--- On Wed, 4/1/09, Juan Ek Halim <[email protected]> wrote:
From: Juan Ek Halim <[email protected]>
Subject: (info) do not golput...oce!!!
To: 
Date: Wednesday, April 1, 2009, 8:47 PM


 

(diadaptasi dari Institut Leimena News, edisi 01/2009)

Oleh Tobias Basuki



Jelang Pemilu 2009

Satu suara pun berarti. Jangan sia-siakan hak pilih Anda !



Salah satu noda hitam paling tragis dalam sejarah akibat tingginya

Golongan Putih (golput) terjadi di Jerman. Tahun 1920 partai Nazi

dibentuk. Awalnya, partai ini hanya mendapatkan 3% suara di Pemilu

Legislatif, dan bahkan turun menjadi 2,6 % di Pemilu berikutnya. Tapi

tahun 1929 bursa saham Wall Street runtuh, dan tahun 1930 partai kecil ini

langsung melejit dan mendapatkan 18,3% suara di Pemilu Legislatif. Jumlah

ini menjadi suara terbesar di Parlemen karena banyak rakyat yang golput.

Tahun 1933 Hitler terpilih sebagai Kanselir Jerman. Setelah itu kita semua

tahu, berkuasanya Hitler merupakan salah satu pemicu utama terjadinya

Perang Dunia ke-2.



Dari sejarah kita dapat melihat bahwa partai-partai kecil yang radikal

bisa mendapatkan kekuasaan dan mengontrol suara mayoritas akibat golput.

Beberapa tahun sebelumnya, hal serupa telah terjadi di Rusia dalam

revolusi Bolshevik yang dipimpin Lenin (1917). Lewat ide-idenya yang

distruktif, partai-partai kecil ini menguasai dan mengontrol arah negara.

Umumnya ada 3 (tiga) penyebab utama kemenangan mereka:



Pertama:

Krisis Ekonomi



Awalnya, nazi adalah partai kecil tanpa dukungan, tapi begitu krisis

finansial tahun 1929 memukul dunia, partai ini langsung naik daun. Pada

saat itu, Jerman sedang menderita ekonomi dan sosial politik yang parah,

dan banyak yang mengharapkan munculnya seorang pemimpin yang kuat.



Kedua:

Pemerintahan yang lemah dan inkonsisten dalam menerapkan hukum.



Sebelum berkuasa, Hitler adalah oposan yang militan terhadap pemerintah

yang berkuasa. Ia pernah berusaha mengambil alih pemerintahan daerha di

Baravian dengan kekerasan, tapi hanya dihukum satu tahun saja.



Ketiga:

Tingginya tingkat apatisme rakyat untuk memilih dalam Pemilu



Salah satu contoh sikap seorang rakyat yang tidak peduli akan nasib

bangsa, adalah tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilu. Jangan biarkan

sejarah kelam Jerman terulang di Indonesia. Ketidak-pedulian Anda dapat

menghancurkan banyak orang, termasuk diri Anda sendiri. Satu suara

berarti, karena itu jangan lepaskan hak pilih Anda.



(fw. Lw.E.Tj)







-----Inline Attachment Follows-----

PESTA ------------------------------------------------------- ALUMNI

BELAJAR DARI KEMENANGAN HITLER 

(diadaptasi dari Institut Leimena News, edisi 01/2009)   

Oleh Tobias Basuki 

 

Jelang Pemili 2009 

Satu suara pun berarti. Jangan sia-siakan hak pilih Anda ! 

  

Salah satu noda hitam paling tragis dalam sejarah akibat tingginya Golongan 
Putih (golput) terjadi di Jerman. Tahun 1920 partai Nazi dibentuk. Awalnya, 
partai ini hanya mendapatkan 3% suara di Pemilu Legislatif, dan bahkan turun 
menjadi 2,6 % di Pemilu berikutnya. Tapi tahun 1929 bursa saham Wall Street 
runtuh, dan tahun 1930 partai kecil ini langsung melejit dan mendapatkan 18,3% 
suara di Pemilu Legislatif. Jumlah ini menjadi suara terbesar di Parlemen 
karena banyak rakyat yang golput. Tahun 1933 Hitler terpilih sebagai Kanselir 
Jerman. Setelah itu kita semua tahu, berkuasanya Hitler merupakan salah satu 
pemicu utama terjadinya Perang Dunia ke-2. 


  

Dari sejarah kita dapat melihat bahwa partai-partai kecil yang radikal bisa 
mendapatkan kekuasaan dan mengontrol suara mayoritas akibat golput. Beberapa 
tahun sebelumnya, hal serupa telah terjadi di Rusia dalam revolusi Bolshevik 
yang dipimpin Lenin (1917). Lewat ide-idenya yang distruktif, partai-partai 
kecil ini menguasai dan mengontrol arah negara. Umumnya ada 3 (tiga) penyebab 
utama kemenangan mereka: 


  

Pertama: 

Krisis Ekonomi 

  

Awalnya, nazi adalah partai kecil tanpa dukungan, tapi begitu krisis finansial 
tahun 1929 memukul dunia, partai ini langsung naik daun. Pada saat itu, Jerman 
sedang menderita ekonomi dan sosial politik yang parah, dan banyak yang 
mengharapkan munculnya seorang pemimpin yang kuat. 


  

Kedua: 

Pemerintahan yang lemah dan inkonsisten dalam menerapkan hukum. 

  

Sebelum berkuasa, Hitler adalah oposan yang militan terhadap pemerintah yang 
berkuasa. Ia pernah berusaha mengambil alih pemerintahan daerha di Baravian 
dengan kekerasan, tapi hanya dihukum satu tahun saja. 

  

Ketiga: 

Tingginya tingkat apatisme rakyat untuk memilih dalam Pemilu 

  

Salah satu contoh sikap seorang rakyat yang tidak peduli akan nasib bangsa, 
adalah tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilu. Jangan biarkan sejarah 
kelam Jerman terulang di Indonesia. Ketidak-pedulian Anda dapat menghancurkan 
banyak orang, termasuk diri Anda sendiri. Satu suara berarti, karena itu jangan 
lepaskan hak pilih Anda. 




(fw. Lw.E.Tj) 

-------------------------------------------------------------------- 








      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke