Menikah secara tidak jujur
Assalamu'alaikum wr. wb.
Ibu Anita yang dirahmati Allah. Saya ingin berkonsultasi dengan ibu mengenai
masalah Rumah Tangga saya. Perkenankan saya memperkenalkan diri saya terlebih
dahulu
Saya seorang pria berusia 36 tahun menikah dengan 2 anak. 1, 5 tahun yang
lalu saya berkenalan dengan Seorang Wanita yang bernama (A). Dari hari ke hari
dan bulan kami semakin akrab dan (A) sudah tidak bersuami.
Akhirnya rasa sayang, simpati dan cinta itu tumbuh dari hati saya, sayangnya
saya tidak jujur dengan (A) mengenai status dan keadaan saya. Mengapa saya bisa
sayang, simpati dan jatuh cinta oleh (A):
Dia lalu mengingatkan saya hal-hal tentang agama
Dia selalu mengingatkan saya sholat 5 waktu.
Sikap mandiriannya dan iklas tanpa mengharapkan apa-apa kecuali balasan dari
Allah
Ibu Anita yang dirahmati Allah SWT, akhirnya saya menikahi (A) secara agama
dan hukum tanpa sepengetahuan orang tua dan isteri saya untuk menghindari
fitnah dan hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah menikah dengan (A) saya berusaka membagi dan mengatur waktu antara
dia dan isteri saya dengan berbagai alasan. Allah Maha Besar untuk menunjukan
yang benar itu benar, akhirnya rahasia itu terbongkar oleh isteri saya melalui
Surat Dokter atas nama (A).
Ibu Anita yang dirahmati Allah, saya tidak bisa menghindar dan tertangkap
basah. Saya memohon ampun serta mengakui semua kesalahan dan jelaskan bahwa
saya dengan (A) telah menikah Resmi bukan Sirih. Tanpa sepengetahuan saya,
isteri saya berusaha bertemu dan bicara dari hati ke hati dengan (A), pada
waktu itu (A) belum mengetahui masalah ini. Setelah (A) mengetahui status saya
dia shock.
Sekarang saya sedang cooling down dan kembali ke rumah dengan isteri saya,
tapi untuk mendapatkan isteri saya kembali pulang ke rumah, ke luarganya
menekan saya menandatangi Surat Pernyataan dan menyelesaikan masalah saya
dengan (A), sedangkan (A) memberi saya waktu 3 bulan untuk memberikan keputusan
yang terbaik bagi dirinya.
Ibu Anita yang dirahmati Allah SWT, pertanyaan saya adalah:
1. Nasi sudah menjadi bubur, haruskah saya menceraikan salah satu dari isteri
saya yang sudah sama sama saya Zholimi.
2. Salahkah saya jika saya tidak ingin bercerai dan menyia-nyiakan keduanya,
karena sudah menyakiti hati mereka dengan cara tidak jujur.
3. Apa yang harus saya lakukan dengan tekanan dari ke luarga isteri dan batas
waktu 3 bulan untuk (A).
Saya berharap melalui konsultasi ini saya memeroleh dorongan moral untuk
masalah yang sedang saya hadapi secara bijaksana dan tanpa menyakiti keduannya
Teriama kasih sebelumnya atas jawaban Ibu.
Wassalam,
Kelly
Kly
Jawaban Assalammu'alaikum wr. wb.
Bapak Kly yang dirahmati Allah,
Saya pahami kebingungan bapak saat ini yang merasa kesulitan untuk memutuskan
sesuatu yang terbaik bagi ke luarga dan orang-orang yang bapak cintai. Dan itu
sudah menjadi resiko dari pilihan bapak ketika melangkah memutuskan untuk
melakukan poligami secara diam-diam maka hal seperti ini pasti terjadi. Namun
saya menghargai niat baik bapak yang hendak menebus kesalahan dan berusaha
untuk bisa memberikan sikap terbaik bagi situasi ini yang tidak menyakitkan
kedu isteri bapak
Jika bapak berharap untuk tidak menyakiti keduanya rasanya sulit karena
keduanya pasti sudah merasakan derita dari kebohonganyang telah bapak
lakukan.Hanya kedua isteri bapak kelihatannyasama-sama mampu mengendalikan
dirinya sehinggamasih memberikan kesempatan bagi diri bapak untuk memikirkan
sikap bapak berikutnya. Jika bapak menghendaki untuk menyelamatkan kedua
pernikahan.nampaknya sulit, karena Ke luarga isteri pertama bapak sudah
memberikan pilihan pada bapak agar memilih salah satunya.
Memahami situasi penuh tekanan ini, nampaknya memang dibutuhkan ketenangan
hati dan pikiran bagi semua pihak agar segalanya dapat diselesaikan dengan
baik. Dalam hal ini saya menyarankan senantiasa kedekatan kepada Allah melalui
ibadah dan doa, semoga Allah meluruskan niat dan mengembalikan lagi semuanya ke
jalan yang terbaik.
Sedangkan permasalahan kelanjutan rumah tangga bapak, sebenarnya akan kembali
berpulang kepada yang menjalaninya. Sanggupkah isteri-isteri bapak tersebut
menjalani kehidupan berpoligami atau mereka memilih untuk bercerai daripada
menjalaninya? Hal ini harus bapak pikirkan dan bicarakan secara baik dengan
isteri terutama isteri pertama bapak. Karena kehidupan poligami yang dipaksakan
bisa juga berdampak merusak bagi anggota ke luarga yang menjalaninya.
Pada akhirnya bapak memang harus menerima kenyataan jika memang diharuskan
untuk memilih. Berat memang, namun itu resiko yang mungkin harus diterima dari
apa yang telah bapak lakukan. Tapi percayalah jika keputusan bapak kemudian
diniatkan untuk perbaikan maka yakini Allah akan menolong jalannya. Jika bapak
menghendaki perbaikan pastikan bahwa semaksimal mungkin tidak ada pihak yang
tidak mendapatkan haknya. Berdoalah dalam tobat bapak agar dapat mendapatkan
jalan terbaik dari Allah, karena yang baik menurut kita belum tentu terbaik
menurut Allah. Wallahu'alambishshawab.
Wassalmmu'alaikum wr.wb
Rr Anita W.
Yathie
(Dalam seribu temen belum tentu wujud seorang sahabat, karena PERSAHABATAN itu
memerlukan kejujuran yang merupakan kebahagiaan dalam kehidupan)
---------------------------------
Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.
[Non-text portions of this message have been removed]