Tentang Urusan Boikot-Memboikot Produk AS

Oleh: Mula Harahap

Aha! Saya senang melihat sikap yang akhir-akhir ini
diperlihatkan oleh kawan-kawan saya sesama warga
negara Indonesia yang memboikot poduk
perusahaan-perusahaan AS. Soalnya, saya juga sudah
lama mempraktekkan sikap yang sama. Hanya--berbeda
dengan mereka--saya tidak berani untuk mengatakan apa
yang saya lakukan ini sebagai "boikot". Dan juga
berbeda dengan mereka, apa yang saya lakukan ini lebih
merupakan perlawanan budaya, ketimbang perlawanan
politik dan ekonomi. 

Tujuan aksi saya juga tidak langsung mau menganggu
kepentingan AS, apalagi dalam upaya mencari solusi
yang lebih adil di Timur Tengah. (Siapalah saya ini?
Dan apa pulalah negera dimana saya tinggal ini? AS itu
terlalu besar. Seandainya dua ratus juta orang
Indonesia pun melakukan boikot, barangkali hal itu
belum bisa mempengaruhi kebijaksanan AS terhadap Timur
Tengah, apalagi dalam waktu dekat).

Aksi saya sebenarnya sederhana saja: Sebisa mungkin
mengurangi ketergantungan saya terhadap terhadap
produk-produk luar negeri (tentunya termasuk AS). 

Saya berpikir, bahwa semakin banyak orang Indonesia
seperti saya, yaitu yang memprioritaskan produk-produk
hasil pikiran dan tangan dari bangsa dan negerinya
sendiri, maka akan berkembanglah industri dalam
negeri. Kalau industri dalam negeri berkembang, maka
akan berkembanglah teknologi. Kalau teknologi
berkembang, maka akan berkembanglah ilmu pengetahuan,
invensi dan inovasi. 

Nah, kalau industri, teknologi, ilmu pengetahuan,
invensi dan inovasi berkembang, maka barulah Indonesia
bisa unjuk-gigi dalam persaingan bangsa-bangsa.
Barulah Indonesia bisa "anggar jago" (kata orang
Medan) kepada AS, Israel, dan kepada siapa saja,
termasuk kepada Malaysia dan Singapura. 

Tapi saat ini, sebagai orang Indonesia, tentu tak
mungkin saya bisa "anggar jago". Jangankan ilmu
pengetahuan dan teknologi, garam saja harus diimpor
oleh negara ini--6 juta ton setahun--dari luar negeri,
antara lain dari Australia, sekutu AS yang menyebalkan
itu. 

Sama halnya seperti kawan-kawan saya sesama warga
negara Indonesia itu, saya juga sadar bahwa aksi saya
ini--apalagi kalau hanya dilakukan oleh segelintir
orang--sebenarnya adalah sesuatu yang tak masuk akal
dan sia-sia. Tapi inilah "sikap-doa" saya. Dan seperti
yang pernah dilakukan oleh Mahatma Gandhi, atau
pemimpin-pemimpin besar lainnya, "sikap doa" tak perlu
menunggu orang lain. Kita lakukan saja apa yang bisa
kita lakukan. Dan kita mulai dari diri kita.

Dan sama juga halnya seperti kawan-kawan sesama warga
negara Indonesia itu , saya mengalami bahwa aksi ini
bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalankan:

Terus-terang saja, untuk memakai kemeja yang mereknya
"Zulfikar-Taylor-Los-A2-Ps-Cempaka Putih", saya harus
mengeluarkan uang lebih banyak ketimbang membeli
kemeja yang mereknya "Arrow" atau "Manhattan". Jeruk
"Medan" (dan jambu air, belimbing, salak dsb) yang
saya beli di Carrefour itu jauh lebih mahal daripada
jeruk, apel, anggur dsb yang diimpor dari AS,
Australia, Cina dsb. 

Sebenarnya saya juga ingin membeli pulpen, jam tangan,
panci, gelas buatan Indonesia. Tapi saya tak pernah
bisa menemukannya. Karena itu, yah terpaksalah saya
harus membeli buatan negara lain. Dan tanpa harus
dilandasi oleh kebencian terhadap AS, terpaksa saya
membeli barang-barang buatan Cina, karena itulah yang
terjangkau oleh daya beli saya. 

Coca-cola? Akh, tanpa harus dilandasi semangat boikot
pun tak akan saya beli. Hidung saya sering geli ketika
gas karbonat itu keluar dari lambung. Pizza Hut dan
Donner Kebab (ini makanan Timur Tengah yang
"franchise"-nya dimiliki oleh AS) juga "tak masuk di
akal saya". Martabak telur yang "spesial" (memakai 2
telur bebek), yang dijual oleh orang Tegal di Pasar
Sumur Batu, adalah makanan yang paling nikmat bagi
saya.

Saya pun sudah lama tak pernah suka menghisap rokok
import seperti Malborro, John Players dan semacamnya
itu. Rokok kegemaran saya adalah Djie Sam Soe, yang
cengkeh dan tembakaunya tumbuh di bumi Indonesia.
(Tapi akhir-akhir ini saya dengar PT HM Sampoerna
sebagai pembuat Djie Sam Soe sudah dibeli pula oleh
Phllip Morris produsen rokok raksasa yang bermarkas di
AS konco Zionis Israel itu. Akh, berarti saya harus
beralih ke merek rokok lain....).

