Dorongan Untuk Mengikuti Sunnah dan Peringatan Keras Dari Bid’ah Serta 
Penjelasan Mengenai Bahayanya
   
  Penulis: Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad Al-Badr
  Penerjemah: Ummu Hafidz (Santri Ma’had ‘Ilmi Putri Lembaga Bimbingan Islam 
Al-Atsary)
  Muroja’ah: Ustadz Abu Salman (Pengajar Ma’had ‘Ilmi)
   
   
  Muqoddimah
  Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya dan memohon pertolongan dan 
ampunan-Nya. Kami berlindung kepada-Nya dari keburukan diri kami dan kejelekan 
amalan kami. Barang siapa yang Allah berikan petunjuk, maka tiada yang dapat 
menyesatkanya, dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka tiada yang dapat 
memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwasannya tiada Ilah yang berhak 
disembah selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi 
bahwasannya Muhammad –shollallahu’alaihiwasallam- adalah hamba dan rasul-Nya. 
Allah mengutus beliau dengan petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya 
terhadap semua agama dengan cara menyampaikan risalah dan menunaikan amanah 
serta menasehati umat. Dan bersungguh-sungguh berjihad di jalan-Nya. Ya Allah, 
shalawat, salam dan barokah semoga Engkau curahkan atas Nabi, keluarganya, 
sahabatnya dan siapa saja yang berpedoman dengan petunjuknya dan mengikuti 
jalannya hingga datangnya hari kiamat.
   
  Amma ba’du.
  Sesungguhnya nikmat Allah ‘azza wa jalla atas hambanya sangat banyak dan 
tidak terhitung. Dan kenikmatan tertinggi yang Allah berikan kepada manusia dan 
jin pada akhir zaman ini adalah dengan mengutus Rasul-Nya yang mulia Muhammad 
shollallahu’alaihiwasallam kepada mereka.
   
  Nabi shollallahu’alaihiwasallam telah menyampaikan setiap risalah (ajaran) 
yang datang dari Allah kepada mereka dengan lengkap dan sempurna. Imam Muhammad 
Ibn Muslim Ibn Syihab Azzuhri – rohimahullah - berkata, “Risalah tersebut 
adalah dari Allah ‘Azza wa jalla dan kewajiban Rasulullah 
shollallahu’alaihiwasallam adalah menyampaikannya. Sedang kewajiban kita adalah 
berserah diri sepenuhnya”. Imam Bukhori telah menjelaskannya pada pembahasan 
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala QS. Al-Maaidah 5:67 yang tercantum dalam bab 
Tauhid dalam kitab Shohihnya (Fathul Bari 13/503), Allah Subhanahu wa Ta’ala 
berfirman. Yang artinya:
   
  íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáÑøóÓõæáõ ÈóáøöÛú ãóÇ ÃõäÒöáó Åöáóíúßó ãöä ÑøóÈøößó æóÅöä áøóãú 
ÊóÝúÚóáú ÝóãóÇ ÈóáøóÛúÊó ÑöÓóÇáóÊóåõ
   
  “Wahai Rasul, sampaikan apa-apa yang diturunkan oleh Rabbmu kepadamu dan jika 
kamu tidak melakukan itu, maka kamu tidak menyampaikan risalah-Nya.” 
(QS.Al-Maaidah 5:67)
   
  Allah telah mewahyukan risalah-Nya yang agung kepada para rasul-Nya, 
sebagaimana terdapat dalam firman-Nya, 
   
  æóáóÞóÏú ÈóÚóËúäóÇ Ýöí ßõáøö ÃõãøóÉò ÑøóÓõæáÇð Ãóäö ÇÚúÈõÏõæÇú Çááøåó 
æóÇÌúÊóäöÈõæÇú ÇáØøóÇÛõæÊó
   
  “Sungguh telah Kami utus pada setiap umat seorang Rasul untuk memerintahkan 
beribadah kepada Allah semata dan menjauhi taghuts”. (QS. An-Nahl 16: 36)
   
  Dan firman-Nya,
   
  áóÞóÏú ãóäøó Çááøåõ Úóáóì ÇáúãõÄãöäöíäó ÅöÐú ÈóÚóËó Ýöíåöãú ÑóÓõæáÇð ãøöäú 
ÃóäÝõÓöåöãú íóÊúáõæ Úóáóíúåöãú ÂíóÇÊöåö æóíõÒóßøöíåöãú æóíõÚóáøöãõåõãõ 
ÇáúßöÊóÇÈó æóÇáúÍößúãóÉó æóÅöä ßóÇäõæÇú ãöä ÞóÈúáõ áóÝöí ÖóáÇáò ãøõÈöíäò
   
  “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika 
(Allah) mengutus seorang Rasul pada mereka dari kalangan mereka sendiri yang 
membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya dan mensucikan mereka dan mengajarkan 
mereka Kitab dan Hikmah. Dan sungguh orang-orang sebelum mereka berada pada 
kesesatan yang nyata”. (QS.Al-Imron 3: 164)
   
  Sedangkan yang menjadi kewajiban bagi Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam 
adalah menyampaikan risalah. Dan penyampaian risalah ini telah dilaksanakan 
secara lengkap dan sempurna dari segala sisinya. Sebagaimana firman Allah ‘Azza 
wa jalla, 
   
  Ýóåóáú Úóáóì ÇáÑøõÓõáö ÅöáÇøó ÇáúÈóáÇÛõ ÇáúãõÈöíäõ
   
  “Bukankah kewajiban para Rasul itu hanyalah menyampaikan (amanah Allah) 
dengan jelas.” (QS. An-Nahl 16: 35)
   
  dan firman-Nya,
   
  æóãóÇ Úóáóì ÇáÑøóÓõæáö ÅöáÇ ÇáúÈóáÇÛõ ÇáúãõÈöíäõ
   
  “Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan jelas.” (QS. 
An-Nuur 24:54)
   
  Adapun yang menjadi kewajiban atas seorang hamba adalah berserah diri dan 
tunduk patuh kepada-Nya. Akan tetapi dalam hal ini, manusia terbagi menjadi 
dua, yaitu manusia yang diberi taufiq oleh Allah sehingga mengikuti jalan yang 
benar, dan yang kedua, sebaliknya yaitu manusia yang tidak mendapat taufik 
sehingga mengikuti jalan-jalan yang lain. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa 
jalla, 
   
  æóÃóäøó åóÜÐóÇ ÕöÑóÇØöí ãõÓúÊóÞöíãÇð ÝóÇÊøóÈöÚõæåõ æóáÇó ÊóÊøóÈöÚõæÇú 
ÇáÓøõÈõáó ÝóÊóÝóÑøóÞó Èößõãú Úóä ÓóÈöíáöåö Ðóáößõãú æóÕøóÇßõã Èöåö áóÚóáøóßõãú 
ÊóÊøóÞõæäó
   
  “Dan sungguh ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah! Jangan ikuti 
jalan-jalan lain yang akan mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikanlah 
Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-An’am 6: 153)
   
  Syari’at Islam Mempunyai Sifat Kekal, Umum dan Sempurna 
   
  Dan syari’at yang Alah turunkan kepada Rasul-Nya yang mulia Muhammad 
shollallahu’alaihiwasallam untuk disampaikan kepada umatnya mempunyai tiga 
sifat, yaitu kekal, umum dan sempurna. 
   
  Kekekalan Syari’at
   
  Dan syari’at ini kekal hingga hari kiamat. Allah ‘Azza wa jalla berfirman,
   
  ãÇ ßóÇäó ãõÍóãøóÏñ ÃóÈóÇ ÃóÍóÏò ãøöä ÑøöÌóÇáößõãú æóáóßöä ÑøóÓõæáó Çááøóåö 
æóÎóÇÊóãó ÇáäøóÈöíøöíäó
   
  “Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah 
utusan Allah dan penutup para nabi”. (QS. Al-Ahzab 33:40)
   
  Bukhori (71) dan Muslim (1037) dalam kitab Shohih mereka –rohimahumallah- 
telah meriwayatkan dari Mu’awiyah rodiallahu’anhu, ia berkata, “Aku mendengar 
Nabi shollallahu’alaihiwasallam bersabda, 
   
  ãä íõÑÏ Çááå Èå ÎíÑÇð íÝÞåå Ýí ÇáÏøöíä¡ æÅäøóãÇ ÃäÇ ÞÇÓãñ æÇááå íõÚØí¡ æáä 
ÊÒÇá åÐå ÇáÃãøóÉõ ÞÇÆãÉð Úáì ÃãÑ Çááå¡ áÇ íÖÑøõåã ãä ÎÇáÝåã ÍÊì íÃÊí ÃãÑ Çááå
   
  “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, maka Allah pahamkan ia 
dalam masalah agama dan sesungguhnya aku hanya menyampaikan dan Allah yang 
memberi. Dan senantiasa umat ini teguh di atas perintah Allah, tidak 
membahayakannya siapa pun yang menyelisihinya hingga datang angin yang 
sepoi-sepoi (hari kiamat).”
   
  Keumuman Syari’at
   
  Dan syari’at islam bersifat umum bagi jin dan manusia yang mereka ini adalah 
umat Nabi shollallahu’alaihiwasallam yaitu umat yang menjadi objek dakwah. 
Sesungguhnya seluruh manusia dan jin sejak Nabi shollallahu’alaihiwasallam 
diutus hingga datangnya hari kiamat adalah umat yang tersentuh dakwah untuk 
masuk ke dalam agama yang lurus ini, yang karenanya Allah mengutus seorang 
Rasul yang mulia shollallahu’alaihiwasallam. Sebagaimana dalam firman-Nya ‘Azza 
wa jalla, 
   
  æóÇááøåõ íóÏúÚõæ Åöáóì ÏóÇÑö ÇáÓøóáÇóãö æóíóåúÏöí ãóä íóÔóÇÁõ Åöáóì ÕöÑóÇØò 
ãøõÓúÊóÞöíãò
   
  “Dan Allah menyeru manusia ke Darus Salam (surga) dan memberikan petunjuk 
kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (Islam).” (QS. Yunus 10: 25)
   
  Pada ayat yang mulia ini diisyaratkan adanya umat da’wah dan umat ‘ijabah. 
Umat da’wah adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya,
   
  “Dan Allah menyeru (manusia) ke Darus Salam”
   
  yaitu menyeru setiap dari mereka. Dalam ayat ini, objek kalimat yaitu 
“manusia” tidak disebutkan untuk memberikan makna umum (global). 
   
  Adapun umat ‘ijabah adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam 
firman-Nya, “Dan (Allah) memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke 
jalan yang lurus (Islam).” 
   
  Dan mereka yang diberi petunjuk oleh Allah kepada jalan yang lurus adalah 
mereka yang menerima da’wah Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam dan masuk ke 
dalam agama yang lurus, dengan demikian maka jadilah mereka sebagai seorang 
muslim. Dan sampainya hidayah pada umat ‘ijabah sesungguhnya dikarenakan oleh 
keutamaan yang diberikan Allah dan taufik dari-Nya. Dan hidayah pada jalan yang 
lurus ini adalah taufik dari Allah pada mereka yang diberi petunjuk. Dan tidak 
ada yang memiliki hidayah ini (hidayah taufiq) kecuali Allah ‘Azza wa jalla, 
seperti dalam firman-Nya, 
   
  Åöäøóßó áÇ ÊóåúÏöí ãóäú ÃóÍúÈóÈúÊó æóáóßöäøó Çááøóåó íóåúÏöí ãóä íóÔóÇÁõ
   
  “Sungguh engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang 
engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki”. 
(QS. Al-Qoshos 28: 56)
   
  Adapun hidayah yang bersifat penjelasan dan bimbingan (hidayatud dilalah wal 
irsyad) maka sungguh Allah telah menetapkan hal tersebut pada Nabi-Nya 
shollallahu’alaihiwasallam sebagaimana firman-Nya, 
   
  æóÅöäøóßó áóÊóåúÏöí Åöáóì ÕöÑóÇØò ãøõÓúÊóÞöíãò
   
  “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” 
(QS. Asy-Syuura 42:52)
   
  Maksudnya adalah memberikan petunjuk dan penjelasan kepada manusia. Dan 
diantara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa dakwah Rasulullah meliputi manusia 
adalah firman Allah ‘Azza wa jalla, 
   
  Þõáú íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáäøóÇÓõ Åöäøöí ÑóÓõæáõ Çááøåö Åöáóíúßõãú ÌóãöíÚÇð
   
  “Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah 
bagi kamu semua’”. (QS. Al-A’raaf 7: 158)
   
  Dan sabdanya shollallahu’alaihiwasallam, 
   
  æÇáÐí äÝÓí ÈíÏå! áÇ íÓãÚ Èí ÃÍÏ ãä åÐå ÇáÃãøóÉ íåæÏí æáÇ äÕÑÇäí¡ Ëã íãæÊ æáã 
íÄãä ÈÇáÐí ÃõÑÓöáÊõ Èå ÅáÇøó ßÇä ãä ÃÕÍÇÈ ÇáäÇÑ
   
