http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=berita%7C-719%7CX
Senin, 13 November 2006
*Peran Media dalam Menghapus Diskriminasi terhadap Perempuan *
Jurnalis: Henny Irawati

*Jurnalperempuan.com-Jakarta. *Media adalah ujung tombak sosialisasi. Tidak
saja mengenai kovenan-kovenan internasional yang sudah diratifikasi
Indonesia, seperti *Convention on the Elimination of All Forms of
Discrimination Against Women* (CEDAW, Konvensi Penghapusan segala bentuk
diskriminasi terhadap perempuan) atau Beijing Platform for Action (BPFA,
Landasan Aksi Beijing), tapi juga keputusan dan ketetapan pemerintah terkait
dengan konvensi-konvensi tersebut. Pandangan ini disampaikan Deputi II
Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Sri Danti, dalam "Workshop Jurnalis
dalam Rangka Advokasi Penghapusan Diskriminasi Gender Menuju Tujuan
Pembangunan Millenium" yang bertempat di Hotel Cemara, Sabtu (11/11). Selain
peran sebagai ujung tombak, Sri Danti menjelaskan bahwa media juga berperan
sebagai pengawas. Misal mengawasi pelaksanaan pembangunan atau penetapan
Undang-undang. Menjadi hak media untuk mengkritisi langkah-langkah yang
dilakukan pemerintah.

Namun, lebih lanjut Sri Danti memaparkan, selain hak, media juga mempunyai
kewajiban dan tanggung jawab. Harus ada akuntabilitas di dalam
pandangan-pandangan yang disampaikan dalam pemberitaannya. "Menulis
berdasarkan faktalah konkretnya. Jangan ada pandangan pribadi. Selain itu,
sertakan juga saran-saran yang dapat dijadikan sebagai alternatif jalan
keluar." Pendapat Sri Danti ini semakin menguatkan mengapa perempuan dan
media menjadi salah satu, di antara 12 isu kritis, yang ditetapkan dalam
yang merupakan hasil dari Konferensi Perempuan Se-Dunia ke-IV, 1995, di
Beijing, China.

Menurut Achie Sudiarti Luhulima yang bertindak juga sebagai narasumber,
sasaran strategis BPFA, berkait dengan isu perempuan dan media, pertama,
memberi kesempatan untuk perempuan untuk semakin meningkatkan partisipasinya
dalam berekspresi dan mengambil keputusan di dalam dan melalui media massa.
Dia harapkan sasaran pertama itu dapat menunjang sasaran BPFA yang kedua,
yakni memajukan gambaran yang seimbang dan tidak stereotip dalam media.
Karena sudah menjadi rahasia umum, sebagian besar media juga berperan serta
dalam eksploitasi perempuan. Karena itu, Achie yang aktif di LIPI dan
Convention Watch Universitas Indonesia ini menegaskan, "Isu prioritas yang
ingin dihapuskan dari media adalah viktimisasi perempuan dalam media,
banyaknya bias gender dalam pemberitaan di media, dan perlunya pemahaman
kesetaraan gender bagi pekerja media."

Lebih lanjut, Sri Danti memuji media-media yang sudah banyak mengangkat
perempuan sebagai korban kekerasan. Akan tetapi, dia juga mempertanyakan,
apa peran media untuk mengikis persoalan ini. "Misalnya, dengan
mensosialisasikan, bila perlu sampai ke daerah-daerah, program-program yang
menayangkan langkah-langkah yang harus diambil perempuan korban kekerasan
atau prosedur menjadi tenaga kerja luar negeri," usulnya. Sementara menurut
Achie, langkah ke depan yang harus diambil adalah melakukan pembenahan
regulasi media berkaitan dengan sanksi, mengadakan pelatihan jurnalisme
gender bagi media, serta melarang penayangan iklan-iklan yang
mengeksploitasi perempuan.*

Kirim email ke