|
Selasa, 31 Oktober
2000 SIBUK - Anggota tim mancing di Kapal Krakatau Lagi
sedang sibuk mempersiapkan peralatan pancing untuk memburu ikan marlin, di hari
pertama turnamen mancing yang diadakan empat hari berturut-turut, 27-30
September 2000.
Hobi dan Komunitas Pemancing Ikan
Tengoklah kolam-kolam pemancingan yang semakin hari semakin banyak bertumbuhan di pusat-pusat kota dan pinggiran, yang setiap Sabtu dan Minggu selalu ramai dikunjungi oleh pecandu mancing. Toko-toko pancing semakin banyak dijumpai di pinggiran kota, bahkan terkadang bisa dijumpai di keramaian pedagang kaki lima, seolah menjual peralatan pancing sama untungnya dengan menjual pakaian atau peralatan rumah tangga lainnya.
Untuk penggulung tidak lagi menggunakan gulungan kayu berbentuk seperti yoyo, tetapi menggunakan reel yang dibeli di toko-toko khusus peralatan pancing. Bentuk dan harganya pun bervariasi, dari yang puluhan ribu rupiah hingga puluhan juta rupiah. Para pemancing modern, apalagi yang profesional, sudah semakin membedakan antara mancing di air tawar dan mancing di laut. Di laut pun terdapat variasi pemakaian, reel yang dipakai di pinggir dengan yang dipakai di laut dalam. Dan, di laut dalam pun masih dibedakan antara reel yang dipakai untuk mancing dasar dan yang dipergunakan untuk menonda (trolling, memancing sambil melajukan perahu). Demikian juga dengan joran, di samping variasi harga dan pemakaian, bahan yang dipergunakan semakin bervariasi, mulai dari fiberglass, grafit, fibercarbon hingga boron. Di Jakarta, kapal-kapal khusus mancing juga semakin banyak jumlahnya. Kalau kita lihat di Marina Ancol, deretan kapal mancing hampir memenuhi pelabuhan pesiar ini. Mereka tidak hanya dilengkapi dengan reel dan joran, tetapi juga depth sounder (alat pendeteksi keberadaan ikan) dan Global Positioning System (GPS) untuk menentukan koordinat sasaran lokasi mancing. Sehingga bagi golongan pemancing kelas atas ini hampir tidak ada kesukaran untuk memancing di lokasi yang sangat tepat. Dengan adanya Internet, peralatan-peralatan mancing menjadi semakin dikenal dan perkembangan produk-produk baru dengan cepat diserap oleh kalangan menengah ke atas yang maniak pada hobi mengail ikan ini. Hampir semua produsen alat pancing terkenal seperti Daiwa, Shimano, Penn, Abu Garcia, dan lain-lain selalu bersaing menawarkan produk baru mereka lewat Internet. Belanja peralatan ini secara on-line lewat Internet kemudian menjadi salah satu pilihan yang mulai membudaya. ***GEJOLAK pertumbuhan hobi mancing ini rupanya juga disadari oleh beberapa pemancing profesional (seperti Adiwarsita Adinegoro, D J Pamoedji, Adiguna Sutowo, Dali Sofari, Pudjo Basuki, Ponco Sutowo, Yuwono Kolopaking, Dadi Kartahadimadja, dan lain-lain) yang kemudian pada tahun 1993 membentuk wadah dengan nama Federasi Organisasi Mancing Seluruh Indonesia (Formasi). Wadah yang semula didirikan oleh 18 orang ini kemudian pada tahun 1996 mengubah makna singkatannya menjadi Federasi Olahraga Mancing Seluruh Indonesia (Formasi), hingga wadah mancing ini bukan lagi sekadar organisasi hobi tetapi menjadi wadah pemersatu olahraga mancing. Beberapa teknik dan peraturan pun lalu dipelajari dan mereka mengadopsinya dari organisasi mancing dunia (IGFA- International Game Fish Association). Seiring dengan perbaikan peraturan-peraturan mancing, mulai banyak catatan rekor Nusantara yang dicatat di buku Formasi. Beberapa bahkan sudah mulai menempati posisi dalam catatan rekor dunia. Banyak turnamen sudah dilakukan oleh Formasi untuk lebih menggiatkan olahraga ini, dan secara berkala setahun sekali organisasi ini mengadakan turnamen internasional dengan nama Presiden Cup dan Kasal Cup. Kesadaran untuk berorganisasi rupanya semakin tumbuh di kalangan pemancing. Hingga di samping organisasi formal, beberapa pemancing juga mulai membentuk komunitas maya lewat Internet. Situs http:// www.mancingl.com, atau http:// komparinet.tripod.com menjadi media komunikasi untuk melengkapi kebutuhan pemancing. Bagi mereka yang mulai terbiasa dengan e-mail, ajang pergaulan menjadi tidak terbatas hingga saling tukar informasi dan pengetahuan mengenai teknik memancing dengan mudah bisa diserap. Percakapan lewat e-mail grup [EMAIL PROTECTED] serta [EMAIL PROTECTED] menjadi keasyikan tersendiri bagi pengail yang ingin menambah wawasan, karena di sana berkumpul pemancing-pemancing mulai dari yang tradisional hingga profesional. Bisnis mancing yang semakin menggiurkan ini rupanya juga ditangkap oleh Fudji Wong, seorang pegawai asuransi yang kemudian menekuni jasa layanan mancing bagi para pengusaha atau kalangan berduit dengan cara menyewakan kapal lengkap dengan peralatan mancing beserta kru kapal yang siap melayani kebutuhan penyewa. Mereka yang mau mancing tidak perlu repot-repot menyiapkan peralatan dan umpan, karena semua akan dilayani bak seorang raja. Ia mencoba menggaet pelanggan lewat jaringan pribadi maupun Internet (www.fishingindonesia.com). Di sana ia memasang tarif 800 dollar AS per hari untuk kapal standar, dan 1.000 dollar AS per hari untuk jenis kapal mewah. "Kalau tidak mendapat ikan sama sekali, dijamin uang dikembalikan setengah," demikian janji Wong kepada calon pelanggannya. (Bambang Setiawan, Litbang Kompas) Text foto:
"SPEED BOAT" - Sejumlah kapal
mancing khusus didatangkan dari Jakarta dan Surabaya untuk mengikuti Turnamen
Mancing Kasal Cup III Manado, disandarkan di Blue Banter Marina.
|
