Hotel Prodeo Untuk Hampala (Bagian 1)

    Minggu 3 Juni. Pukul 04.30, ketika kita menginjakkan kaki di Jangari, dermaga 
kapal dan pusat perbelanjaan pemancing di Cirata. Bekti, Kornelius, Kiki Azis, Nono, 
Sulistiono dan Saya menginjakkan kaki dengan tegar menentang dinginnya hawa subuh. 
Begitu turun dari mobil, serentak beberapa pemilik perahu menghampiri kami dan 
menawarkan tumpangan ke 'kolam' (maksudnya bisa keramba bisa juga lapak di tengah 
waduk). Kepada salah seorang yang kemudian kita ketahui namanya sebagai Heru, kita 
tegaskan bahwa kita nggak mau sewa untuk sekedar antar-drop, kita maunya keliling 
seharian di Cirata. Sedikit heran, Heru menyanggupi, kita lalu tanyakan ongkos 
sewanya, dia sebutkan 60 ribu. Sedikit tercengang dengan murahnya sewa, kita serentak 
mengatakan: "Kalau hasilnya nanti bagus, saya akan tambahi ongkos sewanya sebagai 
bonus!". Maka dengan mantap kesepakatan terjadi, dan senjata perangpun diangkut ke 
dermaga.
    Sepanjang perjalanan menuju ke dermaga saya terheran-heran dengan suasana mirip 
pasar. Orang-orang dalam jumlah yang ratusan tak henti-hentinya memenuhi jalan ke arah 
dermaga. Mereka membawa perangkat pancing dengan joran murah terbuat dari fiber dan 
gulungan terbuat dari Yoyo. Begitu sampai ke dermaga, mereka segera naik kapal dan 
terus begitu. Kapal pun seolah tak ada habis-habisnya, datang dan pergi antar jemput. 
    Setibanya di dermaga, kamipun agak terkejut karena ternyata kapal kami juga diisi 
oleh penumpang lain, sehingga terpaksa kami harus berbagi tempat dengan mereka 
mengantarkan mereka dahulu ke keramba dan lapak. Baru kemudian tinggal kami berenam 
melanjutkan memburu hampala.
    Sebetulnya begitu perahu berjalan beberapa meter saja, hati sudah berontak mau 
pulang. Bayangkan. Sepanjang mata memandang, hanyalah keramba yang tampak. Terlebih 
ketika kami mencoba meminggirkan kapal, ternyata sepanjang pinggiran waduk dikelilingi 
oleh jaring. Bagaimana mungkin hampala dapat hidup di sini (kata kami dalam hati). 
Apalagi dengan deru mesin di keramba dan kapal yang lalu lalang tiada henti. Air 
berwarna hijau kecoklatan. Kalau bukan karena mau ekspedisi membuktikan apakah ada 
hampala atau tidak, saya pilih loncat dari perahu dan berenang pulang. 

(Bersambung)

Kirim email ke