Tinggi, Perburuan
Anakan Arwana di Merauke
|
Kompas/eddy hasby Ikan Arwana
dari Irian Jaya
|
Jayapura,
Kompas
Perburuan anakan ikan arwana oleh masyarakat sejak 1989 sangat
gencar di perairan Merauke. Ikan arwana tidak ditemukan di lokasi
sekitar perkampungan masyarakat kecuali harus masuk jauh ke
pedalaman. Anakan arwana dijual kepada pengumpul dengan harga Rp
500-Rp 1.000/ ekor.
Thomas Barano Materay, Senior Officer Fresh Water World Wide Fund
for Nature (WWF) di Jayapura, Jumat (25/8), mengatakan, anakan ikan
arwana di Sungai Merauke sejak 1989 ditangkap masyarakat setempat.
Penangkapan anakan ikan awarna sampai hari ini masih meluas di
seluruh perairan Merauke.
Penangkapan itu dilakukan warga dari luar Irja yang tergabung
dalam satu bentuk perusahaan pencari anakan arwana. Juga dilakukan
oleh masyarakat lokal secara perorangan. Di daerah-daerah pe-dalaman
biasanya dilakukan warga lokal atas pesanan para pedagang/pengumpul
anakan arwana dari luar yang berbisnis anakan arwana.
"Sekarang ini mencari anakan ikan arwana di Merauke sangat
sulit, apalagi arwana dewasa. Diperkirakan telah terjadi degradasi
populasi arwana karena beberapa generasi putus. Ada generasi yang
terputus karena penangkapan tersebut. Selama tahun 2000 ikan arwana
di sungai-sungai Merauke tidak dapat ditemukan di sekitar lokasi
perkampungan," tutur Barano.
Ribuan ekor
Penangkapan anakan arwana ini menurut perkiraan dalam sehari
sampai ribuan ekor. Penangkapan dilakukan secara tersembunyi di
sungai-sungai yang ditutupi hutan rimba, sehingga sulit dikontrol.
Anakan arwana kemudian dijual kepada pengumpul anakan arwana di
Merauke. Biasanya satu ekor dihargai Rp 500-Rp 1.000, tergantung
jumlah penangkapan. Makin banyak, makin murah harganya. Anakan ikan
ini kemudian dilanjutkan ke penadah anakan arwana di luar Irja.
Penangkapan biasanya menggunakan jaring-jaring dalam ukuran
sangat kecil, sehingga telur-telur ikan pun turut tertangkap. Ini
menyebabkan populasi arwana di sungai-sungai di Merauke dari waktu
ke waktu terus berkurang.
Populasi arwana terbesar di Sungai Merauke, Sungai Digul, Sungai
Kumbe, Sungai Bulaka dan Sungai Biau. Namun, belakangan ini di
sungai-sungai tersebut sudah sangat jarang ditemukan ikan arwana,
kecuali kalau masuk sampai jauh beberapa kilometer ke pedalaman.
Lokakarya
Berkaitan dengan itu, Barano mengungkapkan, tanggal 28
Agustus hingga 2 September 2000 ini, akan diadakan lokakarya khusus
yang membahas fauna dan flora di Irja termasuk pemetaan ekoregion
Irja; dihadiri WWF dari Belanda, Amerika Serikat, dan Papua Nuigini.
Prioritas utama dalam lokakarya adalah meneliti keanekaragaman
hayati di Irja. "Jenis reptil dan mamalia menjadi sasaran utama
karena penelitian terhadap reptil dan mamalia telah dilakukan
puluhan tahun silam, dan diduga telah banyak mengalami kerusukan
atau pemusnahan." tuturnya.
Para ahli yang hadir dalam lokakarya di Hotel Sentani Irja dari
latar belakang ahli burung, reptil, mamalia, tumbuh-tumbuhan dan
spesies asing. Di dalam lokakarya akan dibahas juga pemetaan wilayah
fauna, flora, dataran rendah, pegunungan, dan lainnya.
Berdasarkan sebaran fauna dan flora di Irja, WWF Irja telah
menetapkan 12 lokasi ekoregion di seluruh daratan Irja. Ke-12
ekoregion tersebut antara lain Australia mangroves, Cenderawasih
Bay moist forests, Central range montane forests, Maoke Ranga
montane forests, Northern New Guinea lowland forests, West Irian
lowland forests, Fogelkop montane forests, dan Maoke Range
alpine meadows .
Dengan pemetaan ini cara pengontrolan, pelestarian, dan
penelitian pun sesuai peta yang ada. Pembangunan Irja ke depan
diharapkan dapat memperhatikan peta ekoregion tersebut. (kor)