Kompas, Selasa, 31 Oktober 2000

Dari Turnamen Mancing Kasal Cup III Manado
Memburu Ikan Marlin hingga ke Biaro

Bambang Setiawan
 Matahari sudah bergeser ke barat dan sebuah kapal mancing dengan kecepatan konstan melaju pelan-pelan di perairan Sangihe. Kapal itu sudah hampir seharian mengelilingi Pulau Biaro, perairan yang selama ini dikenal oleh pemancing-pemancing memiliki potensi besar akan keberadaan ikan marlin biru.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.30 waktu setempat ketika tiba-tiba terdengar teriakan: Strike!mm MItulah teriakan yang paling pertama diserukan oleh anggota tim Krakatau Lagi, ketika salah satu umpan cumi-cumi tiruan yang dipasang di salah satu pancing dimakan ikan hingga reel penggulung tiba-tiba berderit panjang. Mendengar teriakan ini, nakhoda kapal mancing segera menghentakkan laju kapalnya dengan cepat. Ikan yang rupanya kaget dengan hentakan kapal ini kemudian meloncat ke udara.

"Marlin!" teriak anggota tim yang menjadi sangat bersemangat melihat tarian ikan bercucut panjang itu di udara.

Sekitar 200 meter kemudian kapal mengurangi laju kapalnya hingga berhenti. Kini tiba saatnya seseorang harus melakukan fight (pertarungan) dengan ikan. Edmund Mardiyanto, salah seorang pemancing kemudian menghambur ke kursi ajar, memantapkan cara duduknya, dan memindahkan alat pancing yang sedang disambar ikan itu ke pangkuannya. Anggota tim lainnya sibuk membantu menempatkan sabuk ajar ke pinggangnya, yang lain mengatur tinggi rendahnya kursi ajar. Awak kapal yang lain sibuk menggulung peralatan mancing yang tidak terpakai agar tidak mengganggu proses fight dengan ikan yang paling bergengsi ini.

Inilah waktunya pertarungan dengan ikan besar itu dimulai. "Melihat caranya meloncat, ini marlin besar!" kata Jahadi Odang, salah seorang anggota tim. "Biasanya kalau marlinnya kecil, seluruh badannya akan terangkat ketika meloncat ke udara. Tetapi kalau besar, hanya separuh badannya yang muncul meliuk-liuk di permukaan air laut," jelas Odang.

Edmund kini sudah siap untuk mulai memompa setelah semua peralatan yang diperlukan terpasang di badannya. Maka reel (penggulung) dengan tali berkekuatan 50 lbs (sekitar 24 kg) ini pun dihelanya pelan-pelan. Tarik-ulur harus lebih hati-hati karena tali yang dipergunakan hanya memiliki kekuatan 24 kg, artinya diperlukan keahlian yang optimal agar dapat mengangkat ikan marlin di perairan ini yang sering kali beratnya melebihi 100 kg. Maka Edmund tidak mau terlalu memaksakan menggulung terus reel di tangannya. Ia membiarkan tali itu ditarik kembali, kalau terasa ada perlawanan dari bawah. Terkadang ia membiarkan tali terus terulur hingga gerakan ikan seolah berhenti. Sekarang gantian ia memompa dan memompa.

***

MEMANCING ikan marlin biru (setuhuk biru, Makaira nigricans) diperlukan sebuah tim yang tangguh. Kedudukan pemegang reel hanya satu posisi dari sebuah kerja sama.

Selain pemancing, peranan nakhoda dan kapten kapal sangat menentukan. Sementara pemancing berkonsentrasi dengan alat penggulungnya, kapten memerintahkan kepada nakhoda untuk memaju-mundurkan, menjauh dan mendekatkan kapal ke posisi terbaik bagi pemancing untuk menghela penggulung. Nakhoda harus memperhatikan arah ikan berenang dan komando dari kapten kapal.

Sementara itu, perlawanan ikan tampaknya belum berakhir, sekalipun sudah lebih dari satu jam pertarungan dengan pemancing berlangsung. Perlahan-lahan, Edmund mulai mempercepat menggulung tali pancing. Ikan tampaknya mulai menyerah. Dari kedalaman ratusan meter, sekarang tinggal sekitar 20 meter. Bentuk ikan sudah membayang dilihat dari pinggiran kapal. "Wah...ini sih lebih dari 150 kilo!" teriak Pak Oyong, nelayan pemancing marlin yang direkrut menjadi kru kapal dalam turnamen ini.

