Kasus Smack Down 

Kak Seto: Anak Peniru Yang Baik

Nograhany Widhi K - detikcom

 

Jakarta - Tayangan kekerasan di televisi dapat mempengaruhi perilaku dan
perkembangan psikologi anak. Anak-anak adalah peniru yang terbaik di dunia.

 

"Anak-anak itu peniru yang terbaik, termasuk dari yang ada di televisi,"
kata Ketua Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, saat berbincang dengan
detikcom, Jumat (24/11/2006).

 

Seorang anak, tambah dia, jika merasa diakui akan apa yang dilakukannya,
maka anak tersebut akan melakukannya lagi dan bahkan lebih. "Ada mekanisme
punish and reward, biar kelihatan semakin gagah dan hebat," kata Kak Seto.

 

Pria yang akrab dengan anak-anak ini berpendapat, lebih dari 80 hingga 90
persen tayangan televisi tidak berpihak kepada anak dan tidak konstruktif
bagi perkembangan jiwa anak.

 

Karena itu Kak Seto mengimbau para orang tua untuk membudayakan nonton
televisi yang sehat, walaupun standar tiap orang tua berbeda untuk jumlah
jam menonton televisi, hendaknya ada keseimbangan antara bermain, belajar
dan nonton televisi.

 

Mengenai kasus meninggalnya siswa SD di Bandung karena di-smack down
kawan-kawannya, Kak Seto melalui Komnas Perlindungan Anak sudah melayangkan
surat protes kepada Lativi dan mendesak kepada yang bersangkutan untuk
menghentikan tayangan tersebut.

 

Surat protes itu dikirimkan Selasa 21 November, dan mendapat jawaban Rabu 22
November. Kedua pihak rencananya akan bertemu pada Selasa 28 November untuk
mendapat klarifikasi dari Lativi.

 

"Dulu sudah ada kasus Raju di Medan, jangan menunggu korban yang lebih
banyak lagi," pungkas dia.

 

Reza Ikhsan Fadillah (9), siswa kelas III SD Cingcin I Katapang, Bandung,
meninggal dunia setelah di-smack down teman-temannya yang berusia jauh lebih
tua dan hobi menonton tayangan Smack Down di televisi. (nwk/fjr)

 

Source :
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/11/tgl/24/tim
e/091019/idnews/712177/idkanal/10

 

 

 

 

Smack Down Makan Korban 

KPI Jabar Panggil Lativi Senin

Nograhany Widhi K - detikcom

 

Jakarta - Acara yang menayangkan aksi para jagoan bertubuh kekar saling adu
jotos dan saling banting, Smack Down, mndapat respon Komisi Penyiaran
Indonesia (KPI). Rencananya pada Senin 27 November mendatang, KPI Daerah
Jawa Barat akan memanggil Lativi untuk memberi klarifikasi.

 

"Seharusnya untuk acara yang menonjolkan adegan kekerasan ditayangkan jam
sepuluh malam keatas," kata anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Amelia
Hezkasari Day, kepada detikcom, Jumat (24/11/2006).

 

Amelia mengaku, pihaknya pernah menegur Lativi atas pelanggaran jam tayang
itu. "Alasan Lativi, sudah terikat kontrak sampai bulan Desember," ungkap
Amelia.

 

Tanggapan Lativi, menurut Amelia, cukup kooperatif. Begitu ada kejadian yang
menghebohkan di Bandung, pihak Lativi langsung mendatangi KPI.

 

"Jam tayangnya sudah diubah menjadi jam sepuluh malam sejak dua hari yang
lalu, jadi Lativi menanggung resiko kontraknya," kata Amelia.

 

Namun Amelia mengatakan untuk jangan buru-buru menuduh pihak Lativi sebagai
penyebab meninggalnya Reza Ikhsan Fadillah, siswa SD di Bandung yang
di-'smack down' kawan-kawannya.

 

"Kasusnya masih dalam penyelidikan polisi, belum tahu meninggal karena
berantem-beranteman atau ada penyakit lain," kata Amelia.

 

Kalau memang hal tersebut karena pengaruh tayangan Smack Down, KPI akan
meminta Lativi menghentikan acara tersebut maupun acara-acara sejenis di
televisi lain.

 

Persaingan Pasar

 

Amelia juga tidak menampik adanya faktor pasar yang bermain dalam penayangan
Smack Down, walaupun tayangan tersebut pernah diputar oleh RCTI.

 

"Waktu itu juga sudah dicomplain oleh banyak orang, namun tidak ada korban
yang meninggal," katanya.

 

Menurutnya, di daerah Jawa Barat, Lativi menempati urutan kedua. "Karena di
beberapa daerah di Jabar yang bisa diterima hanya TVRI dan Lativi saja,
selain itu rating Smack Down di Lativi lebih bagus dari pada di RCTI,
mungkin juga cara mengemasnya," kata Amelia.

 

Selain faktor pasar, Amelia juga menyoroti kelalaian orang tua dalam
mengawasi tayangan yang ditonton oleh anak, terutama pada jam tayang dimana
anak sudah harus tidur.(nwk/fjr)

 

Source :
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/11/tgl/24/tim
e/085502/idnews/712162/idkanal/10

 

 

Kirim email ke