SERAKAH, MEMBUTAKAN HATI
Oleh : Maha Bhiksu Dutavira Sthavira
Vihara Avalokitesvara
Jl.Mangga Besar Raya no.58
Jakarta Barat
 
Serakah itu sumber penderitaan. Dari serakah muncul tidak puas, takut 
kehilangan, kuatir dan menderita. Mari kita simak cerita ini:
 
Jaman dahulu disebuah desa ditepi hutan, penduduk desa mengalami gangguan dari 
sekelompok monyet yang mengacau di malam hari. Bukan cuma sayuran di ladang, 
telur di kandang unggas juga diambil dan dimakan. Bahkan, hewan liar ini 
mengambil dan merusak barang apa saja yang ada didesa . Sehingga hal ini sangat 
mengganggu.
 
Tetapi monyet termasuk binatang yang cerdas , bila ditunggu mereka tidak 
datang, tidak ditunggu mereka muncul !
 
Akhirnya untuk mengatasi hal ini, Kepala Desa menganjurkan untuk menjebak para 
monyet. Penduduk mengumpulkan bambu yang berdiameter kecil seukuran tangan 
moyet. Setelah dipotong sepanjang jangkauan tangan monyet, salah satu ujung 
bambu dilubangi, diisi dengan telur , dan dengan sisi berlubang menghadap atas, 
kemudian bambu ditancapkan ke tanah dan disemen agar kuat.
 
Malam harinya, monyet berdatangan, penuh rasa ingin tahu mereka melihat-lihat, 
mengintip kedalam semua bambu itu, dan tahulah mereka ada telur, mereka mau 
mengambilnya , jadi satu persatu monyet memasukan tangan, meraih telur dan 
menggenggamnya dengan erat. Tapi...saat tangan monyet akan ditarik keluar dari 
bambu, mereka terperangkap! Mereka menarik sekuat tenaga, berusaha mengeluarkan 
tangan , gesekan dengan bambu melukai tangan monyet, merekapun menjerit 
kesakitan. Makin dipaksa ditarik, tangan monyet makin luka, teriakan 
monyet yang kesakitanpun makin riuh, membangunkan penduduk desa.
 
Dengan hadirnya penduduk desa, para monyet jadi semakin takut dan panik. Dengan 
segala daya upaya, mereka berontak dalam usaha mengeluarkan tangan dari bambu, 
tapi sia-sia! Mengapa?? Anehnya, monyet itu mirip manusia, walaupun takut, 
kuatir dan panik namun tangannya tetap menggenggam telur! Akhirnya, semua 
monyet tertangkap.
 
Demikian juga manusia, suka sekali melekat, yang seharusnya tidak boleh. Misal 
: Ada pemain saham, saat sahamnya naik dan untung 10%, dia senang, jadi karena 
serakah tidak mau jual, ingin untung lebih besar . Ketika saham turun dan rugi 
20%, tetap tidak mau cut loss, selalu berharap harga naik lagi. Ternyata,saham 
itu turun terus, terpaksa akhirnya ia jual juga dengan kerugian 60%. Akhirnya 
Modalnya rugi besar.
 
Coba renungkan, jika waktu sahamnya naik ia jual, maka untung 10% sudah pasti 
ditangan , dan modalnya akan bertambah. Tetapi apa yang terjadi? Akhirnya dia 
malah rugi dan menderita.
 
Sesuai sabda Hyang Buddha :"Jika orang serakah, bagaikan seseorang memegang 
kayu kering yang terbakar dan berjalan melawan angin."
Kita tahu bahwa api dari kayu kering yang terbakar itu akan semakin berkobar. 
Bila kita tidak mau melepaskan kayu tersebut, maka tangan yang akan terbakar.
 
Demikian juga,hidup manusia yang hanya disibukkan untuk menambah harta 
kekayaan. Walaupun harta sudah banyak diperoleh , ia akan mengupayakan agar 
hartanya selalu bertambah terus , tanpa batas. Tergiur uang, lupa diri, tidak 
menjaga kesehatan, dan akhirnya jatuh sakit. Coba renungkan: Apakah uang yang 
dicari orang bisa habis? Alih-alih, yang habis adalah umur, energi dan 
kesehatan kita.
 
Teman se-Dharma yang berbahagia,ingat sabda Hyang Buddha "Bila banyak kemauan 
buruk,pastilah akan menderita" Untuk itu, kita harus belajar mengenal rasa 
puas, bersyukur, berterima kasih, jangan serakah, pusatkan perhatian dengan 
penuh kesadaran, bekerja keras melakukan perbuatan baik. Belajar memberi,tidak 
menuntut dan menerima apa adanya.
 
Jika telah bekerja keras, tapi tidak berhasil? Belajar menerima, tidak melekat, 
ikhlas dan yakin, itu jadi  Deposito Karma Baik  yang akan berbuah dimasa 
mendatang.
 
Biasakan untuk belajar dengan sujud dan konsentrasi, pagi dan 
malam,bersembahyang & samadhi. Bisa melepas semua beban yang ada dihati dan 
pikiran, walau sejenak itu sangat berguna.
 
Dengan kebiasaan itu, hidup akan lebih bermakna dan beruntung. Sesungguhnya, 
jika sudah dapat,tapi bisa tidak melekat,hasilnya lebih beruntung.
Omitofo


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke