Dear Manneke, Kapan-kapan aku berkunjung ke rumah Manneke, aku akan atur agar warna lemari Manneke diubah menjadi hijau, mejanya dipindah ke pojokan supaya ada banyak ruang untuk bersujud sembahyang. Lalu aku akan memelihara kambing di kebun rumah Manneke supaya saat Adul Adha bisa disembelih untuk korban. Upacara penyembelihan kambing juga akan aku lakukan di kebun rumahnya Manneke yang amat sangat menjunjung tinggi budaya tamunya itu. Daging babi tidak boleh lagi Manneke makan di rumah lho ya, kalau tokh mau makan daging babi Manneke mesti ke restoran saja dan mandi dulu sebelum pulang ke rumah ya sebab daging babi haram adanya.
Kemudian langganan koran Manneke aku ubah menjadi Maroc News atau Iraki's Times. Dan aku akan memasang antene parabola di atas rumah Manneke supaya bisa menangkap siaran Al Jazeera, dan TV Manneke akan aku pakai setiap hari hanya untuk menonton siaran Al Jazeera itu saja. Oh ya, aku akan datang ke rumah Manneke tidak sendirian tentunya, tapi mengajak beberapa teman wanitaku yang semuanya mengenakan burka, dan Manneke tentunya tidak boleh menjabat tangan wanita-wanita temanku itu apalagi dekat-dekat dengan mereka sebab Manneke berjenis kelamin pria dan kafir lagi, jadi Manneke haram banget 'tuh buat teman-teman burkaku itu. Teman-teman burkaku itu tentu harus ditanggung hidupnya oleh Manneke sebab mereka mustahil mendapat kerjaan dengan burkanya itu. Kelihatannya akan merepotkan Manneke ya, tapi aku yakin Manneke akan mememnuhi semua permintaanku dan teman-temanku dengan senang hati 'kan? Satu hal aku jamin, aku dan teman-teman burkaku akan bersikap sopan santun sesuai permintaan tuan rumah Manneke sendiri. Tapi ya itulah Manneke, asal Manneke tahu saja ya, keramahan kami itu hanya akan kami lakukan bila semua permintaan kami dikabulkan oleh Manneke donk deh sih tuh nih yee cihui bah hoeraa ...... Anyway, tunggu tanggal mainnya ya Manneke sayang, kami pasti akan berkunjung ke rumah Manneke, menetap dan menikmati semua fasilitas yang Manneke berikan ke pada kami selama mungkin, demi persahabatan kita yang win win situation tentunya ya. Salam hangat dari (terutama) teman-teman burkaku. Daag doei ... --- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kalau yang punya budaya Belanda tak suka burka, kok ngotot to? > pendatang mau didik yang punya rumah? piye toh? > > > > --- In [email protected], manneke <manneke@> wrote: > > > > Kalau begitu halnya, manusianyalah yang mestinya diberi pendidikan > dan penyadaran, bukan pakaiannya yang dilarang. Kesediaan bergaul > atau tidak tak ditentukan pakaian tapi kesadaran. Kalau sudah lepas > burqa karena dipaksa undang-undang, apa lantas dijamin bahwa akan > mau bergaul? Di samping itu, jangan keburu diasumsikan bahwa semua > yang pakai burqa anti pergaulan sama orang lain. > > Apa sih sebetulnya perbedaan hakiki antara UU yang mewajibkan > orang pakai burqa, tak peduli orangnya mau atau tidak, dengan UU > yang melarang orang pakai burqa, tak peduli orangnya dengan sadar > memilih pakaian itu sendiri? Tak ada bedanya. Dua-duanya represif. > > > > manneke > > > > > > > > -----Original Message----- > > > > > Date: Wed Nov 22 15:14:40 PST 2006 > > > From: "helsing744" <helsing744@> > > > Subject: [mediacare] Re: Belanda Berencana Larang Jilbab > > > To: [email protected] > > > > > > Wah terima kasih atas "pengakuan" senior saya (Om Loecky), > meskipun > > > ??terpaksa??. > > > > > > Lebih dari itu, jauh di dasar lubuk hati, saya ingin melihat > > > muslimah di eropa bisa berbaur dan bergaul secara "wajar" dgn > > > masyarakat setempat. Berbusana secara mencolok untuk menunjukkan > > > identitas agama didepan umum saya kira adalah satu sikap > > > eksklusifisme yg kontra dgn semangat pluralis. > > > > > > Dari pengalaman dan pengamatan saya, muslimah berjilbab atau > apalagi > > > berburqa, punya kencenderungan untuk bergaul dan berinteraksi > sosial > > > sebatas golongan mereka, sikap menutup diri seperti ini saya > rasa > > > akan menghambat kemajuan (baik kepribadian atau wawasan) mereka > dan > > > generasi mereka selanjutnya (bila terus terkungkung dgn tradisi > > > mengagungkan simbol2 agama TANPA mau melihat lebih jauh essensi > > > agama). > > > > > > Lebih ??arogan?? lagi, saya ingin membongkar tradisi islam -yg > Arab > > > sentris- yg ingin terus dilestarikan tanpa mau melihat konteks > dan > > > essensi persoalan yg ada. Saya pikir, menjadi muslim/ah yg faham > > > akan essensi agamanya lebih baik dari pada menjadi muslim/ah yg > > > lebih cinta dan bangga dgn simbol-simbol agama tanpa menyentuh > > > essensi agama. > > > > > > Yang sering memprihatinkan saya dari kelompok (berarti tidak > > > semuanya) agama islam, mereka masih saja bertikai soal arti > penting > > > simbol2 agama sementara intisari dari ajaran agama itu sendiri > malah > > > terabaikan atau tidak menarik untuk diamalkan. > > > > > > Di persimpangan itu saya kira ??kontroversi?? islam terus > menarik > > > untuk dibicarakan dan dibahas tidak saja oleh masyarakat islam > tapi > > > juga oleh masyarakat non islam, nampak "unik" sih soalnya. > > > > > > VH > > > > > > > > > > > > --- In [email protected], "loekyh" <loekyh@> wrote: > > > > > > > > Pak Manneke, saya terpaksa mengakui kebenaran argumen seorang > rekan > > > > (vanHelsing/ ayah_devi). Walaupun masih muda, argumen Helsing > > > sangat > > > > benar sekali ketika ia menekankan bahwa aturan2 yg dibuat dan > > > sering > > > > dianggap mengekang kebebasan orang lain sebenarnya bertujuan > > > > mengurangi atau menghilangkan DAMPAK negatif dari hal yg > dilarang > > > tsb > > > > thd publik/ orang lain. > > > > > > > > Jadi Helsing mengukurnya bukan dari (kebebasan) diri sendiri > (yg > > > cuma > > > > satu orang). Sebab kebebasan ini mungkin/ berpotensi > mengorbankan > > > > kepentingan BANYAK orang lain. Contohnya adalah larangan > merokok. > > > > Sedangkan aturan burqa ini merupakan langkah2 pengamanan > secara > > > fisik > > > > (bahkan menurut saya juga secara mental, yaitu menjamin > PERASAAN > > > aman > > > > orang2 yg berada di tempat2 umum). > > > > > > > > Salam > > > > > > > > --- In [email protected], manneke <manneke@> wrote: > > > > > > > > > > Saya sudah lihat dan saya tahu burqa itu seperti apa. > > > Persoalannya > > > > bukan terletak pada bentuk pakaiannya, melainkan pada > pembatasan > > > > kebebasan warga negara untuk memilih dan menentukan sendiri > pakaian > > > > seperti apa yang cocok bagi dirinya. Lain halnya jika > pemaiakan > > > burqa > > > > itu adalah hasil dari pemaksaan, yang jika tak dipatuhi maka > > > > individunya disakiti atau diancam keselamatan jiwanya. > > > > > > > > > > saya juga cinta kebebasan, tetapi kebebasan yang konsisten, > bukan > > > > yang tebang pilih, apalagi atas dasar bias dan prasangka > agama. > > > Dari > > > > pihak mana pu itu datangnya. > > > > > > > > > > Mari kita merenung sama-sama. > > > > > > > > > > manneke > > >