Keringat Edmund sudah membasahi seluruh badannya hingga dari ubun-ubunnya juga mengalir dengan deras butir-butir peluh. Di samping tenaga fisik yang terkuras selama satu jam bertarung tarik-ulur dengan marlin, perasaan tegang biasanya semakin membuat pemancing bagai mandi keringat. Melihat kondisi ini, teman-teman lain kemudian segera mengguyur air ke muka dan punggungnya. Reel pun ikut disiram untuk meredakan tekanan akibat panas selama proses tarik-ulur.

Jam sudah menunjukkan pukul 15.45 ketika akhirnya ikan semakin mendekati permukaan. Tinggal beberapa meter lagi, ketika tiba-tiba ikan membelok menuju ke perut kapal. Posisi yang sangat berbahaya. Kapal harus dipacu menjauh agar tali pancing terhindar dari kemelut baling-baling. Kapten segera teriak kepada nakhoda untuk menjauhkan kapal. Namun, baru saja nakhoda hendak mengarahkan kapal menjauh, terdengar suara cukup keras: "Praaat...!" tali pancing putus kena baling-baling.

Seketika semua anggota tim di kapal Krakatau Lagi terdiam. Keadaan sangat sunyi, hanya desir ombak berkecipak di samping kapal. Inilah puncak ketegangan dari suasana seru yang dibangun satu seperempat jam yang lalu. Tiba-tiba semua penumpang lemas dan tidak mampu berkata-apa-apa, hanya geleng-geleng kepala yang sesekali terlihat di antara mereka. Tetapi itulah marlin, gerakan-gerakan tak terduganya membuat ikan ini menjadi ikan paling favorit untuk dipancing oleh para pemancing profesional.

Setiap tarikannya selalu menciptakan sejarah bagi pemburu marlin, entah akhirnya tertangkap atau putus. Dan ketika turnamen hari pertama itu selesai, sejarah mencatat: hari itu sebuah pakula telah ditelan marlin, mungkin tak akan kembali. Mereka hanya berharap besok akan ada marlin lagi yang mau menelan pakula.

Sementara itu, lewat radio komunikasi tersiar berita bahwa tim Kapal Putri Lima sedang bergelut dengan seekor ikan marlin sejak pukul 16.30. Tiga jam kemudian barulah ikan itu bisa dipinggirkan ke samping kapal dan diberi label.

***

Turnamen Kasal Cup III (International Billfish Tournament) di Manado merupakan perlombaan mancing paling bergengsi saat ini di Indonesia. Turnamen ini hanya memancing jenis ikan bercucut panjang saja (marlin, layaran, dan sebangsanya).

Perlombaan yang setiap tahun diadakan di wilayah Sulawesi Utara ini, biasanya selain diikuti para pemancing profesional dalam negeri, juga para pemancing dari negara tetangga.

Turnamen berlangsung empat hari berturut-turut, yakni tanggal 27-30 September 2000 dengan hadiah total yang disediakan lebih dari Rp 100 juta. Hadiah paling tinggi, sebesar Rp 100 juta, diberikan kepada peserta yang bisa mengangkat marlin dengan berat lebih dari 200 kg. Jika ukuran berat ikan kurang dari itu, diberlakukan sistem penilaian Tag & Release (T & R): ikan hanya dipinggirkan ke tepi kapal untuk diberi label, kemudian dilepaskan lagi tanpa ditimbang. Sebuah kapal yang berhasil melakukan T & R dengan tali pancing terkecil pada hari itu akan mendapatkan uang sejumlah Rp 2,5 juta.

Sebanyak 17 tim beserta kapal mancingnya ikut serta dalam turnamen yang diadakan setahun sekali ini, 10 buah kapal didatangkan dari Jakarta, tiga dari Surabaya dan sisanya disewa dari Manado.

Pesertanya kebanyakan para pengusaha yang hobi mancing, seperti Ponco Sutowo, Sulaiman, Yuwono Kolopaking, Adiwarsita Adinegoro, Frans van Drutten, dan Bobby Halim.

Hari pertama turnamen dimenangkan tim Kapal Putri Lima (Feishol Hashim dan Josphet) dengan nilai 1.500 poin karena berhasil melakukan T & R dengan kenur ukuran 50 lb.

Sementara tim Kapal Fat Boy (Frans van Drutten, Karel van Drutten, Andi Bola dan Juhana) yang pada tahun lalu sempat menjadi juara umum harus menahan kekecewaan akibat kenurnya dua kali putus setelah bertarung dengan marlin dalam waktu yang singkat. Hari pertama tampaknya masih sepi dari strike (umpan dimakan ikan).

Hari ke dua terjadi cukup banyak strike. Tetapi lagi-lagi kapal Putri Lima mengumpulkan nilai paling banyak. Sementara kapal Sriwijaya 3 yang digunakan tim Susanto Nursewan (pengusaha asal Palembang) dan Nursasongko Anwar (redaktur Majalah Mancing) mulai mendapatkan angka setelah berhasil melakukan T & R.

Tim dari kapal Krakatau Lagi terpaksa menahan kekecewaan lagi, setelah kenurnya putus ketika strike akibat terjadi kemacetan pada reel penggulung kenur. Di hari ke dua ini juga tercatat dua ekor marlin diangkat ke darat karena disangka beratnya mencapai lebih dari 200 kg. Namun, ikan tersebut terpaksa didiskualifikasi karena berat ikan yang dipancing oleh tim dari kapal Putri Lima hanya 133 kg dan ikan dari kapal Marlin (dari Marlin Fishing Club Surabaya) hanya mencapai berat 123,5 kg.

Hari ke tiga turnamen lagi-lagi tim Nugra Santana 3 di kapal Putri Lima berhasil strike marlin dan melakukan T & R. Kedudukan Feishol Hashim dan Josphet di kapal Putri Lima ini sudah sulit terkejar, apalagi ketika pada hari terakhir tim ini menambah satu lagi T & R. Selain kapal Putri Lima ada tiga tim yang juga mendapatkan nilai yaitu tim Nugra Santana 1 (Ponco Sutowo dan Dali Sofari), Marlin Fishing 1 (dengan pemancing Lambertos Waskito) dan Marlin 2 (pemancing Heru Listyo).

Secara keseluruhan turnamen ini dimenangkan Tim Nugra Santana 3 (Feishol Hashim dan Josphet), juara kedua Sriwijaya FC (Susanto Nursewan dan Nursasongko Anwar) dan posisi terakhir dipegang tim Nugra Santana 1 (Ponco Sutowo dan Dali Sofari).

Namun, demikian tidak ada satu tim pun yang berhasil mendapatkan jackpot senilai seratus juta rupiah karena tidak ada tim yang berhasil memancing marlin dengan berat di atas 200 kg. "Tapi hadiah itu diasuransikan, dan dipakai lagi pada turnamen mendatang," jelas Dadi Kartahadimadja, ketua panitia penyelenggara turnamen.

***

Hobi mancing marlin ini memang mahal dan harus didanai sendiri oleh pesertanya. Dana makin terasa tinggi bila tidak pernah mendapatkan satu kali strike sekali pun.

Untuk uang pendaftaran saja satu tim harus mengeluarkan Rp 6 juta, sedangkan untuk mengangkut kapal mancing dari Jakarta atau Surabaya bolak-balik harus mengeluarkan Rp 24 juta. Belum lagi biaya ongkos menginap di hotel.

"Total biaya satu tim bisa mencapai Rp 60 juta untuk turnamen ini. Saya saja yang bukan pemilik kapal dan hanya ikut kapal Sigareng telah menghabiskan Rp 12 juta padahal saya sudah ngirit," kata Indra Patisiana, seorang pemancing dari tim Sigareng, yang juga pemilik situs www.mancingl.com itu.

Senyum kecut sering juga menghiasi beberapa tim yang tidak berhasil mendapatkan ikan marlin. Tim Si Gareng, misalnya, sejak hari pertama hingga hari terakhir tidak merasakan tarikan marlin. Padahal, di kapal itu terdapat pemancing-pemancing kelas dunia seperti Sulaiman yang tahun 1997 (bersama Bobby Halim) pernah memperoleh juara II dalam turnamen 8th Lexus Marlin Fishing Classic di Cairns, Australia dengan menaklukkan lima ekor marlin. Keberuntungan memang menjadi faktor lain, di samping sikap profesional mereka. (Bambang Setiawan, Litbang Kompas)

Kirim email ke