Rekan Idakhouw, 

Analogi RUU APP dg larangan burqa menurut gambaran anda dan pak
Manneke basisnya tidak benar. Saya akan membuat analogi keduanya ttp
dg basis yg berbeda sama sekali, yaitu dg basis: MENENTANG
PENGATAS-NAMAAN AGAMA.

Kita membaca dan mendengar bahwa berbagai alasan2 penolakan thd RUU
APP adalah karena RUU APP berpotensi melanggar HAM, merendahkan
derajat wanita, dsb, dan alasan2 ini saya percaya bersifat 'unversal',
pada khususnya bukan merupakan alasan2 berbasis agama. 

Alasan2 ini sangat KONTRAS dg alasan2 para penentang larangan berburqa
menggunakan alasan2 'keyakinan' agama Islam, yg sebenarnya cuma sebuah
pembenaran PENGATAS-NAMAAN dan PENGGUNAAN ISLAM SEBAGAI TAMENG saja. 

Mengapa saya anggap cuma pembenaran saja?

Sebab jika memang berburqa itu merupaka keyakinan Islam yg harus
dipatuhi oleh seluruh muslimah di Belanda, maka mestinya seluruh
muslimah, bukan cuma sekitar 50-100 muslimah, yg ada di Belanda
(bahkan yg ada di seluruh dunia) menggunakan burqa dong. 

Jadi buktikan dulu bahwa pemakaian burqa memang benar2 merupakan
bagian ajaran Islam yg diyakini dan dipraktekkan oleh SELURUH muslimah
di Belanda (di dunia?). Jika anda bisa membuktikannya, barulah saya
akan ikut anda2 semua untuk mementang larangan berburqa di Belanda.

Analogi saya berbeda. Justru semangat menentang RUU APP di Indonesia
sama/analog dengan semangat mendukung larangan berpakaian burqa di
Belanda, yaitu semangat menentang pengatas-namaan agama (bukan cuma
agama Islam) dalam politik dan kebijakan pemerintah. Sebab berbagai
alasan 'demi agama' ini seringkali cuma dibuat-buat saja atau hanya
diyakini oleh sebagian kecil umat agama tsb. Kan banyak pendukung RUU
APP mengatakan alasa2 dukungan mereka karena isi RUU APP sesuai dg
'keyakinan dan ajaran Islam'. 

Mengenai keburukan2 negara/pemerintah Belanda, biarlah orang Belanda
sendiri yg mengkritik pemerintahnya. Saya tinggal tetap dan bekerja di
Indonesia, dan saya adalah WNI, jadi saya akan selalu kritis thd
pemerintah Indonesia.

Salam

--- In [email protected], "idakhouw" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya tentu saja terkagum-kagum pada kemajuan2 yang saya lihat di
> Belanda, Eropa, atau negara2 maju lainnya yang memang kalau
> dibandingkan Indonesia banyak jauh tertinggal.
>  
> Namun kekaguman itu tidak membuat saya shock berkepanjangan, bila ada
> kebijakan pemerintah yang memang tidak tepat, kenapa tidak akui dan
> nilai terus terang bahwa memang tidak tepat? 
> 
> Meminjam perbandingan yg dipakai Manneke, logika peraturan anti burqa
> itu kan persis logika RUU APP yang mengatur dress code perempuan.
> Kenapa terhadap RUU APP banyak dari kita berani vokal (yg saya setujui
> dalam hal ini), tapi tidak terhadap pemerintah Belanda? Di sini saya
> melihat gejala shock-nya sekian banyak orang2 Indonesia yg tinggal di
> negara2 maju. 
> 
> (sedikit melenceng) :
> Mengenai perbandingan dengan pendatang dari 'dunia ketiga' lain,
> sedikit banyak saya perhatikan juga beberapa teman/kenalan (misalnya
> yang dari India), yg bila dibandingkan dengan yg dari Indonesia (maaf,
> kebetulan saya sering sekali ketemu tipe yang shock berkepanjangan),
> orang2 India (yg saya kenal) ini sikapnya jauh bisa lebih percaya diri
> sebagai orang India. 
> 
> Sikap seperti ini -sayangnya- tidak sering saya temukan di kalangan
> orang Indonesia pendatang; misalnya hal yg makin sering saya temukan:
> orang2 Indonesia suka 'ikut senang' negerinya diolok2 (perhatikan kata
> DIOLOK-OLOK) orang lain. Sikap seperti itu tidak saya temukan pada
> kenalan2 orang India 
> 
> Itu sebabnya saya bertanya2 apakah mentalitas demikian dari orang2
> Indonesia ini buah sukses penguasa penjajah Indonesia
> memelihara/mengkondisikan the so-called inlandersmentaliteit.....  
> 
> Ida Khouw 

Kirim email ke