Kompas, Senin, 28 Agustus 2000

Tinggi, Perburuan Anakan Arwana di Merauke

Kompas/eddy hasby
Ikan Arwana dari Irian Jaya
 Jayapura, Kompas

Perburuan anakan ikan arwana oleh masyarakat sejak 1989 sangat gencar di perairan Merauke. Ikan arwana tidak ditemukan di lokasi sekitar perkampungan masyarakat kecuali harus masuk jauh ke pedalaman. Anakan arwana dijual kepada pengumpul dengan harga Rp 500-Rp 1.000/ ekor.

Thomas Barano Materay, Senior Officer Fresh Water World Wide Fund for Nature (WWF) di Jayapura, Jumat (25/8), mengatakan, anakan ikan arwana di Sungai Merauke sejak 1989 ditangkap masyarakat setempat. Penangkapan anakan ikan awarna sampai hari ini masih meluas di seluruh perairan Merauke.

Penangkapan itu dilakukan warga dari luar Irja yang tergabung dalam satu bentuk perusahaan pencari anakan arwana. Juga dilakukan oleh masyarakat lokal secara perorangan. Di daerah-daerah pe-dalaman biasanya dilakukan warga lokal atas pesanan para pedagang/pengumpul anakan arwana dari luar yang berbisnis anakan arwana.

"Sekarang ini mencari anakan ikan arwana di Merauke sangat sulit, apalagi arwana dewasa. Diperkirakan telah terjadi degradasi populasi arwana karena beberapa generasi putus. Ada generasi yang terputus karena penangkapan tersebut. Selama tahun 2000 ikan arwana di sungai-sungai Merauke tidak dapat ditemukan di sekitar lokasi perkampungan," tutur Barano.

Ribuan ekor

Penangkapan anakan arwana ini menurut perkiraan dalam sehari sampai ribuan ekor. Penangkapan dilakukan secara tersembunyi di sungai-sungai yang ditutupi hutan rimba, sehingga sulit dikontrol.

Anakan arwana kemudian dijual kepada pengumpul anakan arwana di Merauke. Biasanya satu ekor dihargai Rp 500-Rp 1.000, tergantung jumlah penangkapan. Makin banyak, makin murah harganya. Anakan ikan ini kemudian dilanjutkan ke penadah anakan arwana di luar Irja.

Penangkapan biasanya menggunakan jaring-jaring dalam ukuran sangat kecil, sehingga telur-telur ikan pun turut tertangkap. Ini menyebabkan populasi arwana di sungai-sungai di Merauke dari waktu ke waktu terus berkurang.

Populasi arwana terbesar di Sungai Merauke, Sungai Digul, Sungai Kumbe, Sungai Bulaka dan Sungai Biau. Namun, belakangan ini di sungai-sungai tersebut sudah sangat jarang ditemukan ikan arwana, kecuali kalau masuk sampai jauh beberapa kilometer ke pedalaman.

Lokakarya

Berkaitan dengan itu, Barano mengungkapkan, tanggal 28 Agustus hingga 2 September 2000 ini, akan diadakan lokakarya khusus yang membahas fauna dan flora di Irja termasuk pemetaan ekoregion Irja; dihadiri WWF dari Belanda, Amerika Serikat, dan Papua Nuigini. Prioritas utama dalam lokakarya adalah meneliti keanekaragaman hayati di Irja. "Jenis reptil dan mamalia menjadi sasaran utama karena penelitian terhadap reptil dan mamalia telah dilakukan puluhan tahun silam, dan diduga telah banyak mengalami kerusukan atau pemusnahan." tuturnya.

Para ahli yang hadir dalam lokakarya di Hotel Sentani Irja dari latar belakang ahli burung, reptil, mamalia, tumbuh-tumbuhan dan spesies asing. Di dalam lokakarya akan dibahas juga pemetaan wilayah fauna, flora, dataran rendah, pegunungan, dan lainnya.

Berdasarkan sebaran fauna dan flora di Irja, WWF Irja telah menetapkan 12 lokasi ekoregion di seluruh daratan Irja. Ke-12 ekoregion tersebut antara lain Australia mangroves, Cenderawasih Bay moist forests, Central range montane forests, Maoke Ranga montane forests, Northern New Guinea lowland forests, West Irian lowland forests, Fogelkop montane forests, dan Maoke Range alpine meadows .

Dengan pemetaan ini cara pengontrolan, pelestarian, dan penelitian pun sesuai peta yang ada. Pembangunan Irja ke depan diharapkan dapat memperhatikan peta ekoregion tersebut. (kor)

Kirim email ke