http://www.kompas. co.id/kompas- cetak/0611/ 17/or/3100018. htm
============ ========
Maradona Pun Membenci Bush 
ARIEF NATAKUSUMAH

Di dalam otobiografinya, "Yo Soy El Diego" (Aku adalah Diego), dia mengaku 
bahwa impian awalnya kala mulai menyukai sepak bola adalah ingin menjadi 
libero, pemain yang paling punya peran bebas di lapangan hijau. 
Babak berikut hidupnya, sepanjang 20 tahun dia terlihat berupaya mengembalikan 
keterpurukan post power syndrome, kasak-kusuk mencari bentuk kehidupan baru 
yang paling cocok. Kini batinnya menemukan apa yang dicari sekaligus 
dilupakannya selama ini: menjadi tokoh penentang ketidakadilan, penindasan, 
arogansi dan kerakusan, yang juga lama menderanya. 

Saatnya untuk menghentikan semua itu! Dan lawannya belakangan tak main-main, 
Amerika Serikat, dalam hal ini Presiden George Walker Bush yang dicapnya sumber 
masalah di dunia saat ini. Sebagai aktivis anti- AS, Maradona telah memasuki 
sesi kedua kehidupannya. 
Di Argentina, Maradona adalah cerminan sumber cinta dan benci, gejolak gairah 
sekaligus frustrasi, kritik, brutal, kegembiraan, sekaligus juga harapan. 

Maka, wajar publik Argentina bersedia dipimpin Maradona menentang kunjungan 
Presiden George Bush ke kota Mar del Plata, sekitar 400 km selatan Buenos Aires 
pada awal November 2005. Kala itu Bush ke sana menghadiri Kesepakatan 
Perdagangan Bebas Amerika (FTAA). 
Di Estadio José Maria Minella, pusat unjuk rasa, Maradona memakai kaus 
bertuliskan "Stop Bush" seraya berkata, "Saya bangga menjadi orang Argentina 
yang pergi dengan kereta untuk menentang Bush, si pembual." 

Maradona juga terlihat bahu-membahu dan bergandeng tangan di tengah saratnya 
massa dengan Presiden Venezuela Hugo Chavez. Sambil memeluk Chavez, musuh nomor 
dua AS setelah Fidel Castro di bumi Amerika, Maradona berteriak lantang. 
"Argentina punya martabat! Marilah kita enyahkan Bush dari sini!" kata si 
pemilik tato wajah Castro di kakinya itu. 

Dikritik media 

Menghadapi orang-orang Eropa atau Amerika, Maradona selalu bergairah layaknya 
saat di lapangan hijau. Di benak si legenda Napoli, kedatangan Bush seperti 
mengingatkan dirinya pada dua bos klub utara Italia, Silvio Berlusconi (AC 
Milan) atau Gianni Agnelli (Juventus), di Stadion San Paolo saat masa jayanya 
dulu. Ia kerap kesetanan dan mencetak gol walaupun ada kalanya timnya kalah. 

Seusai gantung sepatu, pria kelahiran Buenos Aires, 30 Oktober 1960, ini 
rupanya sama sekali tak punya bakat melatih atau memberdayakan pemain. El Diego 
ternyata punya visi lain sebab lebih suka membicarakan ketidakadilan, 
kontrakapitalisme, anti-imperialisme, dan sudah barang tentu anti-Amerika. 
Acara talk-show televisi yang diasuhnya, La Noche del 10 atau "Malam Si Nomor 
10", selalu berisikan pesan sangat anti-Amerika. 

Saat mewawancarai pemimpin Kuba Fidel Castro selama lima jam, Maradona bak 
seorang politisi. "Kita harus menggalang solidaritas, dan dengan Argentina! 
Kami berjuang selama puluhan tahun, dan kami senang kalian ada di belakang 
kami," kata Castro, yang dianggap Maradona sebagai ayahnya. 

Akan tetapi, aktivitas baru Maradona itu mendapat kritikan tajam John Tierney, 
editor sekaligus kolumnis The New York Times. "Dia jadi besar dan kaya raya 
berkat ekses globalisasi, tetapi kini mengutuk habis kapitalisme. Bukankah itu 
justru akan menjauhkan dirinya pada rakyat Argentina?" lanjutnya. 

