--- In [email protected], "idakhouw" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Apakah masjid di Manada adalah indigenous factor? kalo ikut jalan > pikiran Anda, harus ditutup dong masjid-masjid itu. Apakah gereja di Tasikmalaya adalah non-indigenous factor? Kalo gitu, kita setuju dong sama akelompok-kelompok fundamental yang menutup paksa gereja- gereja di sana?
---> Suatu pertanyaan yang aneh. Tidak mengakui adanya budaya indigeneous adalah nmenutup mata pada realitas. Masjid di Manado termasuk budaya minoritas karena adanya bagian penduduk Minahasa yang Muslim, seperti orang Jaton di Tondano. Juga orang Kristen di Tasikmalaya adalah bagian dari budaya lokal, walau bukan mayoritas. Kelompk fundamental tidak merefleksikan apsirasi mayoritas, karena mayoritas penduduk Indonesis TIDAK fundamental. Yang logis saja.. > > Yang pakai burqa di Belanda itu turis atau warga negara? Jika sudah jadi WN Belanda, apakah masih tamu? Tamu seumur hidup? Gimana kalo logika yang sama dikenakan kepada kasus etnis Cina di Indonesia? > > ----> Tamu seumur hidup tetap ada. datanglah ke Jogya, maka budaya Minangkabau dikota Gudeg ini, walau sama sama bangsa Indonesia adalah budaya TAMU! Orang Sunda yang pindah ke Minahasa, tetap tamu di Minahasa, dan tak mungkin meng-claim bahasa Sunda adalah bagian dari budaya lokal Minahasa. Ratusan ribu orang Turki tetap menjadi budaya tamu di Vienna, dan mereka selalu diperingatkan hal ini oleh politician di Austria. PM Negara bagian Bavaria (Bayern) menyeriukan lantang: "Migran yang datang kenegri ini haruslah tunduk pada konstitusi dan budaya disini, dan disini berlaku Konstitusi Jerman, bukan Sharia!". Berapa juta tahunpun, budaya Turki di bavaria bukanlah bagian dari budaya Bavaria! Sorry to say, tapi ini realitas. > > Kalo semuanya mau serba indigenous, tak perlu ada imigrasi di dunia ini. Semua orang suruh hidup di negeri asalnya sendiri-sendiri saja. ---> Ini jelas ngawur! Tanyakan pada pemerintah tuan rumah, seperti PM Negara bagian Bavaria itu, apakah immigrasi berarti peleburan budaya? No way bung! > Budaya Eropa adalah budaya kritiani? Katanya sekarang sekular, dan > gereja-gereja sepi? Kok dalam menyikapi kasus burqa, kembali wacana > krstiani dibawa-bawa? Jadi, lagi-lagi ini kasus kristen lawan islam, gitu? Demokrasi cuma buat topeng dong kalo gitu. > > > > manneke Budaya Eropa bernuansa budaya Kristiani, you like it or not! Sekular itu soal lain, jangan dicampur aduk. Sekular berarti, kalau anda mau baca buku, memisahkan kehidupan agama dan negara. Turki juga sekular, 1000% tetapi Turki bernuansa Islami, berbendera merah darah dengan bulan bintang! Lupa? Malaysia juga demokratis sekular, tetapi bernuansa Islami, lupa? Austria, yang bersama negara negara EU lainnya, dalam perancangan Konstitusi Eropa mengusulkan azas Kristriani dalam pembukaan Konstitusi, mau menyimbolkan, bahwa Kristiani adalah budaya dasar Eropa. Lha wong ini sejarah ribuan tahun, jauh sebelum anda lahir kok?. Kenapa ya? Mengapa Eropa tak bernuansa Konghucu? Ini sejarah bung! Kristen lawan Islam? Anda yang katakan! Cobalah pakai Koteka di jalan jalan di Jerman, Austria atau Swiss, atau juga Negeri Belanda! Anda pasti ditangkap polisi. Apakah ini berati Kristen lawan budaya Irian? Jangan ngawur! Atau anda pakai baju Jawa berblanglkon kerja, kalau tidak ditegur atasan anda. Ini berarti Kristiani lawan budaya jawa? Diskusi kok seenak udel to? Demokrasi buat topeng? Silakan anda menyebutnya semau anda. Anda merasakan demokrasi tidak di Belanda? Atau di negeri lain lebih demokratis? Beri contoh soal dong? Somalia? Adfganistan? Bangla Desh? Come on bung Manneke, jangan asal mau benar sendiri! DH >
