SUARA MERDEKA
Minggu, 19 Nopember 2006

Budaya Jawa Digugat Habis

       
      SM/Irawan Aryanto KRITIK JAWA: Sejumlah pengamat dan pelaku budaya 
membahas ''Jawa dalam Kritik'' di ruang sidang Redaksi Suara Merdeka, Jl Raya 
Kaligawe Semarang, Sabtu (18/11). Mereka adalah Mohamad Sobary, Sutanto, 
Darmanto Jatman, Endraswara, dan Abdul Munir Mulkhan. (57m)   
     
JAWA sebagai konstruksi budaya selalu diidentikkan dengan kata adiluhung. Ia 
dianggap kaya filsafat luhur serta ajaran spiritual agung. Maka, orang 
cenderung menempatkannya di wilayah steril dan tak boleh disinggung. 

Padahal, sejatinya tindakan itu justru membuat budaya Jawa menjadi mandek. Ia 
gagap menghadapi perubahan zaman. Agar tak terus berlanjut, Jawa perlu 
dikritik. Dan, untuk itu perlu keberanian. 

Dalam diskusi meja bundar ''Jawa dalam Kritik'' yang diselenggarakan Dewan 
Riset Daerah (DRD) Jawa Tengah dan Suara Merdeka di ruang sidang redaksi, Jalan 
Raya Kaligawe Km 5, kemarin, Jawa digugat habis. Keempat pembicara, yakni Prof 
Dr Abdul Munir Mulkhan, Mohamad Sobary, Sutanto Mendut, dan Drs Suwardi 
Endraswara MHum, secara blakblakan mengkritik Jawa yang konservatif.

Suwardi Endraswara, misalnya, dengan tegas menyebut orang Jawa itu jelek. Untuk 
menguatkan tesisnya, dosen FBS Universitas Negeri Yogyakarta itu memaparkan 
fakta. Misalnya, orang Jawa pandai berkamuflase, bodoh, pembangkang, munafik, 
pendengki, dan suka mendendam.

Ungkapan mikul dhuwur mendhem jero adalah contoh paling tipikal. Dia menilai 
kalimat yang kerap disitir Pak Harto saat berkuasa itu sebagai referensi sahih 
atas tindak kebohongan. ''Maksud idiom mikul dhuwur, yang baik menurut sepihak 
dijunjung tinggi. sedangkan mendhem jero, menutup segala yang gelap.''

Kemunafikan orang Jawa, ujar dia, dapat dilihat dari ketakselarasan kata dan 
perbuatan. Di luar menyuarakan ajaran-ajaran luhur, tetapi kenyataannya gemar 
berbuat nista, suka berselingkuh dengan menyimpan gendakan. Adapun sikap 
pembangkangan orang Jawa dapat dirunut dari Ken Arok, Ki Ageng Mangir, dan 
Sudira Waryanti.

Bagai menyambung, Mohamad Sobary menyebut borok-borok manusia Jawa. Sesuatu 
yang bersifat idiil bagi mereka saat ini hanya ada di angan-angan. 

Sastra sebagai salah satu media yang memuat kesadaran idiil itu gagal menjalin 
relasi dengan kekinian. Komunitas kejawen pun sekadar menjadi alat kelangenan. 

Peneliti senior LIPI itu mencontohkan, masyarakat Jawa urban yang mukim di 
perkotaan. Mereka babak belur dalam pertarungan hidup dan mencari obat dalam 
komunitas-komunitas semacam itu. Dan, mereka merasa mendapat penghiburan atas 
kekalahan yang dialami. 

Dia juga menyangkal pernyataan yang menyebutkan pepe dan perdikan sebagai 
perwujudan demokrasi ala Jawa. ''Pepe itu demokrasi omong kosong. Yen rajane 
kober ya ditemoni. Tapi yen ora ya modara kana. Perdikan pun tak lebih sebagai 
upaya penyingkiran terhadap lawan raja yang dianggap membahayakan kekuasaan.''

Dalam diskusi yang dihadiri Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Sasongko Tedjo dan 
Ketua DRD Jawa Tengah Prof Dr Siti Fatimah Muis MSc itu, Sobari menegaskan 
bahwa Jawa saat ini berada dalam krisis serius. Jawa sekadar menjadi referensi 
dan akan makin remuk jika tak segera diselamatkan.

Ironi

Abdul Munir Mulkhan mengungkap ironi Jawa sebagai kebudayaan. Pada saat banyak 
orang asing mengagungkan, di sini kian sulit menemukan orang Jawa yang mengerti 
kejawaan.

Guru besar Fakultas Tarbiyah Universitas Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta itu 
menggunakan contoh sederhana. Dia melihat orang Jawa yang mampu berbahasa dan 
baca-tulis huruf Jawa untuk berkomunikasi sehari-hari kian sedikit. 

''Pembuktian sederhana apakah sekelompok orang disebut orang Jawa atau tidak 
salah antara lain adalah pada penggunaan bahasa dan huruf Jawa.''

Sementara itu, Tanto Mendut menolak pengotakan Jawa sebagai sebuah wilayah 
teritorial. Jawa itu mahaluas dan tak berbatas. Karena itulah dia sukarela 
menyerahkan koleksi gamelan dan kerisnya untuk disimpan seorang profesor di 
Warsawa.

Sutanto juga mengkritik Jawa ortodoks sebagai tatanan yang tak egaliter. 
Sebagai pembanding, dia menggunakan komunitas orang gunung di wilayahnya yang 
hidup berdasarkan naluri.

Kritik pedas keempat pembicara terhadap realitas kekinian Jawa mendapat respons 
beragam dari peserta diskusi yang dipandu Darmanto Jatman itu. Ketua Yayasan 
Swagotra Setiadji Pantjawijaya menilai kritik mereka tak berimbang. 

Selain kejelekan, kritik yang baik semestinya juga mengungkapkan sisi kebaikan. 
Dia menyebut beberapa keunggulan Jawa yang tak dimiliki peradaban lain, 
terutama pada sisi spiritual. Misalnya, ngerti sadurunge winarah.

Triyanto Triwikromo yang menjadi pembahas melihat para pembicara memandang Jawa 
sebagai entitas tunggal. Padahal, senyatanya plural. Jawa, ujar Triyanto, tak 
bisa dilepaskan dari unsur kebudayaan yang memengaruhinya. 

Jadi ketika mengkritik Jawa, mereka sesungguhnya juga mengkritik Barat, Hindu, 
dan tentu saja mengkritik diri sendiri.

Yap, Jawa yang dirundung krisis memang harus dikritik. Namun bisakah kritik itu 
dialihkan menjadi energi pembangun yang membuatnya lebih baik? (Rukardi-53

<<attachment: em1jawa4nas19.jpg>>

Kirim email ke