® -----Original Message----- From: [email protected] Date: Mon, 28 Sep 2009 08:29:57 Subject: [buddhavacana] Update Pengobatan Tian, Ngawi
Namo Buddhaya, Pada liburan idul fitri lalu, rencananya saya akan ke Semarang (sekalian melihat kondisi Tian di Ngawi), namun karena adik saya pergi berlibur, sedang mama hanya sendirian di rumah, akhirnya saya batal pergi. Baru kemaren Sabtu saya punya kesempatan berangkat, walau tidak sempat sampai ke Semarang - karena volume kendaraan yang cukup padat, tapi minimal saya bisa mengupdate kondisi Tian di Ngawi. Karena saya berangkat sabtu sore, saya sampai di Madiun sudah malam, dan saya menginap di rumah teman saya. Esok paginya saya baru mengunjungi Tian di Ngawi. Banyak hal yang diceritakan oleh teman saya selama menemani proses perawatan Tian sejak awal. Efek samping dari penyinaran dan pengaruh obat yang menyebabkan mules dan disorientasi. Intinya pada proses awal tersebut sangat menguras perasaan. Sangat memilukan melihat anak muda tersebut menggeliat meringis menahan rasa tidak nyaman yang muncul sebagai efek samping dari proses perawatan. Beberapa bulan ini tidak bersua Tian, banyak perubahan yang tampak nyata. Lebih kurus dari sebelumnya, tulang-tulang wajah kentara, sekitar mata cekung sehingga mata terlihat lebih besar dari sebelumnya. Tapi kondisi ini ternyata adalah kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Dua bulan lalu kondisi Tian lebih buruk lagi. Beberapa jam di tempat Tian, akhirnya saya kembali ke rumah teman saya. Mengujungi beberapa orang teman di sekitar Madiun, hingga akhirnya saya meninggalkan Madiun menuju Surabaya sekitar pukul 20.00 WIB. Karena arus balik masih berlangsung dan lalu lintas sangat padat, perjalanan pulang ini memakan waktu hampir 5 jam. Dalam perjalanan pulang ini, sempat muncul ingatan beberapa kantong umat Buddha yang dulu pernah aku kunjungi yang tempatnya tidak terlalu jauh dari Ngawi. Jika sempat ke Semarang, mungkin akan bisa dihampiri, diantaranya adalah Pati, Jepara dan Rembang. Semoga berkesempatan mengunjungi desa-desa terpencil tersebut yang rata-rata penduduknya beragama Buddha. Semoga! Mettacettana, Abin [Non-text portions of this message have been removed]
