Ramalan Cuaca Jawa Bagian Selatan dapat dibaca di artikel ini. Untuk Mas Soni, Abah
Pudjo dan kawan-kawan yang mau ke Gombong.
Selasa, 7 November 2000
Banjir Kali Ini Dampak dari Xangsane
Jakarta, Kompas
Hujan lebat yang mengguyur sebagian besar wilayah di Pulau Jawa hingga menimbulkan
banjir hebat-antara lain di Cilacap dan Semarang-merupakan dampak tidak langsung yang
ditimbulkan oleh Xangsane dan Bebinca.Xangsane adalah badai tropis yang muncul tanggal
26 Oktober lalu di sebelah barat Pasifik atau di selatan Filipina. Badai ini hilang
beberapa hari lalu setelah sebelumnya bergerak ke utara. Namun, kemudian disusul oleh
badai Bebinca yang saat ini bergerak ke barat laut.
Diperkirakan, dalam dua hari mendatang badai ini akan sampai di daratan Cina. Bebinca
diperkirakan akan memicu munculnya angin kencang di sebagian besar wilayah Indonesia
bagian barat, dan menimbulkan hujan lebat di wilayah tersebut dalam dua hari
mendatang.
Prediksi kondisi cuaca ini disampaikan Kepala Sub Bagian Prakiraan dan Jasa
Meteorologi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Achmad Zakir kepada Kompas di
Jakarta, Senin. "Kalau badai masuk daratan Cina, justru harus diwaspadai karena akan
timbul hujan lebat di selatan wilayah Jawa," jelasnya.
Badai tropis yang muncul di selatan Filipina menyebabkan terbentuknya konvergensi masa
udara yang memanjang dari Sumatera Selatan sampai utara Kalimantan. Pada jalur ini
terbentuk shear line atau belokan angin dari Sumatera Selatan hingga ke Jawa Tengah.
Pada daerah ini terbentuk awan-awan aktif atau awan kumulonimbus yang mengakibatkan
hujan lebat pada jalur itu, termasuk daerah Jawa Tengah bagian selatan.
Kondisi cuaca yang muncul akibat badai itu, menurut Zakir, kemungkinan diperparah oleh
adanya daerah tekanan rendah di utara Australia, yang terlihat hari Senin kemarin pada
citra satelit cuaca. Tekanan rendah ini akan memicu perubahan angin dari utara ke
selatan, atau disebut monsun Asia. Gejala tersebut, lanjutnya, suatu yang normal saat
berlangsungnya musim pancaroba, dari kemarau ke hujan. Dengan pola arus angin
tersebut, Indonesia berarti telah memasuki musim hujan.
Di atas normal
Berdasarkan data curah hujan yang tercatat di BMG, sebagian besar Pulau Jawa telah
memasuki musim hujan pada November ini, dengan sifat hujan sebagian besar di atas
normal. Padahal pada bulan sebelumnya sifat hujan masih dalam tingkat normal.
Dijelaskan Zakir, aktivitas badai tropis Xangsane ada kaitan dengan hujan lebat tiga
hari berturut-turut di Semarang. Di daerah ini pada akhir Oktober lalu tercatat curah
hujannya mencapai 69 mm. Sedangkan pada 10 hari terakhir bulan lalu curah hujan
mencapai 87,1 mm. Curah ini berarti di atas normal yang sebesar 50 mm. Di luar Jawa,
sebagian besar daerah prakiraan musim juga telah memasuki musim hujan, kecuali
Lampung, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.
Berdasarkan dinamika peredaran atmosfer dan suhu muka laut di wilayah Indonesia, kata
Zakir lagi, maka gangguan badai bulan November 2000 di belahan Bumi utara dan selatan
diprakirakan normal.
Lebih lanjut diutarakan, banjir yang terjadi di beberapa tempat sebenarnya akibat
beberapa faktor, baik cuaca maupun noncuaca seperti tata lingkungannya. Kasus banjir
di Semarang dan Cilacap, menurut Zakir, lebih disebabkan faktor nonmeteo. Banjir yang
terjadi di Cilacap, ditinjau dari fenomena cuaca atau iklim terjadi akibat adanya
akumulasi curah hujan pada hari-hari sebelumnya selama Oktober 2000.
Kejadian tanah longsor, paparnya, erat kaitannya dengan adanya tanah yang meregang
karena kurang kelembaban selama musim kemarau. Adanya intensitas curah hujan yang
tinggi dalam waktu singkat, akan menyebabkan lepasnya ikatan molekul tanah yang
meregang itu, hingga mengakibatkan longsor. (yun)