Hikmah Krisis Global ~ Sisi Lain Magha Puja 2009 Majalah Sinar Dharma
~ *kebahagiaan sebenarnya bukan untuk dicari atau dicapai, ia lebih merupakan kemampuan yang harus dikembangkan* ~ Magha Puja adalah perayaan dua peristiwa penting yang terjadi pada purnama siddhi di bulan Magha pada tahun yang berbeda semasa hidup Buddha Sakyamuni. Peristiwa penting pertama adalah berkumpulnya 1.250 orang bhiksu Arhat tanpa kesepakatan terlebih dahulu di Vihara Veluvana, Rajagaha. Kemudian di hadapan semua bhiksu itu Buddha Sakyamuni membabarkan Ovada Pratimoksha (Ovada Patimokkha - bait-bait syair aturan kedisiplinan para anggota Sangha). Peristiwa penting kedua adalah Buddha Sakyamuni menyatakan akan memasuki Mahaparinirvana (kemangkatan agung) saat tiga bulan kemudian. Peristiwa ini terjadi pada tahun terakhir kehidupan Buddha yang waktu itu berdiam di Cetiya Capala di dekat kota Vesali. Pada peringatan Magha Puja di tahun 2009 ini, kita sedang dihadapkan pada kondisi krisis global. Krisis global adalah suatu momentum penurunan pertumbuhan ekonomi dunia skala besar. Lantas, bagaimana pandangan kita tentang kondisi buruk ini seiring dengan peringatan Magha Puja tahun ini? Dengan kata lain, apa hikmah yang dapat kita peroleh dari krisis global ini dilihat dari sudut pandang Buddhisme umumnya dan Magha Puja khususnya? Bagaimana pula kita harus bersikap dalam menghadapi krisis global ini? 1. Anitya (Anicca) ~ tidak ada yang tidak berubah dalam segala yang berkondisi Selalu berubah, itu adalah dalil yang tak pernah berubah. Demikianlah yang terjadi dalam dunia makro perekonomian dunia. Lehman Brothers yang demikian kuat dan menggurita, akhirnya harus dinyatakan bangkrut. Tidak hanya itu saja, banyak perusahaan raksasa dunia, bahkan negara maju, yang ikut goyah terimbas kasus konspirasi Lehman, Bernard Madoff dan lain sebagainya. Inilah hakekat anitya (anicca), yang tidak hanya terjadi pada individu, namun juga berlaku dalam segala bidang, baik bagi kelompok, masyarakat, negara, dunia, bahkan segenap alam semesta. 2. Anatman (Anatta) ~ tidak ada ‘aku’ yang berdiri sendiri dalam segala yang berkondisi Tidak ada aku, atau disebut juga sebagai ‘bukan aku’, menunjuk pada prinsip saling ketergantungan, dalil yang berlaku bagi semua benda, makhluk hidup maupun alam semesta, sebuah konsep yang menyadarkan kita akan sifat hakiki kekosongan (tanpa inti). Keberhasilan awal dari keserakahan Lehman ataupun penipuan Bernard Madoff bukan berdiri sendiri, melainkan dilandaskan pada bentukan berbagai kondisi yang saling mendukung. Namun dengan berlangsungnya proses anitya (anicca), kondisi-kondisi pendukung itu juga harus bubar pada akhirnya dan semua kembali pada kekosongan. Aneh bin ajaib! Di manakah larinya kondisi kemakmuran yang masih kita nikmati beberapa waktu lalu? Kenapa hanya dalam waktu relatif singkat berubah menjadi krisis finansial depresi global? Ya, inilah hakekat anatman (anatta), tidak ada satu unsur individu yang berdiri sendiri tanpa ketergantungan dari faktor-faktor terkait. 3. Duhkha (Dukkha) ~ tidak ada kebahagiaan sejati dalam segala yang berkondisi Hal yang kita inginkan tidak terwujud, hal menyenangkan tidak langgeng, kemudian hal menyakitkan yang tidak kita inginkan malah terjadi. Semua hal yang tidak menyenangkan ini hadir dalam kehidupan setiap makhluk. Anitya (anicca) membuat sesuatu yang menyenangkan berubah menjadi membosankan, atau berakhir di luar kehendak kita. Pandangan salah tentang anatman (anatta) memperdalam rasa ego ke-aku-an sehingga memperbesar rasa ketidakpuasan. Demikianlah tidak ada kebahagiaan sejati dalam fenomena kehidupan yang berkondisi (saling berketergantungan). Krisis global adalah satu contoh nyata, yang mana keserakahan menuntut akan membengkaknya keuntungan finansial dalam waktu singkat, keberhasilan di awal proses jalan pintas ini semakin memperdalam rasa ego (keserakahan dan kesombongan) dan menyeret pada rasa ketidakpuasan yang tak mengenal kata puas, hingga akhirnya meletus menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan bagi perekonomian global. Ketergantungan pada sumber materialis ini memberi sinyal tumbangnya sendi-sendi yang berlandaskan kesenangan indriya. Demikianlah tidak ada kebahagiaan sejati dalam segala yang berkondisi, dengan kata lain, kebahagiaan sejati itu hanya bisa tercapai bila kita berhasil melepaskan diri dari keterikatan pada hal-hal yang berkondisi. 4. Jalan Tengah ~ non-dualitas dan tidak berkondisi Dari kasus krisis global ini kita melihat pula bahwa perusahaan yang agresif terjungkir balik, sedang yang konservatif menerima dampak yang relatif lebih kecil. Bukankah selama ini kita diajarkan untuk selalu optimis, tapi kenapa yang terjadi justru sebaliknya? Inilah hikmah selanjutnya yang dapat kita peroleh, hakekat Jalan Tengah. Ada sebuah ucapan bijak mengatakan: orang pesimis mengeluhkan arah angin, orang optimis mengharapkan perubahan arah, sedang orang pandai menyesuaikan posisi layar berdasarkan arah angin. Siapakah orang pandai itu? Ia adalah orang yang realistis. Siapakah orang yang realistis itu? Ia adalah orang yang dapat melihat hakekat sejati sebagaimana adanya. Ia tidak pesimis, pun tidak over optimis, ia menyesuaikan kondisi, tahu bagaimana harus maju, paham kapan waktunya mundur, juga jelas kenapa harus diam di tempat. Dalam dunia psikologi ataupun manajemen, kita tahu bahwa optimis dan pesimis itu erat hubungannya karakter pelaku. Yang Bin, motivator dari Tiongkok, mengatakan: “Karakter itu pada dasarnya tidak mengenal baik dan buruk, juga tidak ada siapa benar siapa salah. Optimis dan pesimis, keduanya memiliki kontribusi bagi dunia ini. Optimis menciptakan pesawat terbang, pesimis menciptakan parasut.” Jadi dalam krisis global, bukan optimis (agresif) itu salah, juga bukan pesimis (konservatif) itu benar, melainkan keserakahan telah menutupi mata batin, menyesatkan cara pandang, menyebabkan tidak lagi melihat sebagaimana adanya, dan akhirnya salah mengikuti arus optimisme yang menghancurkan. Semua ini menyadarkan kita akan kebenaran filosofi Buddhis tentang hakekat sejati yang pada dasarnya non dualisme - bukan baik dan juga bukan buruk, bukan tidak baik dan juga bukan tidak buruk, tidak mengenal baik dan buruk, juga bukannya tidak mengenal baik dan buruk. Itulah benih keBuddhaan yang bersifat Jalan Tengah - murni, tidak terkontaminasi, non-dualitas, tidak berkondisi. ....bersambung [Non-text portions of this message have been removed]