Rakyat Argentina yang kebanyakan miskin pasti tahu betapa bedanya mereka dengan 
Maradona. "Selain untuk mempertahankan pamornya di depan publik, Maradona hanya 
ingin menutupi boroknya sendiri yang telah kenyang menikmati ranumnya buah 
globalisasi, " timpal Dave Zirin dalam kolomnya di The Nation, mingguan politik 
dan budaya terbitan New York. 

Ia merasa cocok dengan peran barunya ini sebab dia punya pengalaman 
memperdayakan lawan, yang selalu dilakoninya sejak dulu. Maradona bak menjalani 
kehidupan seperti Muhammad Ali pada tahun 1968. Dia bangga dengan perjuangan 
Ernesto ´Che´ Guevara, tokoh penentang imperialisme Barat. Sebagai pemain 
terpopuler dari olahraga terpopuler di dunia, dia memang punya potensi. 

Pengaruh "gambeta" 

Buat sebagian orang berhaluan konservatif, Maradona adalah ikon sepak bola dari 
seberang pagar. Hidupnya, seperti juga gaya sepak bolanya, sangat identik 
dengan semua hal yang subversif. Mengapa bisa demikian? Jorge Burruchaga, 
rekannya yang diberi umpan kala mencetak gol kemenangan melawan Jerman Barat di 
final 1986, membeberkan siapa dan bagaimana Maradona dengan apa yang disebutnya 
gambeta. 

Untuk menjiwai kehidupan masyarakat kumuh di Argentina, konsep hidup mereka 
harus dimengerti. Gambeta merupakan gabungan dari unsur-unsur: keterampilan, 
kreativitas, dan gairah tipu muslihat. Gol kedua Maradona ke gawang Inggris, 
yang dilabelkan sebagai gol terbaik sepanjang masa (miracle goal) versi FIFA, 
adalah murni dari keterampilan, bagian dari gambeta. Namun, gol pertama nan 
kontroversial yang disebutnya lo Mano de Dios atau "Tangan Tuhan" ke gawang 
Peter Shilton juga gambeta dari sisi lain. 

"Aku sadar itu gol yang curang. Tapi, wasit mengesahkannya. Saya bilang kepada 
rekan-rekan, siapa pun yang merampok seorang pencuri, ia akan mendapat 100 
tahun ampunan," kata El Diego. 
Dendamnya kesampaian. Inggris, yang tahun 1982 menghancurkan Argentina pada 
Perang Malvinas, menuai kekalahan menyakitkan sepanjang sejarah dalam bentuk 
lain. Maradona menjalankan sportivitas ala gambeta yang diajarkan sekolah 
Inggris di Villa Fiorito, tempat masa kecilnya yang kumuh. 

Di mata sastrawan Eduardo Galeano, Maradona adalah contoh terbaik dari produk 
perang dingin, termasuk di sepak bola, pada era 1960-an. Tak seorang pun yang 
bisa memprediksi atau menebak gerakan Maradona. Dia sebenarnya tak cepat. 
Namun, jika diibaratkan seekor sapi gemuk dengan sebuah bola di kakinya, mata 
orang malah lebih tertuju pada badannya. 

Di mana saja, akrobatik Maradona selalu menerangi lapangan. "Saat di mana 
hal-hal berbau kesenangan banyak dilarang, dia telah membuktikan lewat gaya 
sepak bolanya yang efisien dan fantasi," jelas Galeano. 

Lewat diplomasi sepak bolanya, Maradona, Chavez, atau Castro boleh saja terus 
menyerang gawang Amerika yang dijaga Bush. Sayangnya, yang mereka gempur 
bukanlah seorang kiper yang lazim, melainkan orang yang biasa bermain bisbol, 
yang pada kenyataannya tak pernah mengerti sepak bola. Bush selalu teguh 
berprinsip, Amerika Utara tak membutuhkan sepak bola, sesuatu yang justru 
menjadi sumber solidaritas bangsa-bangsa di Amerika Selatan. 

Arief Natakusumah wartawan Bolavaganza


 
____________________________________________________________________________________
Sponsored Link

Mortgage rates near 39yr lows. 
$420k for $1,399/mo. Calculate new payment! 
www.LowerMyBills.com/lre

Kirim email ke