Berangkat dari Marina sekitar jam 06.30 pagi. Para pengail ikan yang
bernafsu memburu tengiri adalah Pak Yunus, Pak Ferry, Budi, Kirman, Adrianus
dan Bst. Angin sedikit besar bertiup dari Barat Daya, terlihat buih-buih
putih menghiasi hamparan laut sepanjang perjalanan. Di sebuah tandes kami
ngotrek umpan selar dan Como. Tapi arus kelihatannya belum ada, sehingga
kami memutuskan untuk memancing kakap merah dulu di sebuah tandes baru yang
dikekemukan di jalan. Segera kami menimba Gadis Mirah Delima seukuran 1/2
sampai 1 kiloan. Syukurlah Kapten segera menyudahi mancing di tempat ini,
hingga Gadis Mirah yang masih banyak "wulu kalong"nya seukuran 1 kiloan itu
terpaksa tampil sebagai simbol kepemimpinan "gerakan separatisme
kepemilikan" hingga mau nggak mau uang sejumlah sepuluh ribu harus
"separated" dengan pemiliknya dan dipindahkan ke kantong saya (sekarang
disimpan di brankas yunus).
Arus keliatannya belum mulai ngalir, jadi kita cari tandes baru. Di tandes
"Kirman" ini, sesuai dengan namanya, sejumlah transaksi gelap beralih ke
kantong mojang (emoh bujang) Priangan ini dengan 1,2 kilo Adik Mira.
Perjalanan sesungguhnya kini dimulai, kapal mengarah ke tandes Munadi. Baru
saja kapal berhenti mengatur posisi, tiba-tiba Pak Ferry sudah teriak
pancingnya dimakan tenggiri. Hanya dalam waktu singkat jeng riri yang masih
kencur berhasil diajak tidur di kabin kapal. Lama kemudian tidak ada
tarikan. Arus sangat kecil dan tenggiri main di bawah. Dikasih selar nggak
mau, dikasih tembang nggak nyaut, tapi kadang-kadang nyolongin kotrekan
hingga Mansur nyengir-nyengir kotrekannya putus semua. Wah serba susah nih.
Kalau selar terlalu kecil hingga ngambang di permukaan, okelah kita coba
pake como yang gedean. Begitu como dicantel di kailnya Budi dan saya dan
dilemparkan, tak berapa lama kemudian joran Budi melengkung. Maka inilah
saatnya mengajari Jeng Riri yang sesungguhnya sebuah pelajaran etika. Memang
betul betul binal ini perawan di sarang penyamun. Setelah megal-megol nggak
karuan, akhirnya Jeng Riri yang beratnya 10,5 kg berhasil ditidurkan dan
nyenyak dalam pelukan Budi. Saya yang lagi asyik motret riri yang montok ini
tiba-tiba dikejutkan karena joran yang saya taruh sudah sangat melengkung.
Ha...ini rupanya temannya Riri yang pasti lebih cantik. Saya segera terlibat
kemelut dengan diajeng piaraannya Munadi ini. Semua hal kelihatannya
perfect. Drag cukup bagus dan benang cukup kuat. Tapi mungkin hati nggak
tega (masak mereka harus bayar lagi ke gue?). Maka setelah sekitar 10 menit
kemudian, di tengah ketegangan yang ada, ikan terlepas. Sekujur tubuh
langsung lemas (sampai kini masih nelongso). Rupanya hook-up kurang sempurna
(mungkin mengenai bagian palatak yang keras) ditambah kail merk Owner yang
cutting point itu mungkin kurang bagus karena bisa menggunting hingga daging
ikan bisa terseset.
Ya sudah mau apalagi? Jam suah menunjukkan pukul 16.00 sementara ikan tak
lagi makan. Maka kita putuskan mencari kaka mira saja sambil pulang. Tak
berapa jauh dari tempat semula, kita menemukan sebuah tandes baru yang
strukturnya menurut Kapten sangat bagus. Diperkirakan tenggiri dan kakap ada
di sini. Tapi setelah kita coba beberapa lama ternyata tidak ada sambaran
yang berarti. Hanya ikan-ikan kecil yang nyambar. Kita putuskan untuk
mencari tandes buntut. Beberapa kali kapal menelusuri tandes sambil pulang,
ternyata hari sudah keburu malam hingga kita putuskan untuk pulang saja.
Fot--fotonya besok-besok nyusul ya...

BST


---------------------------------------------------------------------
Millis ini terselengara berkat dukungan PT. KreatifNet - The WebDesign Company
http://www.kreatif.com
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Website mancing-l at http://www.MancingL.com  --> Fishing information, online chat, 
forum discusion, clasifiedads, etc  
MancingL Archive at http://www.mail-archive.com/[email protected]

** Save Bandwidth... potong berita yang tidak perlu **







Kirim email ke