  “Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah ada seorang pun dari umat 
ini yang mendengar berita tentangku, baik umat Yahudi ataupun Nasrani kemudian 
mereka meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada syari’at yang aku bawa 
kecuali mereka termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim no. 153)
   
  Hadits ini sesuai dengan apa yang ada dalam kitabullah, sebagaimana yang 
dipahami oleh Sa’id Ibn Jubair – rohimahullah – dalam firman Allah ‘Azza wa 
jalla, 
   
  æóãóä íóßúÝõÑú Èöåö ãöäó ÇáÃóÍúÒóÇÈö ÝóÇáäøóÇÑõ ãóæúÚöÏõåõ
   
  “Barang siapa yang mengingkarinya (Al-Qur’an) di antara kelompok-kelompok 
(Quraisy) maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya.” (QS. Hud 11:17)
   
  Ibnu Katsir juga telah menjelaskan tafsir QS. Hud ayat 17 di atas dalam kitab 
Tafsirnya. 
   
  Dan dari dalil-dalil yang menunjukkan bahwa dakwah Rasulullah 
shollallahu’alaihiwasallam juga meliputi para jin adalah firman Allah ‘Azza wa 
jalla, 
   
  æóÅöÐú ÕóÑóÝúäóÇ Åöáóíúßó äóÝóÑÇð ãøöäó ÇáúÌöäøö íóÓúÊóãöÚõæäó ÇáúÞõÑúÂäó 
ÝóáóãøóÇ ÍóÖóÑõæåõ ÞóÇáõæÇ ÃóäÕöÊõæÇ ÝóáóãøóÇ ÞõÖöíó æóáøóæúÇ Åöáóì Þóæúãöåöã 
ãøõäÐöÑöíäó * ÞóÇáõæÇ íóÇ ÞóæúãóäóÇ ÅöäøóÇ ÓóãöÚúäóÇ ßöÊóÇÈÇð ÃõäÒöáó ãöä 
ÈóÚúÏö ãõæÓóì ãõÕóÏøöÞÇð áøöãóÇ Èóíúäó íóÏóíúåö íóåúÏöí Åöáóì ÇáúÍóÞøö æóÅöáóì 
ØóÑöíÞò ãøõÓúÊóÞöíãò * íóÇ ÞóæúãóäóÇ ÃóÌöíÈõæÇ ÏóÇÚöíó Çááøóåö æóÂãöäõæÇ Èöåö 
íóÛúÝöÑú áóßõã ãøöä ÐõäõæÈößõãú æóíõÌöÑúßõã ãøöäú ÚóÐóÇÈò Ãóáöíãò * æóãóä áÇ 
íõÌöÈú ÏóÇÚöíó Çááøóåö ÝóáóíúÓó ÈöãõÚúÌöÒò Ýöí ÇáÃóÑúÖö æóáóíúÓó áóåõ ãöä 
Ïõæäöåö ÃóæáöíóÇÁ ÃõæúáóÆößó Ýöí ÖóáÇáò ãøõÈöíäò
   
  “Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu (Muhammad) serombongan jin yang 
mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an, maka ketika mereka menghadiri (pembacaan)nya 
mereka berkata, ”Diamlah kamu! (untuk mendengarkannya)” Maka ketika telah 
selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan (29) Mereka 
berkata, “Wahai kaum kami! Sungguh, kami telah mendengarkan Al-Kitab 
(Al-Qur’an) yang diturunkan setelah Musa, membenarkan (kitab-kitab) yang datang 
sebelumnya, membimbing kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (30) Wahai 
kaum kami! Terimalah (seruan) orang (Muhammad) yang menyeru kepada Allah. Dan 
berimanlah kepada-Nya, niscaya Dia akan mengampuni dosa-dosamu, dan melepaskan 
kamu dari azab yang pedih. (31) Dan barang siapa tidak menerima (seruan) orang 
yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari 
siksaan Allah di bumi, padahal tidak ada pelindung baginya selain Allah. Mereka 
berada dalam kesesatan yang nyata. (32) (QS. Al-Ahqof 46: 29 –
 32)
   
  Dan Allah ‘Azza wa jalla berfirman dalam surat Ar-Rohman 55: 16, 
   
  ÝóÈöÃóíøö ÂáÇÁ ÑóÈøößõãóÇ ÊõßóÐøöÈóÇäö
   
  “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
   
  Firman Allah di atas ditujukan kepada manusia dan jin. Ayat ini juga 
disebutkan dalam surat tersebut sebanyak 31 kali. 
   
  Pada Sunan Tirmidzi (3291) dari Jabir rodiallahu’anhu ia berkata, 
   
  ÎÑÌ ÑÓæá Çááå Õáì Çááå Úáíå æÓáã Úáì ÃÕÍÇÈå ÝÞÑà Úáíåã ÓæÑÉ ÇáÑÍãä ãä 
ÃæøóáöåÇ Åáì ÂÎÑåÇ ÝÓßÊæÇ¡ ÝÞÇá: áÞÏ ÞÑÃÊåÇ Úáì ÇáÌäøö áíáÉ ÇáÌäøö ÝßÇäæÇ ÃÍÓäó 
ãÑÏæÏÇð ãäß㺠ßäÊõ ßáøóãÇ ÃÊíÊõ Úáì Þæáå: ((ÝóÈöÃóíøö ÂáÇÁ ÑóÈøößõãóÇ 
ÊõßóÐøöÈóÇäö))¡ ÞÇáæÇ: áÇ ÈÔíÁ ãä äÚãß ÑÈøóäÇ äßÐøöÈ¡ Ýáß ÇáÍãÏ
   
  “Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam menemui sahabatnya dan membacakan 
kepada mereka surat Ar-Rohman dari awal sampai akhir dan mereka terdiam. 
Kemudian Beliau berkata,
  “Sungguh aku telah membacakan kepada jin di suatu malam. Maka respon mereka 
lebih baik dari kalian. Setiap kali aku membaca ayat, ‘Maka nikmat Tuhanmu yang 
manakah yang kamu dustakan?’ mereka berkata, ‘Tidaklah ada satupun dari 
nikmat-Mu wahai Robb yang kami dustakan, Maka segala puji bagi-Mu”. (Hadits ini 
mempunyai penguat dari Ibn Umar yang diriwayatkan oleh Ibn Jabir. Silahkan 
lihat takhrijnya pada Silsilah Shohihah Al-Bani no. 2150). Dan diantara 
surat-surat yang terdapat dalam Al-Qur’an adalah surat Jin, dimana dalam surat 
tersebut, Allah menceritakan beberapa perkataan mereka. 
   
  Kesempurnaan Syari’at
   
  Adapan sifat yang ketiga dari sya’riat ini adalah sifat sempurna. 
   
  Allah ‘Azza wa jalla berfirman dalam Kitab-Nya yang agung, 
   
  Çáúíóæúãó ÃóßúãóáúÊõ áóßõãú Ïöíäóßõãú æóÃóÊúãóãúÊõ Úóáóíúßõãú äöÚúãóÊöí 
æóÑóÖöíÊõ áóßõãõ ÇáÅöÓúáÇóãó ÏöíäÇð
   
  “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku 
sempurnakan nikmat-Ku bagimu dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu” (QS. 
Al-Maidah 5:3)
   
  Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda, 
   
  ÊÑßÊßã Úáì ãËá ÇáÈíÖÇÁ¡ áíáåÇ ßäåÇÑåÇ¡ áÇ íÒíÛ ÚäåÇ ÅáÇøó åÇáß
   
  “Kutinggalkan kalian dalan keadaan yang terang benderang, malamnya seperti 
siangnya. Tidaklah menyimpang darinya kecuali ia akan binasa.”
   
  Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibn Abu ‘Ashim dalam Sunnah (48) dari 
‘Irbadh Ibn Sariyah rodiallahu’anhu dan juga diriwayatkan pula hadist (47) dari 
Abu Darda rodiallahu’anhu. Dan dalam Shahih Muslim (262) dari Salman 
rodiallahu’anhu, ia berkata, “Diceritakan kepada Salman, ‘Sungguh nabi kalian 
telah mengajarkan kepada kalian segala hal, hingga masalah buang hajat”. Maka 
Salman berkata, ‘Benar! Sungguh kami dilarang menghadap kiblat ketika buang air 
besar dan kencing, serta beristinja (membersihkan kotoran) dengan tangan kanan, 
dengan batu kurang dari tiga, dengan kotoran binatang atau tulang’”. Hadits ini 
menunjukkan kesempurnaan syari’at Islam dan di dalamnya tercakup segala hal 
yang dibutuhkan oleh umat ini, bahkan adab buang hajat sekalipun. 
   
  Dan dalam Shahih Muslim (1844) dari ‘Abdullah Ibn ‘Amr Ibn Ash 
rodiallahu’anhu, “Sungguh Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda, 
‘Sesungguhnya tidak seorang nabi pun sebelumku kecuali wajib atasnya untuk 
menunjukkan kepada umatnya tentang kebaikan yang diketahuinya dan 
memperingatkan mereka dari keburukan yang diketahuinya’”.
   
  Imam Bukhori meriwayatkan dalam Shahihnya (5598) dari Abu Juwairiah, ia 
berkata, “Aku bertanya pada Ibn Abbas tentang Al-Badziq. Maka ia berkata, 
‘Muhammad shollallahu’alaihiwasallam telah menjelaskan tentang badziq (salah 
satu minuman yang memabukkan –pent), maka setiap yang memabukkan adalah haram’. 
Abu Juwairiah bertanya, ‘Apakah itu minuman yang halal dan baik’. Ibn Abbas 
menjawab, ‘Tidak ada setelah halal yang baik kecuali haram yang buruk’”.
   
  Badziq adalah satu jenis minuman yang memabukkan, maknanya bahwa badziq tidak 
ada di zaman Nabi shollallahu’alaihiwasallam akan tetapi syari’at yang dibawa 
Rasul shollallahu’alaihiwasallam telah mencakup hal tersebut ataupun yang 
selainnya. Itu adalah keumuman dari sabdanya shollallahu’alaihiwasallam, 
“Setiap yang memabukkan maka dia haram”. Maka keumuman hadits ini menunjukkan 
atas tiap-tiap yang memabukkan, baik itu pada zaman Rasulullah 
shollallahu’alaihiwasallam atau muncul setelah zaman Rasulullah 
shollallahu’alaihiwasallam, baik dia itu cair atau padat, maka dia haram. Dan 
apa-apa yang tidak mempunyai sifat seperti itu maka dia halal. 
   
  Termasuk juga dalam masalah ini perkara menghisap rokok yang muncul pada 
zaman sekarang ini. Pembahasannya sama dengan masalah badziq di atas. Syari’at 
dengan keumumannya menunjukkan atas keharamannya. Hal ini terdapat dalam firman 
Allah ‘Azza wa jalla kepada nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam, 
   
  æóíõÍöáøõ áóåõãõ ÇáØøóíøöÈóÇÊö æóíõÍóÑøöãõ Úóáóíúåöãõ ÇáúÎóÈóÂÆöËó
   
  “Dan dia menghalalkan bagi mereka kebaikan dan mengharamkan bagi mereka 
keburukan.” (Al A’raaf 7: 157)
   
  Merokok tidaklah termasuk suatu hal yang baik, akan tetapi sebaliknya ia 
adalah suatu hal yang buruk. Oleh karena itu, merokok merupakan sesuatu yang 
diharamkan. Terlebih lagi rokok dapat menyebabkan penyakit yang menghantarkan 
kepada kematian, dan di dalamnya juga ada unsur penghamburan harta serta 
menganggu orang lain dengan asapnya yang berbau busuk. Semuanya itu merupakan 
indikasi atas keharamannya. 
   
  Dan Abu Dzar rodiallahu’anhu berkata, “Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam 
meninggalkan kami dalam keadaan tidaklah ada satu burung pun yang terbang 
dengan kedua sayapnya melainkan kami mempunyai ilmu yang datang dari Rosul”. 
Dikeluarkan oleh Abu Hatim Ibn Hibban dalam Shohihnya (65) dan beliau berkata 
makna perkataan “kami mempunyai ilmu yang datang darinya” adalah berkaitan 
dengan perintahnya, larangannya, berita-beritanya, perbuatan-perbuatannya dan 
persetujuannya (taqrir)”. Syaikh Al Bani menshahihkannya dalam Shohih Mawarid 
Dzomani dalam zawaid Ibn Hibban oleh Al-Haitsam (1/119). 
   
  Diantara ilmu yang kami ketahui dari Rasulullah tentang burung, diantaranya 
adalah yang telah diriwayatkan Muslim dalam Shohihnya (1934) dari Ibnu Abbas 
rodiallahu’anhu ia berkata, “Rasululah shollallahu’alaihiwasallam melarang kami 
untuk (memakan) setiap binatang buas yang memiliki taring dan setiap burung 
yang memiliki kuku pencengkeram (cakar) untuk membunuh mangsanya.”
   
