Hikmah Krisis Global ~ Sisi Lain Magha Puja 2009

Sinar Dharma



~ kebahagiaan sebenarnya bukan untuk dicari atau dicapai, ia lebih merupakan
kemampuan yang harus dikembangkan ~





*5.      **Eling lan waspada *~ antisipasi kegelapan batin

Salah satu peristiwa penting dalam Magha Puja adalah pembacaan aturan
kedisiplinan. Sesuai dengan namanya, aturan kedisiplinan ini adalah suatu
pedoman dan pendorong untuk berlatih diri dalam Jalan Tengah. Lantas, apa
pula hubungan tata tertib ini dengan krisis global?

Bodhisattva terlahir dan menjadi Buddha di alam manusia, ini adalah
perwujudan cinta kasih dan welas asih yang tertinggi demi kebahagiaan semua
makhluk. Tanpa Dharma yang indah dan benar yang dibabarkan Buddha, kita akan
semakin terjerumus dalam pekatnya kebodohan batin.

Namun kebahagiaan sejati itu juga bukan hadiah yang datang secara cuma-cuma,
melainkan harus kita realisasikan dengan berlatih diri secara tekun
berdasarkan pedoman yang dibabarkan Buddha. Senantiasa waspada dan
mengendalikan diri, inilah tujuan kita berlatih diri. Inilah makna
pembabaran Ovada Pratimoksha (Ovada Patimokkha) – pedoman kita agar
selalu *eling
lan waspada*.

Pelatihan diri harus dilakukan secara tekun, konsisten dan berkesinambungan.
Artinya, kita harus waspada di setiap waktu, setiap tempat dan setiap
kondisi. Seperti yang dituturkan tokoh legendaris kungfu Bruce Lee, bahwa
setiap saat ia harus dalam kondisi prima siap bertarung, karena ia tak
pernah tahu kapan lawan-lawannya akan datang menyerang. Demikian pula kita
tak pernah tahu kapan kegelapan batin dan kematian itu datang mencengkeram,
sebab itu senantiasa waspada adalah jalan terbaik yang bisa kita lakukan
dalam mengantisipasinya.

Krisis global kali ini datang menyerang secara tiba-tiba, banyak perusahaan
ataupun negara yang terjebak tanpa daya dalam terjangan tsunami finansial
ini. Jika krisis ini ditangani dengan pengeluaran paket stimulus, maka
pelatihan diri bagi seorang praktisi tentu adalah selalu bersikap sati
(perhatian murni). Jadi, krisis global memberikan pula hikmah: jangan kendor
dalam berlatih diri.

Pun dalam kehidupan sehari-hari banyak terjadi kasus atau peristiwa
kegelapan batin yang tak pernah kita duga sebelumnya, salah satu di
antaranya adalah berdirinya sebuah bar kebodohan batin yang menggunakan nama
dan atribut Buddhisme di dalamnya. Beruntunglah karena para siswa Buddha, di
tanah air khususnya, selama ini telah berlatih diri dengan penuh kewaspadaan
sehingga tidak menentangnya dengan memakai kekerasan ataupun tindakan
melanggar hukum.

Krisis global dan Buddha Bar, adalah contoh nyata betapa pentingnya menjaga
kedisiplinan diri menghadapi rongrongan mereka yang hanyut menjadi pengikut
Mara.



*6.      *Fearless ~ tanpa ketakutan

Pernyataan bahwa Buddha Sakyamuni akan memasuki Mahaparinirvana sempat
mengejutkan para siswa yang mendengarnya, bahkan beberapa siswa yang belum
mencapai tahap kesucian memperlihatkan rasa gundah. Dapatkah kita berlatih
diri tanpa kehadiran Buddha di sisi kita? Mampukah kita mengalahkan
kegelapan batin dan terbebas dari samudera penderitaan tanpa kehadiran sosok
nyata “Guru para dewa dan manusia”? Bisakah kita melestarikan pelita Dharma
(Dhamma) generasi demi generasi setelah kepergian “Ia yang Tak Datang dan
Tak Pergi”?

Kekhawatiran dan ketakutan itu telah terjawab, setelah 2.500 tahun
Mahaparinirvana Buddha, ajaran luhur tetap terlestarikan. Sangha, umat
perumah tangga dan para Pelindung Dharma tetap terangkai membentuk benteng
kokoh melindungi Dharma mulia.

