Lha? ini koq ada lagi?

Huehuehe.. klo boikot produk AS, saya gak bisa kerja/seneng2 dunk?
Lha kerja pan pake Pentium.. Intel.. bikinan/rancangan orang2 AS
trus AMD.. trus Windows.. dsb.. hehehe..

*Guyon lho


Salam..

PDKK TMMIN <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  Tentang 
Urusan Boikot-Memboikot Produk AS
 
 Oleh: Mula Harahap
 
 Aha! Saya senang melihat sikap yang akhir-akhir ini
 diperlihatkan oleh kawan-kawan saya sesama warga
 negara Indonesia yang memboikot poduk
 perusahaan-perusahaan AS. Soalnya, saya juga sudah
 lama mempraktekkan sikap yang sama. Hanya--berbeda
 dengan mereka--saya tidak berani untuk mengatakan apa
 yang saya lakukan ini sebagai "boikot". Dan juga
 berbeda dengan mereka, apa yang saya lakukan ini lebih
 merupakan perlawanan budaya, ketimbang perlawanan
 politik dan ekonomi. 
 
 Tujuan aksi saya juga tidak langsung mau menganggu
 kepentingan AS, apalagi dalam upaya mencari solusi
 yang lebih adil di Timur Tengah. (Siapalah saya ini?
 Dan apa pulalah negera dimana saya tinggal ini? AS itu
 terlalu besar. Seandainya dua ratus juta orang
 Indonesia pun melakukan boikot, barangkali hal itu
 belum bisa mempengaruhi kebijaksanan AS terhadap Timur
 Tengah, apalagi dalam waktu dekat).
 
 Aksi saya sebenarnya sederhana saja: Sebisa mungkin
 mengurangi ketergantungan saya terhadap terhadap
 produk-produk luar negeri (tentunya termasuk AS). 
 
 Saya berpikir, bahwa semakin banyak orang Indonesia
 seperti saya, yaitu yang memprioritaskan produk-produk
 hasil pikiran dan tangan dari bangsa dan negerinya
 sendiri, maka akan berkembanglah industri dalam
 negeri. Kalau industri dalam negeri berkembang, maka
 akan berkembanglah teknologi. Kalau teknologi
 berkembang, maka akan berkembanglah ilmu pengetahuan,
 invensi dan inovasi. 
 
 Nah, kalau industri, teknologi, ilmu pengetahuan,
 invensi dan inovasi berkembang, maka barulah Indonesia
 bisa unjuk-gigi dalam persaingan bangsa-bangsa.
 Barulah Indonesia bisa "anggar jago" (kata orang
 Medan) kepada AS, Israel, dan kepada siapa saja,
 termasuk kepada Malaysia dan Singapura. 
 
 Tapi saat ini, sebagai orang Indonesia, tentu tak
 mungkin saya bisa "anggar jago". Jangankan ilmu
 pengetahuan dan teknologi, garam saja harus diimpor
 oleh negara ini--6 juta ton setahun--dari luar negeri,
 antara lain dari Australia, sekutu AS yang menyebalkan
 itu. 
 
 Sama halnya seperti kawan-kawan saya sesama warga
 negara Indonesia itu, saya juga sadar bahwa aksi saya
 ini--apalagi kalau hanya dilakukan oleh segelintir
 orang--sebenarnya adalah sesuatu yang tak masuk akal
 dan sia-sia. Tapi inilah "sikap-doa" saya. Dan seperti
 yang pernah dilakukan oleh Mahatma Gandhi, atau
 pemimpin-pemimpin besar lainnya, "sikap doa" tak perlu
 menunggu orang lain. Kita lakukan saja apa yang bisa
 kita lakukan. Dan kita mulai dari diri kita.
 
 Dan sama juga halnya seperti kawan-kawan sesama warga
 negara Indonesia itu , saya mengalami bahwa aksi ini
 bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalankan:
 
 Terus-terang saja, untuk memakai kemeja yang mereknya
 "Zulfikar-Taylor-Los-A2-Ps-Cempaka Putih", saya harus
 mengeluarkan uang lebih banyak ketimbang membeli
 kemeja yang mereknya "Arrow" atau "Manhattan". Jeruk
 "Medan" (dan jambu air, belimbing, salak dsb) yang
 saya beli di Carrefour itu jauh lebih mahal daripada
 jeruk, apel, anggur dsb yang diimpor dari AS,
 Australia, Cina dsb. 
 
 Sebenarnya saya juga ingin membeli pulpen, jam tangan,
 panci, gelas buatan Indonesia. Tapi saya tak pernah
 bisa menemukannya. Karena itu, yah terpaksalah saya
 harus membeli buatan negara lain. Dan tanpa harus
 dilandasi oleh kebencian terhadap AS, terpaksa saya
 membeli barang-barang buatan Cina, karena itulah yang
 terjangkau oleh daya beli saya. 
 
 Coca-cola? Akh, tanpa harus dilandasi semangat boikot
 pun tak akan saya beli. Hidung saya sering geli ketika
 gas karbonat itu keluar dari lambung. Pizza Hut dan
 Donner Kebab (ini makanan Timur Tengah yang
 "franchise"-nya dimiliki oleh AS) juga "tak masuk di
 akal saya". Martabak telur yang "spesial" (memakai 2
 telur bebek), yang dijual oleh orang Tegal di Pasar
 Sumur Batu, adalah makanan yang paling nikmat bagi
 saya.
 
 Saya pun sudah lama tak pernah suka menghisap rokok
 import seperti Malborro, John Players dan semacamnya
 itu. Rokok kegemaran saya adalah Djie Sam Soe, yang
 cengkeh dan tembakaunya tumbuh di bumi Indonesia.
 (Tapi akhir-akhir ini saya dengar PT HM Sampoerna
 sebagai pembuat Djie Sam Soe sudah dibeli pula oleh
 Phllip Morris produsen rokok raksasa yang bermarkas di
 AS konco Zionis Israel itu. Akh, berarti saya harus
 beralih ke merek rokok lain....).
 
 Sama halnya seperti kawan-kawan saya sesama warga
 negara Indonesia--para pengusung gagasan boikot produk
 AS itu--saya juga sebenarnya--kalau boleh--lebih suka
 pulang ke Medan naik pesawat CN 235 ketimbang Boeing
 707--200 (yang disamping buatan AS, usianya pun sudah
 lebih dari 30 tahun). Tapi apa mau dikata? Tak ada
 perusahaan penerbangan yang memakai CN 235 untuk
 perjalanan ke Medan. Oh, ya, ada juga Garuda yang
 memakai Airbus produksi konsorsium negara-negara Eropa
 itu. Tapi tiket Garuda (baca: Airbus A-300) jauh lebih
 mahal dari tiket Adam Air (baca: Boeing 707-200).
 Begitulah, perjuangan memboikot produksi AS itu jadi
 "berat di ongkos". 
 
 Sama halnya seperti kawan-kawan saya sesama warga
 negara Indonesia itu, saya juga berusaha sebisa
 mungkin untuk tidak memakai produk Amerika (Jepang,
 Cina, Malaysia dan sebagainya itu). Ini adalah sebuah
 perjuangan yang berat. Tapi tak mengapalah. Sebagai
 orang Indonesia, saya masih bermimpi negara yang saya
 cintai ini suatu saat kelak harus mengalami
 kebangkitan industri, teknologi, ilmu pengetahuan,
 invensi dan inovasi. Saya masih bermimpi Indonesia
 akan menjadi negara yang diperhitungkan di dunia, sama
 halnya seperti AS, Inggeris, Perancis, Rusia, Cina,
 India, Jerman, Jepang, dan--tentu saja--Israel. Dan
 hanya "sikap-doa" memprioritaskan produk bangsa dan
 negeri sendiri itulah yang bisa saya lakukan.
 
 Tapi perjuangan yang saya lakukan ini makin lama
 terasa makin berat. Karena salah urus, maka alih-alih
 mengalami kebangkitan, industri (teknologi, ilmu
 pengetahuan, invensi dan inovasi) negara dan bangsa
 ini justeru mengalami keterpurukan. (Tadi malam saya
 tak bisa tidur memikirkan Sidoarjo. Sudah lebih dari
 dua bulan, tak ada yang bisa dilakukan oleh negara dan
 bangsa ini untuk mengatasi semburan lumpur yang telah
 menenggelamkan ratusan hektar pemukiman. Dan saya
 takut, satu tahun dari sekarang pun masih belum ada
 apa-apa yang dilakukan).
 
 Dan yang membuat perjuangan terasa semakin lebih berat
 ialah, akhir-akhir ini saya melihat pula begitu banyak
 bermunculan udang-undang dan peraturan yang bernuansa
 politik sektarian--politisasi agama, lebih
 tepatnya--yang merongrong akal sehat dan kebebasan
 berpikir (sebagai sebuah prasyarat untuk membangun
 masyarakat yang berorientasi kepada teknologi, ilmu
 pengetahuan, inovasi dan invensi). 
 
 Terlalu banyak isyu "akhlak" dan "moral" yang kita
 persoalkan; ketimbang isyu ketertinggalan dalam
 teknologi dan ilmu pengetahuan. (Keputusan Bupati
 Pandeglang untuk memprioritaskan masalah segregasi
 murid perempuan dan laki-laki di sekolah itu,
 ketimbang membangun laboratorium dan perpustakaan,
 adalah sebuah keputusan yang membuat saya menangis.
 Dan saya berfirasat bahwa dalam waktu dekat akan lebih
 banyak lagi bermunculan peraturan atau
 perundang-undangan seperti itu....).
 
 Dalam suasana ekonomi yang amburadul, hukum yang
 carut-marut dan sosial-politik yang penuh diwarnai
 dengan isyu-isyu agama yang tidak kondusif dengan
 pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan dan
 teknologi; bagaimana kita bisa bangkit untuk menjadi
 bangsa dan negara yang unggul dalam industri, invensi
 dan inovasi? Bagaimana kita bisa bersaing dengan
 bangsa dan negara lain? Bagaimana kita bisa
 diperhitungkan oleh AS, dan bisa melakukan sesuatu
 terhadap Israel? 
 
 Dalam suasana kehidupan bangsa yang sungguh tidak
 cerdas, bagaimana kita bisa menghapuskan penjajahan
 dari muka bumi (membebaskan Palestina)?
 
 Tapi tak mengapalah. Sama seperti kawan-kawan saya
 sesama warga negara Indonesia itu, saya masih akan
 terus melakukan "sikap-doa" dalam memajukan industri
 (dan tentu saja juga tekonologi, ilmu pengetahuan,
 invensi dan inovasi) di negeri ini. Walaupun di ulang
 tahun ke 61 dari negara kesatuan yang sedang sakit,
 yang bernama Republik Indonesia ini, saya sungguh
 tidak tahu apakah saya masih melihat setitik sinar nun
 di ujung kegelapan sana: Bangsa ini semakin bodoh dan
 aneh-aneh saja!
 
 __________





                
---------------------------------
Get your email and more, right on the  new Yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mailplus/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke