena itu saat ini dapat disebut jaman yang paling 
cepat menuju pencerahan! Intinya non dualistik view! Jangan terjebak oleh 
hal-hal positif, akan tetapi juga yang negatif. Karena negatif dan positif 
adalah bentuk pikiran saja. Ada ahli yang mengatakan bahwa ada 84000 pintu 
dharma, pintu dharma non duality adalah yang tercepat menghantarkan orang 
Bangun! 


Salam Metta

Dr. Akino W. Azzaro         


      

Kirim email ke