Takut, bukanlah tidak boleh; yang tidak boleh adalah membiarkan ketakutan
itu terus menggembung. Lakukan aksi nyata untuk mengatasi persoalan atau hal
yang kita takuti. Dengan bersandar pada Dharma yang benar (eksplisit dan
implisit), dengan memegang teguh prinsip keharmonisan hidup bersama, pun
berlatih diri dan mengembangkan ikrar maitri karuna (metta karuna) secara
konsisten, inilah aksi nyata para siswa Buddha yang berjuang tanpa memberi
kesempatan terwujudnya hal-hal yang kita takuti sehubungan dengan
Mahaparinirvana Buddha.

Demikianlah semangat Magha Puja menyadarkan kita untuk tidak takut secara
ekstrem dalam menghadapi krisis global. Dalil anitya mengajarkan kita bahwa
tsunami itu pasti akan berlalu. Selain itu, musuh terbesar kita dalam
mengatasi ketakutan ternyata bukan ketakutan itu sendiri ataupun hal yang
kita takuti, melainkan pikiran kita sendiri. Sebuah jajak pendapat
membuktikan bahwa 40% dari hal-hal yang kita takuti ternyata tidak pernah
terjadi; 30% adalah ketakutan atas peristiwa yang telah berlalu; 12% adalah
ketakutan atas hal-hal yang bisa terjadi pada orang yang kita kasihi, yang
sesungguhnya bukan urusan kita; 10% tentang penyakit yang belum tentu
terjadi; hanya sisa 8% yang benar-benar layak untuk kita takuti, namun
itupun masih bisa diatasi. Jadi, layakkah memiliki rasa takut yang
berlebihan?

Semua hanya tercipta dari pikiran (batin), demikianlah inti ajaran yang
ditekankan oleh tradisi Faxiang (Yogacara) Mahayana, yang esensinya adalah
pentingnya mengendalikan pikiran. Dale Carnegie juga memiliki sebuah ucapan
sehubungan dengan rasa takut: “Asal bertekad mengatasi ketakutan maka sudah
hampir berhasil mengatasi segala macam ketakutan. Sebab, harap diingat,
kecuali dalam benak pikiran, ketakutan itu tak memiliki tempat bersembunyi.”

Tanpa takut, itulah salah satu makna Magha Puja. Pun bagi mereka yang telah
berhasil mengatasi rasa takut, berarti telah selangkah lebih maju dalam
pemahaman anatman (anatta).



Tindakan nyata dalam menghadapi krisis global

Setelah memahami hakekat krisis global seperti terurai di atas, langkah
selanjutnya adalah merencanakan tindakan nyata dalam mengantisipasinya.
Meski krisis harus diselesaikan bersama dengan dimotori langkah-langkah
stimulus perekonomian oleh setiap pemerintahan negara-negara di seluruh
dunia, tapi sebagai individu kita juga harus melakukan tindakan-tindakan
nyata.

Tindakan nyata yang perlu kita lakukan cukup dengan tiga patah kata: lakukan
terobosan baru. Terobosan baru ini meliputi kemampuan berkarya,
bersosialisasi dan bercocok tanam di ladang kebajikan, pun harus didasarkan
pada pemahaman hakekat krisis global yang benar dan sebagaimana adanya.

Semua terobosan baru harus dilakukan secara sadar dan sabar. Sadar, karena
dengan demikian kita baru bisa melihat jelas hakekat krisis ini dan
cara-cara penanggulangannya. Sabar, karena terjangan gelombang tsunami ini
tidak mungkin berakhir hanya dalam waktu 1-2 hari.



Kemampuan Berkarya

Dalam berkarya, cetuskan ide-ide yang lebih brilian dalam pekerjaan atau
tugas kita. Pun upayakan untuk mempelajari atau melakukan tugas-tugas baru
yang belum pernah kita kuasai atau kerjakan sebelumnya. Kembangkan
intensifikasi dan ekstensifikasi kemampuan potensial kita yang terpendam
oleh kemalasan, terintimidasi oleh ketakutan dan terkikis oleh waktu. Ini
seperti halnya benih keBuddhaan yang harus kita bebaskan agar tidak lagi
terhanyut oleh keserakahan, terbakar oleh kebencian dan tertipu oleh
kebodohan batin.

Jadi, menggali dan mengembangkan kemampuan potensial adalah cara efektif
dalam bermanuver menanggulangi krisis global.

Salah satu cara pengembangan kemampuan potensial yang efektif adalah dengan
kembali ke bangku sekolah. Salah satu bidang yang tidak terlalu terpengaruh
oleh krisis adalah dunia pendidikan. Para profesional di dunia barat yang
mengalami penyusutan lapangan kerja, mereka memutuskan untuk kembali ke
institusi pendidikan menuntut jenjang ilmu yang lebih tinggi.



Kemampuan Bersosialisasi

Jaringan sosialisasi adalah salah satu kunci keberhasilan. Salah satu aspek
negatif yang berdampak terhadap jaringan sosialisasi adalah ego yang tinggi.
Tetapi dari hikmah krisis dapat kita ketahui bahwa betapa hebat dan lihainya
kita sebagai individu, itu semua takkan berarti bila tak ada jaringan dan
kondisi pendukung.

Jadi, dalam mengatasi krisis, salah satu langkah yang harus kita lakukan
adalah mengikis keegoan, dengan demikian akan lebih dapat diterima oleh
lingkungan sekitar dan berpeluang memperluas jaringan sosialisasi kita.
Mengikis ego juga termasuk berlaku baik dan bajik pada mereka yang di bawah
kita ataupun yang tampaknya tak mampu membantu kita. Jangan lupa, krisis
mengingatkan kita bahwa hidup ini bagaikan roda yang berputar, mereka yang
tak berarti bagi kita di saat lalu atau sekarang, bisa saja kelak di
kemudian hari merupakan bintang penolong kita.

Tentu saja ada yang mengatakan, jaringan sosial lebih terbentuk karena
adanya unsur kepentingan bersama, bukan dilandaskan pada besar kecilnya ego
pribadi. Ini memang benar dalam satu sisi, namun jaringan sosialisasi yang
didasarkan pada kepentingan adalah sangat rapuh dan tidak berjangka lama.



Kemampuan bercocok tanam di ladang kebajikan

Yang ditabur itulah yang kelak akan dituai. Salah satu kunci keberhasilan
dalam kesejahteraan hidup adalah perbuatan amal berdana bagi mereka yang
membutuhkan, baik bagi masyarakat awam ataupun anggota Sangha. Hal yang
menggembirakan adalah banyaknya umat yang telah memahami dan menerapkan
hukum menuai ini. Namun hendaknya jangan karena datangnya krisis lalu
berusaha mengurangi perbuatan mulia ini.

Ladang kebajikan juga meliputi bimbingan Dharma, donor darah dan lain
sebagainya yang dapat menumbuhkan kebahagiaan dan mengurangi penderitaan
semua makhluk (maitri karuna). Ada satu kiat maitri karuna yang jitu dan
efektif namun sering terabaikan oleh kita yakni mengembangkan kemampuan
berbahagia dalam diri kita.

Perlu diketahui, kebahagiaan sebenarnya bukan untuk dicari atau dicapai, ia
lebih merupakan kemampuan yang harus dikembangkan. Tak peduli bagaimana pun
kondisi yang kita alami, asal bisa menjaga ketenangan dan kedamaian hati,
maka kebahagiaan akan terbersit melalui wajah dan perilaku kita, pada
akhirnya akan menggugah para makhluk yang ada di sekitar kita. Inilah salah
satu kemampuan bercocok tanam di ladang kebajikan yang harus kita ketahui
dan kembangkan.



Sebagai penutup, kita tahu bahwa filosofi dunia bisnis di masa krisis ini
telah sedikit bergeser dari ‘pembeli adalah raja’ menjadi ‘pemegang uang
tunai adalah raja’. Pemegang uang tunai berhak menentukan berapa besar
diskon yang bisa didapatkan, para penjual juga berjuang keras menarik minat
pemegang uang tunai agar bersedia membeli produk-produk mereka dengan segala
program yang menggiurkan hati.

Filosofi inilah yang harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-harinya.
Masa lalu bagaikan selembar cek kosong yang mustahil dapat digunakan. Masa
depan layaknya bilyet giro yang belum waktunya dicairkan dan tentu tidak
bisa diapa-apakan sekarang ini. Sedang saat kini adalah uang tunai. Jadi
janganlah sia-siakan uang tunai, sama seperti juga jangan sia-siakan masa
kini. Manfaatkan masa kini dengan sebaik-baiknya untuk mengembangkan
kebajikan, ibarat memanfaatkan uang tunai untuk alokasi pada sesuatu yang
berguna bagi kehidupan kita.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke