Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakaatuh, Alhamdulillah wa afwan mau ikutan nimbrung lagi, Akhi or Ukhti Ais (afwan ini ikhwan atau akhwat?) Alhamdulillah analisa sdr/i @is sebetulnya menambahkan keyakinan Bu Hana yang dari awalnya berpendapat setuju poligami asal terpenuhi syaratnya (koreksi saya kalo saya salah Bu Hana). Sedangkan sdr/i @is menambahkannya dengan analisa yang cukup bagus (menurut ilmu yang dapatkan), dan terus terang ada sedikit tambahan pencerahan bagi saya atas analisa dari sdr/i @is. Menambahkan penjelasan sedikit dalam masalah polygami ini, sepanjang referensi yang saya ketahui hukum Polygami bagi saya belum berubah yaitu MUBAH (BOLEH) bukan wajib dan dilakukan jika syarat-syaratnya terpenuhi. Kemungkinan besar pengharaman yang dimaksud oleh Imam Al Alusi dan Muhammad Abduh itu adalah bukan haram total dan seterusnya, tapi pengharaman itu merupakan kaidah ushul fikih pengharaman karena ada kondisi yang tidak memungkinkan untuk diterapkan. Jika syarat-syaratnya terpenuhi silahkan lakukan Polygami. Contoh yang semakna adalah kaidah ushul fikih tentang makanan haram bisa jadi halal disaat kita terdampar di tempat terpencil dalam keadaan kelaparan dan tidak menemukan makanan halal. Diperbolehkan memakan makanan yang haram dan meninggalkannya disaat menemukan makanan halal lagi. Wallahu'alam bishshowwab. BTW, setahu saya kedua akhwat yang sedang berdiskusi Ibu Suhana dan Ibu Herni itu mempunyai landasan pemikiran dan pendapat yang berbeda tentang Polygami. Tidak cuma masalah Polygami sahaja tapi banyak mereka berbeza bahkan sudah masuk ke dalam masalah prinsip dasar islam. Jika sdr/i bergabung atau pernah bergabung di milis Keluarga Sejahtera atau Wanita Muslimah atau Keluarga Islam yang dibidani He-Man maka sampai sekarang ini pemahaman MBA HERNI masih belum sama dengan IBU SUHANA. Masih kontras. Jadi diskusi antara Ibu Hana dan Mbak Herni itu dalam rangka Ibu Hana berusaha menjelaskan konsep polygami yang sesuai dengan al Qur'an dan Sunnah yang telah beliau pelajari dari banyak referensi. Jika MBA HERNI dan kawan-kawannya malah cenderung menyetujui Polygami itu HARAM dan malah ikut-ikutan menyindir IBU SUHANA suka genit, cari perhatian para ikhwan di pengajian sehingga sampai di dekati bahkan dilamar oleh poligamers. Namun hujjah mereka tidaklah kuat dan bahkan cenderung mengambil fatwa yang pernah di-posting orang lain yang mengatakan ada ulama di mesir yang mengharamkan Poligami padahal Mba Herni sudah tahu latar belakang pengharamannya sangat kondisional. Itulah dampak pemahaman "bebas", sehingga penafsirannya bebas seenak udelnya sendiri. Akhirnya Ibu Suhana di keroyok rame-rame oleh orang-orang liberal di milis KS. Silahkan lihat sendiri di milis KS atau bisa diminta beberapa postingan milis KS tentang Polygami kepada Ibu Suhana secara pribadi sahaja biasanya masih disimpan oleh beliau untuk bukti otentik... :) Jadi Mba Herni itu lebih menyukai pemikiran yang "bebas" dalam memahami Islam ini sedangkan Bu Hana berusaha merujuk kepada referensi yang shahih dan berusaha keras untuk memahami hingga bisa melaksanakannya. Demikian dan buat Bu Hana koreksi aja kalo ada klarifikasi saya yang salah... :) Barokallahu fiekum Abu Fahmi
________________________________ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of @Is low profile Sent: Tuesday, September 05, 2006 5:36 PM To: [email protected] Subject: RE: [media-dakwah] BERCANDA POLIGAMI=:) Assalamu'alaikum warRahmatullahi waBarokatuhu... Hmmmmm..ck..ck...ck.........salut dech pada "candaan poligami" kedua insan kaum hawa ini, bukan main n sangat luar biasa candaan srikandi2 qt di millis ini, qt semua memang perlu berlajar banyak pd kedua ahwat ini mengenai "knowledge of religy" yang dimilikinya karena mereka semua berguru pada ustd.2 yang sangat zuhud pada dunia dan benar kajian2 yang dibahas berdasarkan 2 sumber (Al-Qur'an & Al-Hadist)but sebagai renungan bagi qt semua baik bagi ahwan or ahwat yg msh single or married ataupun yang duda n janda......pls read ...klo sempat lho yaaaaa...... Nyatanya, sepanjang hayatnya, Nabi Muhammad SAW lebih lama bermonogami daripada berpoligami. Bayangkan, monogami dilakukan Nabi di tengah masyarakat yang menganggap poligami adalah lumrah. Rumah tangga Nabi SAW bersama istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA, berlangsung selama 28 tahun. Baru kemudian, dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Dari kalkulasi ini, sebenarnya tidak beralasan pernyataan "poligami itu sunah". Sunah, seperti yang didefinisikan Imam Syafi'i (w. 204 H), adalah penerapan Nabi SAW terhadap wahyu yang diturunkan. Pada kasus poligami Nabi sedang mengejawantahkan Ayat An-Nisa 2-3 mengenai perlindungan terhadap janda mati dan anak-anak yatim. Dengan menelusuri kitab Jami' al-Ushul (kompilasi dari enam kitab hadis ternama) karya Imam Ibn al-Atsir (544-606H), kita dapat menemukan bukti bahwa poligami Nabi adalah media untuk menyelesaikan persoalan sosial saat itu, ketika lembaga sosial yang ada belum cukup kukuh untuk solusi. Bukti bahwa perkawinan Nabi untuk penyelesaian problem sosial bisa dilihat pada teks-teks hadist yang membicarakan perkawinan-perkawinan Nabi. Kebanyakan dari mereka adalah janda mati, kecuali Aisyah binti Abu Bakr RA. Selain itu, sebagai rekaman sejarah jurisprudensi Islam, ungkapan "poligami itu sunah" juga merupakan reduksi yang sangat besar. Nikah saja, menurut fikih, memiliki berbagai predikat hukum, tergantung kondisi calon suami, calon istri, atau kondisi masyarakatnya. Nikah bisa wajib, sunah, mubah (boleh), atau sekadar diizinkan. Bahkan, Imam al-Alusi dalam tafsirnya, Rûh al-Ma'âni, menyatakan, nikah bisa diharamkan ketika calon suami tahu dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan mencelakakannya. Demikian halnya dengan poligami. Karena itu, Muhammad Abduh dengan melihat kondisi Mesir saat itu, lebih memilih mengharamkan poligami. Dalam kitab Ibn al-Atsir, poligami yang dilakukan Nabi adalah upaya transformasi sosial (lihat pada Jâmi' al-Ushûl, juz XII, 108-179). Mekanisme poligami yang diterapkan Nabi merupakan strategi untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka. Sebaliknya, yang dilakukan Nabi adalah membatasi praktik poligami, mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam berpoligami. Ketika Nabi melihat sebagian sahabat telah mengawini delapan sampai sepuluh perempuan, mereka diminta menceraikan dan menyisakan hanya empat. Itulah yang dilakukan Nabi kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Dan, inilah pernyataan eksplisit dalam pembatasan terhadap kebiasan poligami yang awalnya tanpa batas sama sekali. Pada banyak kesempatan, Nabi justru lebih banyak menekankan prinsip keadilan berpoligami. Dalam sebuah ungkapan dinyatakan: "Barang siapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus" (Jâmi' al-Ushûl, juz XII, 168, nomor hadis: 9049). Bahkan, dalam berbagai kesempatan, Nabi SAW menekankan pentingnya bersikap sabar dan menjaga perasaan istri. Teks-teks hadis poligami sebenarnya mengarah kepada kritik, pelurusan, dan pengembalian pada prinsip keadilan. Dari sudut ini, pernyataan "poligami itu sunah" sangat bertentangan dengan apa yang disampaikan Nabi. Apalagi dengan melihat pernyataan dan sikap Nabi yang sangat tegas menolak poligami Ali bin Abi Thalib RA. Anehnya, teks hadis ini jarang dimunculkan kalangan propoligami. Padahal, teks ini diriwayatkan para ulama hadis terkemuka: Bukhari, Muslim, Turmudzi, dan Ibn Majah. Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: "Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga." (Jâmi' al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026). Sama dengan Nabi yang berbicara tentang Fathimah, hampir setiap orangtua tidak akan rela jika putrinya dimadu. Seperti dikatakan Nabi, poligami akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya. Jika pernyataan Nabi ini dijadikan dasar, maka bisa dipastikan yang sunah justru adalah tidak mempraktikkan poligami karena itu yang tidak dikehendaki Nabi. Dan, Ali bin Abi Thalib RA sendiri tetap bermonogami sampai Fathimah RA wafat. Wa Allahu alam bi showab....Afwan...3x...yang benar semuanya datang dari Allah..dan yang salah itu dari hamba(@is) yang hina dina penuh dosa ini... Wassalamu'alaikum warRahmatullahi waBarokatuhu. @is - Serpong [EMAIL PROTECTED] <mailto:Hendri.Zaili%40infineon.com> wrote: Waduh seneng nya yang bisa dapet mbak hana and mbak herni ini jadi istri, dah pinter2 sholehah lagee........Hayo dhoong yang masih bujangan cepatan lamar nich bibit unggul....he...he.....but kayak nya masih bujangan lo ya....cause kalo dah beristri tertolak deh....???? -----Original Message----- From: [email protected] <mailto:media-dakwah%40yahoogroups.com> [mailto:[email protected] <mailto:media-dakwah%40yahoogroups.com> ] On Behalf Of ALend Sent: Monday, September 04, 2006 8:58 AM To: [email protected] <mailto:media-dakwah%40yahoogroups.com> ; suhana hana Cc: suhana hana Subject: Re: [media-dakwah] BERCANDA POLIGAMI=:) Wah Bunda Hana memang luas wawasannya, ( Salauuutttt euyy ). Gimana caranya Bun, Terus terang dengan kondisi umur aku yang sudah kepala 3,beranak 2,kadang berfikir bisa gak ya..menambah wawasan untuk menjaga anak" kelak sampai mereka dewasa/mandiri agar menjadi pribadi yang unggul dan selalu dijalanNya,soalnya terkadang sudah tidak mungkin untuk menimba ilmu karena sudah banyaknya masalah kehidupan terutama mikirin keuangan keluarga ( yg pas" an ) jadinya gak sempet baca" buku,apalagi untuk membeli buku,yang harganya ...mmm..ampun deh,sudah tidak ada budgetnya lagi, dan sepertinya memang,ilmu itu untuk orang yang berduit kali yaaa... Ilmu itu mahal sekali ya Bun..... Menurut aku.. Salam kenal, Alenda ----- Original Message ----- From: "suhana hana" To: Sent: Monday, September 04, 2006 9:12 AM Subject: [media-dakwah] BERCANDA POLIGAMI=:) > Herni wrote: > Wa'alaikumsalam wr wb mbak Hana, > > Pertama, yang menjadi permasalahan disini ada dua hal. Kesatu, PRAKTEK poligami yg tidak sesuai dng "koridor-koridor dlm Al-Qur'an" Apalagi menangkap spirit yg dibawa oleh Qur'an berkaitan dng ayat poligami. Menahan hawa nafsu, bukan kemudian malah dijadikan dasar legitimasi utk memuaskan nafsu beristri banyak yg cantik2. Terlebih bila itu dilakukan tanpa tanggungjawab terhadap istri2 dan anak2nya. ====================================================================== > Hana wrote : > Masalah praktek poligami yg tidak sesuai dengan koridor2 dalam Al-Qur'an&hanya untuk memuaskan hawa nafsu saja, itu memang sudah menjadi rahasia umum. but yg jadi masalahnya...kita tidak tahu persis permasalahan tiap orang, hingga mereka berpoligami..? apalagi sudah jelas diterangkan dalam Al-Qur'an tentang batasannya berpoligami.apa mau dibacain sekalian..?wong..bisa baca sendiri koq..ngapain kita repot2..?:)jadi..ya serahin aja pada pribadi masing2..:)toh..kita tidak menanggung dosa orang lain kan..? > > > Herni wrote : > > Keduanya, URGENSI menerapkan poligami dlm kondisi sekarang yg saat > ini tidak ada kondisi tertentu menyebabkan poligami menjadi penting. Sementara pertanyaan kenapa kita peduli dng praktek atau pilihan orang lain utk berpoligami, krn itu menyangkut hak dan kehidupan manusia lain serta punya dampak sosial yg tinggi. Setau saya, Islam tidak mengajarkan kita utk cuek thd sesama atau cuek terhadap masalah bersama. Poligami yg dijadikan legitimasi nafsu semata jelas merugikan perempuan dan berdampak sosial, jadi masalah sosial yg perlu diselesaikan bersama.. > > > Hana wrote : > > Bila kamu melihat kondisi secara global (yg hanya terlihat tampak luarnya)mungkin memang benar secara penilaian umum dan kasad mata, bahwa poligami bukan suatu yg urgensi sifatnya. Tapi jika seandainya kamu mengetahui persis permasalahan& kondisi dalam lingkup suatu negara,kota, daerah (seperti kata kang nceps 1:5 di batam)atau pd lingkup yg menjadi obyeknya sendiri (keluarga). Apakah kamu masih bisa menjamin tetap dalam pendirian kamu..? Sesungguhnya Allah lah yg lebih mengetahui kebutuhan&perilaku hamba2Nya, hingga ia menghalalkan poligami dengan aturan2 yg ketat. dan selanjutnya..kitalah yg dituntut untuk pandai2 dalam memilih dan memilahnya. > Islam memang tdk mengajarkan umatnya untuk cuek thd sesama. tapi masalahnya lagi..kita mau perduli&membantu yg bagaimana..?dan kecuekan yg kamu anggap salah itu, yg mana..?kalau kita melihat saudara kita ada yg kelaparan,kesusahan, dsbnya,yg mengharap kita bisa membantu..tapi, kita cuek aja, nah..itu cuek yg salah..?:) tapi..dalam hal yg menyangkut poligami itu, memang sudah sangat prinsip&pribadi sekali sifatnya, dan kita tidak bisa begitu saja menyalahkan yg satu dan mengasihani yg lain, karena itu pribadi sekali sifatnya. dan masalah poligami itu secara tidak langsung, sesungguhnya adalah perjanjian secara tertulis antara manusia(laki2)dgn Alah secara pribadi, yg akan dimintai pertanggung jawaban lebih dibandingkan yg monogami. > "Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara > istri2mu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yg kamu cintai), sehingga kamu biarkan yg lain terkatung2. Dan jika kamu mengadakan perbaikan&memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang" (An-Nisaa:129) > Sedangkan membantu sesama adalah suatu kewajiban yg diperintahkan > Alah yg sifatnya umum. > > > Herni Wrote : > > Kedua, mengenai "finansial", mbak Hana agaknya salah tangkap. Atau mungkin, krn mbak Hana melihat dari posisi (calon) istri kedua :-), sementara saya melihat dari sisi istri pertama :-) Istri pertama yg mau dipoligami hanya punya 2 pilihan, menerima atau menolak poligami dng cerai. Bila si istri tidak memiliki pekerjaan sbg sumber penghasilan, pada umumnya menerima poligami itu dng pertimbangan finansial, dirinya dan anaknya. Lebih mudah utk mendapatkan nafkah bila masih terikat dalam tali perkawinan. Itu maksud saya, mbak. Sementara mbak melihat dari perspektif (calon) istri kedua, yg ditawarin jadi istri kedua dng iming2 harta :-) Ya itu dua hal yg beda. Lain kali harus jeli membaca pendapat/pemikiran orang lain. > > Hana Wrote : > Sorry..dalam membahas masalah ini, sebisa mungkin,aku hanya bersifat netral&tunduk pd apa yg tertulis di Al-Qur'an yg menghalalkan poligami lengkap dengan segala aturan dan peringatanNya, tanpa memposisikan diriku sebagai ke2 atau ke1. Mungkin kang nceps..masih ingat lanjutan postinganku yg lalu "kalo bisa jadi yg ke1..kenapa harus pilih jadi yg ke2..". Coba baca potinganku yg kemarin, yg kira2 begini bunyinya "yg susahnya lagi..istrinya pula yg ngelamarin aku..?". Kalau dilihat dari kasusku, pihak istri 1 yg menginginkan agar aku menjadi madunya..? siapa yg kira2 patut dikasihani atau yg sedang dimanfaatkan..?. secara umum dan kasad mata,tanpa melihat permasalahan yg sebenarnya, pastilah aku yg akan dijadikan tertuduh&dikambing hitamkan, karena "mungkin"akan disangka sebagai perusak rumah tangga orang. padahal yg sesungguhnya tidak seperti itu skenarionya. Istri 1 sdg memanfaatkan madunya&menyerahkan kewajiban yg mungkin sudah tidak bisa dilakukannya, ditambah lagi > simpati+empati masyarakat umum kpdnya tanpa tahu permasalahan yg sebenarnya. Sedangkan istri ke2 susah payah menggantikan kewajiban istri 1 yg dilimpahkan pdnya, dgn segala cemooh, hardikan, sinis dan segala prasangka buruk yg ditujukan padanya. gimana menurut kamu..? siapa yg sedang dijadikan korban..? Sekali lagi aku katakan..bahwa kita tidak tahu apa2 tentang permasalahan yg sebenarnya..?jadi..biarin aja yg poligami itu mempertanggung jawabkan sendiri perbuatannya dihadapanNya. dan kita yg enggak mau dipoligami, ya..tolak aja.?:)gampang kan..? kenapa..?takut enggak bisa hidup&makan..?emang yg kasih rezeki itu suami..? "Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberikan kecukupan kepada masing2 dari limpahan karuniaNya dan adalah Allah maha luas (karuniaNya)lagi maha bijaksana." (An-Nisaa:130) > itulah susahnya orang,bila melihat permasalahan hanya dari sisi > hitam putihnya aja. Karena setiap keputusan,pasti ada resikonya..?enggak mau dipoligami, ya..udah minta pisah/menolak dan cari rejeki dari Allah sendiri..?kalo mau dipoligami, ya..udah tahan dech tuh semua perasaan, ikhlasin dech..untuk berbagi suami...?:)hehehe senengnya..para cowok, jadi rebutan..D:)wwweeee.. ======================================================================== = > Herni Wrote : > Ketiga, dlm persoalan poligami, bukan cuma masalah laki2 yg > berpoligami krn nafsunya, tapi perempuan yg secara naluriah (tanpa disadari) melakukan seleksi seksual sehingga menganggap laki2 beristri dinilai lebih "unggul". Dan ini memang ada kasusnya dimana diantara para calon yg terdiri dari cowo-cowo single dan yg sudah beristri, dipilihlah yg sudah beristri, dng alasan... sudah kadung cinta :-). > > > > Hana Wrote : > > hua.ha.ha.ha. tuh..lihat..?kamu selalu aja seperti itu, yg > bersifat seolah2 yakin sekali ya..?:)bahwa yg sudah beristri itu lebih "unggul" dari yg single..:)emang itu hasil survey dari mana sich..?hehehe Tetep aja..cewek normal&secara nalurinya, pastilah menginginkan bibit unggul yg masih single. atau kemungkinan berusaha sebisa mungkin dapat cowok yg seperti di dapat oleh siti khotidjah(Rasul)..D: Seorang janda dengan usia 40thn dan mendapat bujang yg keren, seksi,sholeh&berhati mulia spt Muhammad, yg usianya jauh lebih muda 15thn lagee...hehehe asyiikk..kan tuh..?:)jadi seimbang kayanya..?bila