iiihhiiikkk...iiiiihiiiiks....
Sent by Mbahe Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Soni Magelang <[email protected]>
Date: Wed, 21 Apr 2010 06:42:27 
To: undisclosed-recipients:;<Invalid address>
Subject: [MANCiNGiKANMaS] The Cove: Kawan, Luangkanlah Waktu Sejenak untuk      
Mendengar Jerit
 Kesakitan Lumba-Lumba yang Memilukan Itu....



From: *hernowo hasim* <mailto:[email protected]>


The Cove: Kawan, Luangkanlah Waktu Sejenak untuk Mendengar Jerit 
Kesakitan Lumba-Lumba yang Memilukan Itu....
Oleh Hernowo

<http://www.facebook.com/photo.php?pid=3818189&op=1&view=all&subj=383635989332&aid=-1&auser=0&oid=383635989332&id=678704796>

”Nak, papa akan menuliskan apa yang papa peroleh dari kegiatan menonton 
film ini,” begitu janji saya kepada anak bungsu saya, Dani, ketika dia 
bersedia menemani saya menonton film /The Cove/ untuk yang kedua 
kalinya. Saya sangat bersyukur karena dua anak saya yang lain, Fikri dan 
Fifi, juga mau ikut bergabung menonton /The Cove/.

Bahkan, usai menonton bareng, Fikri—anak sulung saya—kemudian mencari di 
Internet terkait dengan film tersebut dan, terutama, tentang acara 
penyerahan Oscar untuk film dokumenter terbaik tahun 2010 yang direbut 
/The Cove/. Fikri juga, seperti saya, mengulangi menonton sekali lagi 
film tersebut karena, menurut dia, /The Cove/ sangat mengesankannya.


<http://www.facebook.com/photo.php?pid=3818190&op=1&view=all&subj=383635989332&aid=-1&auser=0&oid=383635989332&id=678704796>
Louis Psihoyos, sang sutradara


Jika Anda sempat mengklik http://www.thecovemovie.com/ 
<http://www.thecovemovie.com/>, Anda akan bertemu dengan 40-an lebih 
penghargaan atas film dokumenter ini. Salah satu penghargaan yang 
diberikan pada Maret lalu adalah penghargaan Oscar untuk kategori film 
dokumenter terbaik sebagaimana telah saya sampaikan. Saya sendiri agak 
grogi untuk menuliskan kesan-kesan saya terhadap film /The Cove/ 
dikarenakan ini bukan film biasa.

Sekali lagi, /The Cove/, bagi saya, memang bukan film biasa. Film ini 
ternyata juga sempat menimbulkan kontroversi, khususnya di Jepang. Ini 
dikarenakan lokasi pengambilan gambar film ini terjadi di Jepang—di 
sebuah teluk yang terdapat di kota Taiji. Di tempat inilah kita 
semua—jika sempat menonton film dokumenter ini—akan dapat menyaksikan 
bagaimana ratusan ikan lumba-lumba ”dibantai” sehingga—lewat rekaman 
suara di bawah air—kita dapat mendengar jerit kesakitan mereka.

<http://www.facebook.com/photo.php?pid=3818191&op=1&view=all&subj=383635989332&aid=-1&auser=0&oid=383635989332&id=678704796>
Mandy-Rae Cruikshank


Yang sangat menakjubkan sekaligus membuat saya tak dapat menahan tetesan 
airmata adalah ketika film ini berhasil merekam sebuah adegan yang 
merobek-robek jiwa. Seekor anak lumba-lumba yang sempat lolos dari 
pembantaian dan masih hidup—meski tampak berdarah—mencoba meminta tolong 
kepada kita (”kita” diwakili oleh seorang penyelam wanita bernama 
Mandy-Rae Cruikshank). Mandy—dengan mata kepalanya sendiri—menyaksikan 
anak lumba-lumba yang berlumuran darah dan sedang meregang nyawa seperti 
mencicit di kejauhan menggapai-gapai dirinya. Tapi, Mandy tak bisa 
apa-apa—sebagaimana ”kita” juga tak bisa apa-apa. Mandy hanya bisa 
menangis dan melihat anak lumba-lumba itu akhirnya mati dan tenggelam di 
laut.

Saya juga tidak tahu mau bilang apa ketika laguna (teluk kecil atau ”the 
cove”) itu memerah darah akibat darah lumba-lumba yang sangat banyak 
mengisi perairannya. Lumba-lumba berkelejatan (menggelepar-gelepar) 
ditusuki tombak berkali-kali. Mereka, lumba-lumba itu, tidak tahu kenapa 
mereka digiring ke sebuah laguna dan kemudian dipisahkan. Lumba-lumba 
yang berhidung botol diambil hidup-hidup, sementara lumba-lumba lainnya 
dibiarkan di laut untuk dihabisi dan diambil dagingnya.

<http://www.facebook.com/photo.php?pid=3818193&op=1&view=all&subj=383635989332&aid=-1&auser=0&oid=383635989332&id=678704796>
Ric O'Barry


Ketika Ric O’Barry—pencipta film serial televisi /Flipper/—memberi 
sebuah narasi tentang kesadaran lumba-lumba yang bisa becermin 
sebagaimana manusia, dada saya pun sesak dibuatnya. Ric adalah aktor 
utama di /The Cove/. Dia dikisahkan berubah-total dan ingin menebus 
dosa. Dia senantiasa berusaha untuk mengembalikan setiap lumba-lumba 
yang ditangkap ke lautan luas. Di flim /The Cove/, Ric juga menjelaskan 
bahwa lumba-lumba adalah sejenis ikan—maaf kalau saya salah 
menuliskannya—akustik.

Artinya—sebagaimana yang saya tangkap— lumba-lumba dapat merasakan bunyi 
detak jantung manusia di kejauhan. Di dalam laut yang sangat luas, 
lumba-lumba juga dapat merasakan dan memaknai arti gemerincingan sebuah 
bunyi. Inilah kehebatan ikan yang satu ini. Saya diberitahu oleh sebuah 
adegan bahwa lumba-lumba juga dapat menyelamatkan nyawa manusia dari 
serangan seekor hiu. ”Jadi, seekor lumba-lumba yang dikurung, yang 
sepertinya berhasil menghibur kita, sesungguhnya ia sedang mengalami 
stres,” ujar Ric O’Barry.

Dan akhir dari seluruh adegan mendebarkan di film /The Cove/ dikunci 
dengan sebuah tontonan yang tak biasa. Ric memasang monitor televisi di 
dadanya. Dia berjalan berkeliling di sebuah forum yang—kalau tak 
salah—sedang membahas tentang pembunuhan ikan paus. Televisi yang berada 
di dada Ric menayangkan—sepertinya—pembantaian lumba-lumba di Taiji. Tak 
berhenti di situ—mungkin karena Ric dianggap menggangu, dia pun diusir 
oleh para petugas dari ruangan itu—Ric pun melanjutkan pamerannya di 
jalan-jalan. Dia berdiri sendirian di sebuah jalan yang ramai dan 
orang-orang pun mengerubunginya—melihat tayangan televisi yang ada di 
dadanya.

<http://www.facebook.com/photo.php?pid=3818194&op=1&view=all&subj=383635989332&aid=-1&auser=0&oid=383635989332&id=678704796>

Lantas, apa yang saya peroleh? Kebetulan, sebelum saya menonton /The 
Cove/, saya menonton terlebih dahulu /Hachiko/. Film /Hachiko/ berkisah 
tentang kesetiaan seekor anjing yang mau menunggu tuannya yang sudah 
meninggal, selama sembilan tahun, di sebuah stasiun kereta api. Mungkin 
lewat lumba-lumba dan seekor anjing, saya diminta oleh Tuhan untuk 
belajar banyak kepada mereka.

Saya manusia. Tapi, perilaku saya, bisa jadi, pada suatu saat, akan jauh 
lebih buruk daripada binatang jika saya tidak mau terus-menerus 
belajar—termasuk belajar kepada kepedulian, kesetiaan, dan sikap-sikap 
baik lain yang muncul dari seekor binatang. /Wallahu `alam/.[]


-- 


Kirim email ke