  Hadits ini menunjukkan atas pengharaman memakan setiap burung yang memiliki 
cakar yang digunakan untuk memangsa dan hadits ini adalah termasuk dalam 
Jawami’ul Kalim Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam, hal ini berkaitan dengan 
hukum-hukum. Adapun yang termasuk dalam berita-berita (akhbar) dari Rasulullah 
shollallahu’alaihiwasallam adalah sabdanya shollallahu’alaihiwasallam, 
   
  áæ Ãäøóßã Êæßøóáæä Úáì Çááå ÍÞøó Êæßáå áÑÒÞßã ßãÇ íÑÒÞ ÇáØíÑ¡ ÊÛÏæ ÎãÇÕÇð¡ 
æÊÑæÍ ÈØÇäÇð
   
  “Sekiranya kalian bertawwakal kepada Allah secara benar maka Dia akan memberi 
rezeki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rezeki pada burung. Mereka 
berangkat pada waktu pagi dalam keadaan sangat lapar dan pulang dalam keadaan 
sangat kenyang”. (Hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi, Nasai, Ibn Majah, Ibn Hibban, 
dan Hakim. Tirmidzi berkata, hadist ini hasan shohih. Dan ini termasuk salah 
satu hadits yang dimasukkan oleh Ibn Rajab Al Hambali ke dalam Al-Arba’in 
An-Nawawiyah (Jami’ul ‘ulum wal hikam -pent)). 
   
  Imam Ibn Qoyyim dlm kitabnya ‘Ilam Al-Muwaqi’in (4/375 – 376) ketika 
menjelaskan kesempurnaan syari’at, ia berkata, “Hal ini merupakan asas yang 
sangat penting dan bermanfaat yang disandarkan pada satu landasan, yaitu 
keumuman risalah Nabi shollallahu’alaihiwasallam, yang berkaitan dengan 
kebutuhan setiap hamba dalam hal pengetahuan, keilmuan dan amalan mereka. 
Sesungguhnya Nabi shollallahu’alaihiwasallam menjadikan umatnya tidak 
membutuhkan seorang pun selain beliau shollallahu’alaihiwasallam. Kebutuhan 
mereka adalah kepada seseorang yang menyampaikan risalah yang dibawa oleh Nabi 
shollallahu’alaihiwasallam. Dan risalah Nabi shollallahu’alaihiwasallam 
memiliki dua keumuman yang tidak bisa disempitkan maknanya, yaitu : 
   
  Keumuman berkaitan dengan utusan yang diutus kepada mereka. 
  Keumuman berkaitan dengan setiap yang dibutuhkan oleh setiap orang yang 
didakwahi dalam masalah pokok agama dan cabangnya. 
  Maka risalah nabi shollallahu’alaihiwasallam sangat sempurna, mencukupi, umum 
dan tidak membutuhkan yang selainnya, dan tidak akan sempurna keimanan 
seseorang kepadanya kecuali dengan menetapkan keumuman risalahnya dalam 
berbagai hal. Maka tidak ada seorang mukallaf pun yang terbebas dari risalahnya 
dan tidak ada satu macam kebenaran pun yang dibutuhkan oleh umatnya kecuali 
telah tercakup di dalamnya, baik itu mengenai ilmu ataupun perbuatan.
   
  Sesungguhnya Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam telah wafat dan tidaklah 
seekor burung yang terbang di langit, kecuali telah Beliau jelaskan hal 
tersebut pada umatnya, serta mengajarkan kepada mereka segala sesuatu, seperti 
adab buang hajat, adab jima’, tidur, berdiri dan duduk, makan dan minum, naik 
dan turun kendaraan, safar dan mukim, diam atau berbicara, menyendiri dan 
bergaul, kaya dan miskin, sehat dan sakit. Dan menjelaskan perihal kehidupan 
dan kematian. Dan menjelaskan kepada mereka sifat-sifat Al-‘Arsy dan Al-Kursiy, 
malaikat dan jin, neraka dan surga, hari kiamat dan apa yang terjadi di 
dalamnya, sehingga setiap mereka seakan-akan melihat dengan kedua matanya. 
Beliau juga memperkenalkan kepada mereka sesembahan mereka dengan pengenalan 
yang sempurna hingga seakan-akan mereka melihat-Nya dan menyaksikan-Nya dengan 
sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan-Nya. Dan memperkenalkan kepada mereka 
para nabi terdahulu dan kaumnya serta kebahagiaan dan kesengsaraan
 yang mereka alami hingga seakan-akan mereka hidup di tengah-tengah umat 
tersebut. 
   