Sama halnya seperti kawan-kawan saya sesama warga
negara Indonesia--para pengusung gagasan boikot produk
AS itu--saya juga sebenarnya--kalau boleh--lebih suka
pulang ke Medan naik pesawat CN 235 ketimbang Boeing
707--200 (yang disamping buatan AS, usianya pun sudah
lebih dari 30 tahun). Tapi apa mau dikata? Tak ada
perusahaan penerbangan yang memakai CN 235 untuk
perjalanan ke Medan. Oh, ya, ada juga Garuda yang
memakai Airbus produksi konsorsium negara-negara Eropa
itu. Tapi tiket Garuda (baca: Airbus A-300) jauh lebih
mahal dari tiket Adam Air (baca: Boeing 707-200).
Begitulah, perjuangan memboikot produksi AS itu jadi
"berat di ongkos". 

Sama halnya seperti kawan-kawan saya sesama warga
negara Indonesia itu, saya juga berusaha sebisa
mungkin untuk tidak memakai produk Amerika (Jepang,
Cina, Malaysia dan sebagainya itu). Ini adalah sebuah
perjuangan yang berat. Tapi tak mengapalah. Sebagai
orang Indonesia, saya masih bermimpi negara yang saya
cintai ini suatu saat kelak harus mengalami
kebangkitan industri, teknologi, ilmu pengetahuan,
invensi dan inovasi. Saya masih bermimpi Indonesia
akan menjadi negara yang diperhitungkan di dunia, sama
halnya seperti AS, Inggeris, Perancis, Rusia, Cina,
India, Jerman, Jepang, dan--tentu saja--Israel. Dan
hanya "sikap-doa" memprioritaskan produk bangsa dan
negeri sendiri itulah yang bisa saya lakukan.

Tapi perjuangan yang saya lakukan ini makin lama
terasa makin berat. Karena salah urus, maka alih-alih
mengalami kebangkitan, industri (teknologi, ilmu
pengetahuan, invensi dan inovasi) negara dan bangsa
ini justeru mengalami keterpurukan. (Tadi malam saya
tak bisa tidur memikirkan Sidoarjo. Sudah lebih dari
dua bulan, tak ada yang bisa dilakukan oleh negara dan
bangsa ini untuk mengatasi semburan lumpur yang telah
menenggelamkan ratusan hektar pemukiman. Dan saya
takut, satu tahun dari sekarang pun masih belum ada
apa-apa yang dilakukan).

Dan yang membuat perjuangan terasa semakin lebih berat
ialah, akhir-akhir ini saya melihat pula begitu banyak
bermunculan udang-undang dan peraturan yang bernuansa
politik sektarian--politisasi agama, lebih
tepatnya--yang merongrong akal sehat dan kebebasan
berpikir (sebagai sebuah prasyarat untuk membangun
masyarakat yang berorientasi kepada teknologi, ilmu
pengetahuan, inovasi dan invensi). 

Terlalu banyak isyu "akhlak" dan "moral" yang kita
persoalkan; ketimbang isyu ketertinggalan dalam
teknologi dan ilmu pengetahuan. (Keputusan Bupati
Pandeglang untuk memprioritaskan masalah segregasi
murid perempuan dan laki-laki di sekolah itu,
ketimbang membangun laboratorium dan perpustakaan,
adalah sebuah keputusan yang membuat saya menangis.
Dan saya berfirasat bahwa dalam waktu dekat akan lebih
banyak lagi bermunculan peraturan atau
perundang-undangan seperti itu....).

Dalam suasana ekonomi yang amburadul, hukum yang
carut-marut dan sosial-politik yang penuh diwarnai
dengan isyu-isyu agama yang tidak kondusif dengan
pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan dan
teknologi; bagaimana kita bisa bangkit untuk menjadi
bangsa dan negara yang unggul dalam industri, invensi
dan inovasi? Bagaimana kita bisa bersaing dengan
bangsa dan negara lain? Bagaimana kita bisa
diperhitungkan oleh AS, dan bisa melakukan sesuatu
terhadap Israel? 

Dalam suasana kehidupan bangsa yang sungguh tidak
cerdas, bagaimana kita bisa menghapuskan penjajahan
dari muka bumi (membebaskan Palestina)?

Tapi tak mengapalah. Sama seperti kawan-kawan saya
sesama warga negara Indonesia itu, saya masih akan
terus melakukan "sikap-doa" dalam memajukan industri
(dan tentu saja juga tekonologi, ilmu pengetahuan,
invensi dan inovasi) di negeri ini. Walaupun di ulang
tahun ke 61 dari negara kesatuan yang sedang sakit,
yang bernama Republik Indonesia ini, saya sungguh
tidak tahu apakah saya masih melihat setitik sinar nun
di ujung kegelapan sana: Bangsa ini semakin bodoh dan
aneh-aneh saja!


                         













 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mailplus/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke