From: *hernowo hasim* <mailto:[email protected]>


The Cove: Kawan, Luangkanlah Waktu Sejenak untuk Mendengar Jerit Kesakitan Lumba-Lumba yang Memilukan Itu....
Oleh Hernowo

<http://www.facebook.com/photo.php?pid=3818189&op=1&view=all&subj=383635989332&aid=-1&auser=0&oid=383635989332&id=678704796>

”Nak, papa akan menuliskan apa yang papa peroleh dari kegiatan menonton film ini,” begitu janji saya kepada anak bungsu saya, Dani, ketika dia bersedia menemani saya menonton film /The Cove/ untuk yang kedua kalinya. Saya sangat bersyukur karena dua anak saya yang lain, Fikri dan Fifi, juga mau ikut bergabung menonton /The Cove/.

Bahkan, usai menonton bareng, Fikri—anak sulung saya—kemudian mencari di Internet terkait dengan film tersebut dan, terutama, tentang acara penyerahan Oscar untuk film dokumenter terbaik tahun 2010 yang direbut /The Cove/. Fikri juga, seperti saya, mengulangi menonton sekali lagi film tersebut karena, menurut dia, /The Cove/ sangat mengesankannya.


<http://www.facebook.com/photo.php?pid=3818190&op=1&view=all&subj=383635989332&aid=-1&auser=0&oid=383635989332&id=678704796>
Louis Psihoyos, sang sutradara


Jika Anda sempat mengklik http://www.thecovemovie.com/ <http://www.thecovemovie.com/>, Anda akan bertemu dengan 40-an lebih penghargaan atas film dokumenter ini. Salah satu penghargaan yang diberikan pada Maret lalu adalah penghargaan Oscar untuk kategori film dokumenter terbaik sebagaimana telah saya sampaikan. Saya sendiri agak grogi untuk menuliskan kesan-kesan saya terhadap film /The Cove/ dikarenakan ini bukan film biasa.

Sekali lagi, /The Cove/, bagi saya, memang bukan film biasa. Film ini ternyata juga sempat menimbulkan kontroversi, khususnya di Jepang. Ini dikarenakan lokasi pengambilan gambar film ini terjadi di Jepang—di sebuah teluk yang terdapat di kota Taiji. Di tempat inilah kita semua—jika sempat menonton film dokumenter ini—akan dapat menyaksikan bagaimana ratusan ikan lumba-lumba ”dibantai” sehingga—lewat rekaman suara di bawah air—kita dapat mendengar jerit kesakitan mereka.

<http://www.facebook.com/photo.php?pid=3818191&op=1&view=all&subj=383635989332&aid=-1&auser=0&oid=383635989332&id=678704796>
Mandy-Rae Cruikshank


Yang sangat menakjubkan sekaligus membuat saya tak dapat menahan tetesan airmata adalah ketika film ini berhasil merekam sebuah adegan yang merobek-robek jiwa. Seekor anak lumba-lumba yang sempat lolos dari pembantaian dan masih hidup—meski tampak berdarah—mencoba meminta tolong kepada kita (”kita” diwakili oleh seorang penyelam wanita bernama Mandy-Rae Cruikshank). Mandy—dengan mata kepalanya sendiri—menyaksikan anak lumba-lumba yang berlumuran darah dan sedang meregang nyawa seperti mencicit di kejauhan menggapai-gapai dirinya. Tapi, Mandy tak bisa apa-apa—sebagaimana ”kita” juga tak bisa apa-apa. Mandy hanya bisa menangis dan melihat anak lumba-lumba itu akhirnya mati dan tenggelam di laut.

Saya juga tidak tahu mau bilang apa ketika laguna (teluk kecil atau ”the cove”) itu memerah darah akibat darah lumba-lumba yang sangat banyak mengisi perairannya. Lumba-lumba berkelejatan (menggelepar-gelepar) ditusuki tombak berkali-kali. Mereka, lumba-lumba itu, tidak tahu kenapa mereka digiring ke sebuah laguna dan kemudian dipisahkan. Lumba-lumba yang berhidung botol diambil hidup-hidup, sementara lumba-lumba lainnya dibiarkan di laut untuk dihabisi dan diambil dagingnya.

<http://www.facebook.com/photo.php?pid=3818193&op=1&view=all&subj=383635989332&aid=-1&auser=0&oid=383635989332&id=678704796>
Ric O'Barry


Ketika Ric O’Barry—pencipta film serial televisi /Flipper/—memberi sebuah narasi tentang kesadaran lumba-lumba yang bisa becermin sebagaimana manusia, dada saya pun sesak dibuatnya. Ric adalah aktor utama di /The Cove/. Dia dikisahkan berubah-total dan ingin menebus dosa. Dia senantiasa berusaha untuk mengembalikan setiap lumba-lumba yang ditangkap ke lautan luas. Di flim /The Cove/, Ric juga menjelaskan bahwa lumba-lumba adalah sejenis ikan—maaf kalau saya salah menuliskannya—akustik.

Artinya—sebagaimana yang saya tangkap— lumba-lumba dapat merasakan bunyi detak jantung manusia di kejauhan. Di dalam laut yang sangat luas, lumba-lumba juga dapat merasakan dan memaknai arti gemerincingan sebuah bunyi. Inilah kehebatan ikan yang satu ini. Saya diberitahu oleh sebuah adegan bahwa lumba-lumba juga dapat menyelamatkan nyawa manusia dari serangan seekor hiu. ”Jadi, seekor lumba-lumba yang dikurung, yang sepertinya berhasil menghibur kita, sesungguhnya ia sedang mengalami stres,” ujar Ric O’Barry.

Dan akhir dari seluruh adegan mendebarkan di film /The Cove/ dikunci dengan sebuah tontonan yang tak biasa. Ric memasang monitor televisi di dadanya. Dia berjalan berkeliling di sebuah forum yang—kalau tak salah—sedang membahas tentang pembunuhan ikan paus. Televisi yang berada di dada Ric menayangkan—sepertinya—pembantaian lumba-lumba di Taiji. Tak berhenti di situ—mungkin karena Ric dianggap menggangu, dia pun diusir oleh para petugas dari ruangan itu—Ric pun melanjutkan pamerannya di jalan-jalan. Dia berdiri sendirian di sebuah jalan yang ramai dan orang-orang pun mengerubunginya—melihat tayangan televisi yang ada di dadanya.

<http://www.facebook.com/photo.php?pid=3818194&op=1&view=all&subj=383635989332&aid=-1&auser=0&oid=383635989332&id=678704796>

Lantas, apa yang saya peroleh? Kebetulan, sebelum saya menonton /The Cove/, saya menonton terlebih dahulu /Hachiko/. Film /Hachiko/ berkisah tentang kesetiaan seekor anjing yang mau menunggu tuannya yang sudah meninggal, selama sembilan tahun, di sebuah stasiun kereta api. Mungkin lewat lumba-lumba dan seekor anjing, saya diminta oleh Tuhan untuk belajar banyak kepada mereka.

Saya manusia. Tapi, perilaku saya, bisa jadi, pada suatu saat, akan jauh lebih buruk daripada binatang jika saya tidak mau terus-menerus belajar—termasuk belajar kepada kepedulian, kesetiaan, dan sikap-sikap baik lain yang muncul dari seekor binatang. /Wallahu `alam/.[]


--

Kirim email ke