Hotel Prodeo Untuk Hampala (Bagian 2-Habis)

Tapi itulah yang terjadi, Cirata bagaimanapun adalah sebuah pemandangan wisata 
tersendiri, mirip sebuah perkampungan dengan beberapa fasilitas persis Kampung 
Rambutan, atau Kampung Kalianyar di belakang Grogol. Sesekali ada sebuah perahu biduk 
yang didayung oleh semacam pedagang kaki lima, menawarkan rokok dan lain sebagainya 
kepada para pemancing di lapak-lapak atau di keramba. Jangan takut kehabisan bensin di 
sini, karena SPBU ada di sepanjang gang. Juga restoran di atas waduk siap melayani 
perut dan kebutuhan badani lainnya, dengan pelayan yang elok rupawan dan bertenaga 
sehat. Di sebuah koordinat S06.43.96 - E107.16.92 misalnya, menyajikan menu sehat 
dengan bermacam ikan bakar dan goreng serta bermacam minuman. Anda akan dilayani bak 
di hotel berbintang 4 oleh pelayan-pelayan restoran yang dengan gemulai mengaduk 
secangkir teh untuk anda. Jangan bicara pelayanan mereka terasa lama di sini, karena 
mereka mengerjakannya dengan tarikan panjang-panjang, ibarat mengaduk kopi dengan 
sebuah ritual tarian, dan menyiangi ikan dengan mencabuti tiap sisik satu-satu. Tapi 
tak apalah, toh akhirnya kita semua dibuat kenyang dengan semua perbuatannya.
    Berbeda denga beberapa waduk yang pernah saya jumpai, Waduk Cirata memiliki kontur 
tanah merah tanpa cadas atau bebatuan. Seringkali sulit mencari sebuah tubiran karena 
posisi tanah lebih banyak yang langsung mencekung ke dalam atau melandai pelan-pelan 
ke dalam. 
    Semua pemancing yang datang ke sini hampir bisa dikatakan memiliki target 
memancing ikan nila dan emas. Kedua jenis ikan ini memang banyak berkeliaran di 
sekitar keramba atau di pinggiran waduk. 
    Tetapi hampala..........? Hampir tidak pernah terlintas dalam benak pemancing di 
sini, bahkan di benak pemilik perahu seperti Heru yang perahunya kami tumpangi ini. 
Dengan terheran, ia tetap mengantarkan kami pada setiap lokasi yang kami perkirakan 
bagus untuk dihuni hampala.
Adakah hampala di Cirata? Kini sudah terjawab. Dan jawabnya adalah:......? (Silahkan 
Bekti, Kornelius, Kiki, Sulis dan Nono yang ngisi).
 
    Pukul 16.00 kami sudah mendarat lagi di dermaga Jangari, dengan badan menggigil 
dan baju basah kehujanan. Setelah ganti baju, kita cabut ke Jakarta. Perjalanan macet 
ke arah Cipanas menjadikan saya tiba di rumah pk. 24.00.
 
Laporan selesai. Terimakasih atas pemantauan teman-teman yang terus memonitor jalannya 
ekspedisi kali ini hampir tiap detik. Sungguh luar biasa, kami mendapat perhatian 
sangat istimewa kali ini.Ekspedisi kali ini bisa dikatakan cukup ulet untuk menyusuri 
hampir tiap inci waduk Cirata. Mudah-mudahan di lain kesempatan kita bisa seperti ini 
lagi, mungkin di Mrican, Sermo, Gajahmungkur atau lokasi lainnya.
 
BST mewakili teman-teman.

Kirim email ke