  Nabi shollallahu’alaihiwasallam juga mengajarkan kepada mereka tentang 
berbagai kebaikan dan keburukan, dari yang terkecil sampai yang terbesar, yang 
belum pernah diajarkan oleh seorang nabi pun sebelumnya kepada umatnya. Dan 
Nabi shollallahu’alaihiwasallam memberitahu tentang perihal kematian dan 
kejadian yang ada setelahnya di alam barzakh beserta kenikmatan-kenikmatan dan 
adzab yang akan diterima oleh ruh dan badan, yang semua ini tidak diajarkan 
oleh seorang nabi pun selain Nabi shollallahu’alaihiwasallam. Begitu pula, nabi 
shollallahu’alaihiwasallam telah mengajarkan kepada mereka dalil-dalil tauhid, 
kenabian dan hari akhir. Dan juga mengajarkan bagaimana cara membantah 
tiap-tiap kelompok dari kalangan kaum kufar dan golongan yang sesat. Dimana 
bagi orang yang mengetahuinya maka tidak lagi membutuhkan kepada seorangpun 
shollallahu’alaihiwasallam, kecuali kepada orang yang menyampaikan perkara 
tersebut padanya dan menerangkan serta menjelaskan perkara yang masih samar
 baginya (yaitu Nabi shollallahu’alaihiwasallam). Dan begitupula, Nabi 
shollallahu’alaihiwasallam mengajarkan kepada mereka strategi dalam peperangan 
dan menghadapi musuh. Dan juga memberitahukan cara untuk memperoleh pertolongan 
dan kemenangan, yang jika mereka mengetahuinya, memikirkannya, dan menjaga hal 
itu dengan sebenar-benarnya, maka musuh tidak akan pernah berjaya selamanya. 
   
  Begitu pula Nabi shollallahu’alaihiwasallam mengajarkan kepada mereka tentang 
tipu daya iblis dan cara-cara yang dilakukannya, serta metode untuk 
menyelamatkan diri dari tipu daya iblis dan makarnya, juga cara yang mampu 
menolak keburukan iblis, yang mana manusia tidak membutuhkan cara tambahan 
selain dari yang diajarkan oleh Nabi shollallahu’alaihiwasallam. Dan Nabi 
shollallahu’alaihiwasallam juga mengajarkan tentang keadaan dan karakter jiwa 
manusia serta gejolak dan ambisinya, yang mana manusia tidak membutuhkan cara 
tambahan selain dari yang diajarkan oleh Nabi shollallahu’alaihiwasallam. 
Begitu pula Nabi shollallahu’alaihiwasallam mengajarkan tentang perkara 
kehidupan mereka yang jika mereka mengetahuinya dan mengamalkannya, sungguh 
mereka akan bahagia di dunia ini.
   
  Kesimpulannya adalah, Nabi shollallahu’alaihiwasallam datang kepada mereka 
dengan segenap kebaikan dunia dan akherat. Dan Allah menjadikan umat Muhammad 
shollallahu’alaihiwasallam tidak membutuhkan seorang pun selain kepadanya 
shollallahu’alaihiwasallam. 
  
   
  Maka bagaimana mungkin seseorang bisa beranggapan bahwa syari’at-Nya yang 
telah sempurna perlu disempurnakan lagi dengan sesuatu yang tidak sempurna?! 
Seperti masih membutuhkan politik dari luar Islam yang akan menyempurnakan 
politik islam, atau membutuhkan analog, kebenaran, dan metode berpikir selain 
islam. Maka barang siapa yang beranggapan demikian; seperti orang yang 
berprasangka bahwasannya manusia masih membutuhkan rasul yang lain setelah 
Rasul shollallahu’alaihiwasallam maka hal tersebut tidak lain dikarenakan 
kebodohannya dan ketidakpahamannya terhadap syari’at yang dibawa oleh Rosullah 
shollallahu’alaihiwasallam. Berbeda dengan para sahabat Nabi 
shollallahu’alaihiwasallam yang telah Allah beri taufik. Mereka mencukupkan 
diri dengan syari’at yang Beliau shollallahu’alaihiwasallam bawa dan tidak 
membutuhkan kepada selainnya. Dengan itulah mereka mampu menyinari hati yang 
semula dalam keadaan gelap gulita dan dengan itu pula mereka mampu menaklukkan 
beberapa
 negara, seraya mereka berkata, “Ini adalah janji Nabi kami untuk kami, ini 
pula sebagai janji kami untuk kalian”. 
   
  -bersambung insya Allah-
   
  Sumber : Muslim.or.id

                
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ 
countries) for 2¢/min or less.

[Non-text portions of this message have been removed]





Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke