KASI Imbau Umat Buddha Hentikan Unjuk Rasa
Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI) merasa prihatin maraknya aksi
demonstrasi menentang keberadaan restoran Buddha Bar yang terletak di
Jl Teuku Umar No 1, Menteng, Jakarta Pusat. KASI khawatir aksi unjuk
rasa ini akan dimanfaatkan untuk kepentingan oknum tertentu, terlebih
menjelang pemilu tahun ini. Karena itu, umat Buddha diminta
menghentikan aksi unjuk rasa yang gencar dilakukan akhir-akhir ini.
Daripada berunjuk rasa, lebih baik pemuda Buddha melakukan kegiatan
yang lebih baik untuk kepentingan negara. Karena permasalahan ini sudah
ditangani Dirjen Bimas Buddha Departemen Agama (Depag).
Imbauan
KASI dilakukan karena belakangan ini prihatin dengan aksi unjuk rasa
yang mengatasnamakan umat Buddha. Apalagi adanya ancaman yang
dikeluarkan Forum Anti-Buddha Bar (FABB) kemarin, Senin (16/3) yang
akan mengambil tindakan anarkis kalau nama Buddha Bar tidak segera
diganti. Ditambah lagi adanya rencana pengajuan ke Pengadilan Tata
Usaha Negara.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) KASI, Bhiksu Vidya
Sasana Sthavira, aksi unjuk rasa yang dilakukan pemuda Buddha belum
menjurus ke arah anarkis. "Pemuda Buddha belum sampai anarkis. Unjuk
rasa saya kira wajar. Tetapi batasannya sekarang, daripada berunjuk
rasa lebih baik memilih kegiatan yang lebih baik untuk kepentingan
negara ini," kata Bhiksu Sasana di Jakarta, Selasa (17/3).
Bhiksu
Sasana menasihatkan, umat Buddha seharusnya berjalan di atas jalan
Dharma ajaran guru junjungan, Hyang Buddha. Dengan mengedepankan dan
mengutamakan ajaran penuh cinta kasih universal, kedamaian, dan
kebijaksanaan. "Bila kita semua ingin mendapatkan sebuah hasil yang
terbaik, maka tentunya harus pula menggunakan cara yang baik dengan
mengutamakan kebijaksanaan," ujarnya. Cara penyampaian dan unjuk rasa
disertai ancaman bukan merupakan ajaran Hyang Buddha kepada seluruh
umat Buddha.
Tentunya, masalah Buddha Bar sudah mendapat
penanganan langsung dari Dirjen Bimas Buddha Depag. Saat ini Dirjen
Bimas Buddha sudah bertemu dengan pemilik Buddha Bar dan proses
penyelesaiannya sedang berjalan. Karena itu, Bhiksu Sasana meminta
biarlah kedua pihak itu yang menjalankan proses penyelesaiannya.
Sedangkan umat Buddha lebih baik berkonsentrasi mempersiapkan diri
untuk pelaksanaan pesta demokrasi rakyat Indonesia yang sudah di depan
mata.
"Seharusnya kita tentramkan, kita konsentrasikan kepada
yang lebih penting yaitu negara ini. Jangan terpecah belah, jangan
mengurusi masalah yang itu-itu saja," imbaunya. Dia memberikan
apresiasi kepada tiga sangha yang tergabung dalam KASI yaitu Sangha
Mayana Indonesia, Sangha Terawadha Indonesia, dan Sangha Agung
Indonesia yang setia selalu bijaksana mengikuti dari awal masalah ini.
Apresiasi juga diberikan kepada Ditjen Bimas Buddha Depag yang tanggap
dan agresif dalam menangani masalah Buddha Bar.
Sementara itu,
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo kembali menegaskan bahwa restoran
Buddha Bar tidak menyalahi aturan. Sebab, selama ini pengelola Buddha
Bar tidak pernah mengubah satu pun bentuk bangunan bersejarah tersebut.
Bahkan restoran franchise dari Perancis yang menempati eks kantor
Imigrasi itu juga telah mengantongi izin dari Pemprov DKI Jakarta.
Fauzi
Bowo menegaskan, Pemprov DKI tidak mempunyai permasalahan sengketa
terkait keberadaan restoran Buddha Bar. Dia menyatakan bangunan bekas
kantor Imigrasi dan merupakan bangunan cagar budaya dan tidak menyalahi
aturan. Karena tidak ada bagian bangunan yang dirusak atau dipugar
ulang oleh pemilik restoran tersebut.
“Restoran Buddha Bar
tidak ada sengketa dengan Pemprov DKI,” tegas Fauzi Bowo di Balaikota
DKI, Selasa (17/3). Permasalahan sebenarnya adalah Dinas Pariswisata
dan Kebudayaan DKI telah memberikan izin kepada badan hukum yang telah
terdaftar di Ditjen HaKI Departemen Hukum dan HAM. Jika memang ada
pihak-pihak yang merasa terganggu dengan keberadaan Buddha Bar, Fauzi
mempersilakan mengembalikannya ke wilayah hukum.
Fauzi Bowo
menerangkan, sebelum gedung eks kantor imigrasi itu dijadikan restoran,
kusen-kusennya sudah banyak yang hilang karena dicuri oknum tertentu.
Pemprov DKI pun mengambil langkah membeli gedung tersebut karena tidak
ingin urban heritage ini dirusak.
Setelah
dibeli, diadakan sayembara pemanfaatan gedung tersebut. "Dari situ
timbul gagasan-gagasan yang cukup bagus, yaitu mengkombinasikan
komersil dengan non komersil," ungkap Fauzi Bowo. Diantaranya,
dijadikan gedung pertemuan untuk para seniman dan budayawan.
Dari
hasil sayembara tersebut, disepakati semuanya menunjukkan hasil yang
bernilai komersil dan bernilai budaya. Berdasarkan hal itu,
dikembangkan pola pembangunan kafe, restoran, dan ada peruntukan
budayanya. "Itu yang saya tahu. Jadi kalau dibilang sama sekali
bertentangan tidak juga. Karena berdasarkan sejarah, di situ ada nilai
komersilnya, bahkan nama gedung itu tetap menggunakan bahasa Belanda,"
terangnya. Kemudian, gedung itu dijual kembali kepada pihak ketiga
dengan syarat tidak boleh menyimpang dari pola yang telah ditentukan.
Penulis:
lennySumber:http://www.beritajakarta.com/V_Ind/berita_detail.asp?idwil=0&nNewsId=32916
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
[Non-text portions of this message have been removed]