membaca potingan kang He-Man yg ngemeng..kalo cewek itu bisa bercinta berkali2 dalam semalam, sedangkan cowok, kemungkinannya hanya 1kali aja (kaciaann..dech loe cowok..hehehe) dari pada dikatain impoten..?mending cari yg lebih tua aja, biar seimbang..?hehehe upst..upst..maaf..maaf..becanda, habis..kamu yg mancing aku jadi iseng seh..hehehe > > Herni Wrote : > Perempuan punya kontribusi juga dlm hal ini... dlm arti, begitu dia menemukan laki2 yg memenuhi kriteria sbg "bibit unggul", mau aja jadi istrinya meskipun jadi istri ke-2, ke-3, atau ke-4 sekalipun. Rasul sbg sandaran alasannya. Sayang kalo laki2 se-kualitas Rasul dilewatkan..:-) Jadi, permasalahan poligami tidak bisa dilihat dari sisi laki-laki saja, tapi perempuan juga. > > > Hana Wrote : > itu lihat kondisinya lagi dong non..?kalo di dunia ini memang sudah tidak ada bibit unggul yg masih gress, ya..apa boleh buat..?nebeng selamat dunia akhirat,sama yg berusaha mencontoh Rasul,walau harus jd ke2,ke3,dstnya hiks.hiks. tapi..ternyata bibit unggul yg masih single itu banyak lho..?walau masih terlihat galaknya..D:)hehehe > > Herni wrote : > > Perempuan condong utk memilih laki2 yg menurut masyarakat adalah "bibit unggul", selalu memilih bibit yg lebih unggul, entah lebih unggul diantara laki2 lain atau setidaknya lebih unggul dari dirinya. Padahal Rasul sendiri mencontohkan lain. Rasul ketika menikah dng Khadijah belum dilihat oleh masyarakat sbg "bibit unggul". Selain itu, dibandingkan Khadijah sendiri, Rasul kalah "unggul". Lalu kenapa juga kita tidak meniru khadijah? :-) [eh yg terakhir mah tambahan, hehehe...] Maksute, unggul tidak unggul itu relatif. Apa sih kualitas yg paling penting yg diperlukan dlm pernikahan? Eniwei, kenapa itu bisa terjadi? Semuanya krn dikondisikan secara sosial. Pemahaman ttg poligami itu sendiri dari dua belah pihak, laki2 maupun perempuan. > > > Hana Wrote : > > hua.ha.ha.ha...siapa bilang, masyarakat belum melihat adanya bibit unggul pd diri Rasul..? hanya saja masalahnya.. keunggulan yg mana,yg pingin kamu tonjolkan..?secara materi, mungkin Rasul tdk ada apa2nya (yatim piatu,penggembala,yg tinggal dgn pamannya Abu Tholib yg miskin..:)hiks.hiks but I Love Rasul soo much..D:). Tapi, secara pribadi..?musuhnyapun, percaya sekali thd Rasul,hingga selalu menitipkan harta bendanya utk disimpan oleh Rasulullah. Begitupun Khatidjah,pd saat ingin meminta Rasul sbg suaminya,sebelumnya khotidjah mengirim mata2nya (maysaroh ya..kalo ga salah..?)pembantunya itu,untuk mengawasi tingkah laku Rasul pd saat menjual barang dagangannya khotidjah. Nah..disitulah khotidjah menemukan keunggulan pribadi Rasul,yg tidak dimiliki oleh pekerjanya yg lain..:) waduh..gimana sich kamu ini..?masa selalu melihat keunggulan dari materi aja, padahal sampai saat ini yg masih diingat oleh semua manusia (kafir&muslim) adl keunggulan pribadi beliau yg terkenal > itu, yaitu shidiq dan fathonanya. yg akhirnya..terkuaklah keunggulan2 pribadinya yg lain. Soo eniwei..ternyata materi itu bukan segala2nya ya..?untuk bisa memberikan ketenangan,hanya kesabaran,keikhlasan,amanah perlindungan yg senyaman2nya dan sedikit kelakar kalee yaa..?hehehe > > > Herni wrote : > > Pada dasarnya kita bisa menyetel 'kesadaran' kita sendiri, > membatasi diri sendiri. Sama spt kita menyetel 'kesadaran' kita utk tidak menikah dng pria non-muslim, misalnya. Ada juga perempuan yg menyetel kesadarannya sendiri utk tidak menikah dng pria beristri. Kesadaran yg sudah disetel dari awal, berfungsi sbg tindakan pencegahan dini. Sedari awal, kita menyetel utk menghindari hal-hal yg memang tidak kita inginkan. Semuanya memang berasal dari Allah, termasuk nafsu :-) Tapi pilihan toh ada pada kita. > > Hana Wrote : > hua.ha.ha.ha.nah..itu tahu..?akhirnya kamu secara enggak sadar sudah menyetel & mengakui, bahwa keputusan orang untuk melakukan sesuatu itu,memang pilihannya masing2 dan tanggung jawabnya sendiri2..:) itulah gunanya akal yg difungsikan untuk menimbang2 mana yg baik&yg tidak baik dan minimal untuk dirinya sendiri..?ngapain repot2 mikirin perbuatan orang yg minimal enggak rugiin kita..?toh..dah sama2 dikasih akal..? kenapa enggak dipake akalnya secara maksimal..? atau dipake, hanya aja, akalnya suka lompat2 ya..?tar begini, tar begitu, tar menolak, tar setuju..hehehe.. > > > Herni wrote : > Keempat, soal pelecehan thd agama. Menurut saya, orang yg memiliki pengetahuan itu seperti pisau, yg bisa digunakan dlm koridor yg benar atau salah. Orang yg menggunakan pengetahuan agamanya sbg dasar legitimasi kepentingannya yg punya dampak buruk bagi manusia lainnya, menurut saya melecehkan agama, menodai agamanya sendiri. > > Hana wrote : > hehehe..sekali lagi ya..?manusia tdk menanggung dosa manusia lain..? jadi ingat kata2nya orang bijak..:"Hiduplah sekehendak hatimu,tapi ingatlah kamu akan mati. Cintailah siapa saja yg kamu suka,tapi ingatlah,kamu akan berpisah dengannya. Berbuatlah sesuka hatimu,tapi ingatlah,kamu akan mendapatkan balasan yg setimpal dgn perbuatanmu itu.." > jadi menurutku..bila orang melakukan kegiatan yg menimbulkan dampak buruk bagi manusia lain, ya..minimal,uang muka yg diterima di dunia adalah dibenci atau dikutuk oleh manusia lain dan kontannya akan dibayar tunai di akhirat..:)hehehe jadi..EGP..lagee.. > > > Herni Wrote : > > Lebih kurangnya mohon maaf kalo ada yg merasa tersakiti oleh > kata-kata saya, terutama member yg pasif. Tapi ya, daripada mendem gitu, mending bicara ajalah..:-) Gak digigit kok :-) > > Hana Wrote : > Maaf juga..kalo ada kata2ku yg menyinggung perasaan..?bukan niat > untuk menyakiti, apalagi mau pintar2an..?hanya sekedar sharing aja koq..?dan sekalian bercanda, mumpung ada lawan bercanda kayanya neh.he.he... aku sama lho kaya mba herni, sukanya iseng,jahil dan cerewet, jadi..sesama artis dagelan.. dilarang tersinggung hehehe. sory..mba..soale kemarin, aku juga habis dimarahin sama guruku neh..karena kebanyakan bercanda dan cerewet, habis..dech..gw dibuat jadi oneng (bajaj bajuri)ga kebagian omong dan nafas, untung ada mba herni..jadi tersalurkan dech..yg kemarin diam aja dihadapan guruku si Mr.Bond itu..hehehehe > > > salammanis, > hana > > > > > --------------------------------- > Do you Yahoo!? > Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah. > Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] > <mailto:media-dakwah-subscribe%40yahoogroups.com> > Yahoo! Groups Links > > > > > > Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah. Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] <mailto:media-dakwah-subscribe%40yahoogroups.com> Yahoo! Groups Links Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah. Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] <mailto:media-dakwah-subscribe%40yahoogroups.com> Yahoo! Groups Links --------------------------------- Do you Yahoo!? Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail. [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah. Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
