Mbak Ida yang baik, di-mana mana ada pendatang yang walau lama bermukim dikalangan budaya asing, tetap setia, pada budayanya, ada yang keblinger, ada yang menyesuaikan diri secara natural.
Kami, di Vienna ada orang Jawa, yang walau fasih berbahasa Jerman, melebur diri dalam komunitas setempat, tetap mempertahankan budayanya. Kami mempunyai klub gamelan disini. Berbahasa Jawa tinggi, masak makanan Jawa, terutama kalau ada tamu, menguasai sejarah Jawa,dst. saya, sudah puluhan tahun hidup bersama komunitas berbahasa Jerman, belum pernah lupa Kromo inggil, walau jutaan anak Jawa yang tak pernah tinggalkan Indonesia, mengaku tak lagi mampu berbahasa Jawa. Ergo: setia pada budaya sendiri diperantauan, dalam diaspora, tidak harus berarti memaksakan budaya sendiri pada penduduk setempat. Tidak berarti tak mengakui budaya indigeneous tuan rumah kita. Perdebatan burka di Belanda oleh pemerintahan Belanda TAK sama dengan perdebatan RUU APP di Indonesia. 1000% berbeda! Perdebatan RUU APP dilakukan olehkelompok kelompok indigeneous sesamanya. Bahkan yang menolak RUU APP, seperti saudara saudara dari Bali, adalah dalam mempertahankan ke-indigenous-annya. Kita menolak RUU APP, karena adanya kegiatan fanatis keagamaan, yang mau membabat budaya setempat. Perdebataan burka dilakukan oleh penduduk setempat dan pendatang bersama sympatisan mereka. Ke-"tidak tepat"an, yang anda singgung itu membingungkan: apa yang tak tepat, dan menurut siapa tidak tepat? Apakah mereka yang memahami posisi pemerintah Belanda anti burka, dan melawan ekses "Überfremdung" anda anggar akibat dari cultural shock? Apakah ini tak berlebihan? Saya punya saudara yang lebih tua dan hidup di Belgia sejak 1955. Dia sangat integrated dalam masyarakat Belgia, berbicara bahasa Jerman, Belanda dan Perancis secara fasih. Namun, dia tetap sesorang priyayi Jawa, dengan segala perilakuknya, juga penguasaan bahasa Jawanya yang sempurna. Walau istrinya orang Belgia, ia tetap makan makanan Jawa, dan anak anaknya semua bernama Jawa. Dalam pertemuan baru baru ini, dia mengeluhkan pada saya, bahwa selama ini dia merasa homely di Belgia. Tiba tiba dia merasa jadi orang asing. Dikitari orang yang bukan beragama manusia Belgia, bukan berbahasa Belgia (Belanda atau Perancis), dan memberi kesan kita berada di Marokko. Dia kisahkan, orang Marokko menuntut pemakaian bahasa Arab sebagai bahasa ketiga setelah Belanda dan Perancis. Banyak diantara kami yang hidup di Eropa, bukan indigenous, yang ber- tanya tanya, kalau ada orang yang mati matian menolak integrasi, menolak menguasai bahasa dan budaya si tuan rumah, malah memaksakan kebiasaan dari negeri mereka, mengapa mereka tinggalkan negeri mereka? Saya kenal banyak orang Irak, Iran, India, yang sangat keras mengkritik negara asal mereka, tetapi tetap mewakili budaya asal mereka dalam perilaku mereka se-hari hari. Satu tak ada hubungannya dengan yang lain. Meng-olok olok? Weleh weleh, di Indonesia saja jutaan manusia yang mengolok keadaan negara mereka, walau mereka tak pernah tinggalkan negeri mereka. Salam patria Danardono --- In [email protected], "idakhouw" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya tentu saja terkagum-kagum pada kemajuan2 yang saya lihat di > Belanda, Eropa, atau negara2 maju lainnya yang memang kalau > dibandingkan Indonesia banyak jauh tertinggal. > > Namun kekaguman itu tidak membuat saya shock berkepanjangan, bila ada > kebijakan pemerintah yang memang tidak tepat, kenapa tidak akui dan > nilai terus terang bahwa memang tidak tepat? > > Meminjam perbandingan yg dipakai Manneke, logika peraturan anti burqa > itu kan persis logika RUU APP yang mengatur dress code perempuan. > Kenapa terhadap RUU APP banyak dari kita berani vokal (yg saya setujui > dalam hal ini), tapi tidak terhadap pemerintah Belanda? Di sini saya > melihat gejala shock-nya sekian banyak orang2 Indonesia yg tinggal di > negara2 maju. > > (sedikit melenceng) : > Mengenai perbandingan dengan pendatang dari 'dunia ketiga' lain, > sedikit banyak saya perhatikan juga beberapa teman/kenalan (misalnya > yang dari India), yg bila dibandingkan dengan yg dari Indonesia (maaf, > kebetulan saya sering sekali ketemu tipe yang shock berkepanjangan), > orang2 India (yg saya kenal) ini sikapnya jauh bisa lebih percaya diri > sebagai orang India. > > Sikap seperti ini -sayangnya- tidak sering saya temukan di kalangan > orang Indonesia pendatang; misalnya hal yg makin sering saya temukan: > orang2 Indonesia suka 'ikut senang' negerinya diolok2 (perhatikan kata > DIOLOK-OLOK) orang lain. Sikap seperti itu tidak saya temukan pada > kenalan2 orang India > > Itu sebabnya saya bertanya2 apakah mentalitas demikian dari orang2 > Indonesia ini buah sukses penguasa penjajah Indonesia > memelihara/mengkondisikan the so-called inlandersmentaliteit..... > > Ida Khouw > > > > --- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" > <rm_danardono@> wrote: > > > > --- In [email protected], "idakhouw" <idakhouw@> wrote: > > > > > > Saya memperhatikan memang 'penyakit' culture shock (cmiiw) sudah > > > demikian mendalam merasuk sekian banyak orang Indonesia yang > > tinggal di negara2 maju, sehingga gagal melihat blunder2 yang > > dibikin penguasa negara/benua tempat tinggalnya sekarang. > > > > > > Mungkin menarik juga kalau suatu saat meneliti gejala serupa di > > > kalangan imigran dari 'negara dunia ketiga' lain. > > > > > > > > > > Dalam publikasi pemerintah Austria mengenai politik pendidikan, > > dilaporkan, bahwa 80% sekolah yang dikunjungi anak anak immigran > > sangat rendah mutunya, dan tak mampu mengejar standard nasional. > > > > Sebagai sebabnya, adalah karena anak anak ini (kebanyakan Turki) tak > > menguasai bahasa Jerman samasekali), dan tak bergaul dengan anak > > anak setempat. > > > > Mbak Ida, ini mungkin yang dinamakan kuat budaya aslinya ya? Tak > > terkena cultural shock, malah membawa pemandangan Istanbul ketepi > > sungai Donau? > > > > Mungkin ini perlu dipahami oleh PM Austria, dan biarkan saja, kelas > > kelas anak immigran ketinggalan, lha wong setuia pada budaya akar > > kok dilarang? Ya kan? Integrasi? NO way, buat apa? nanti kena shock.. > > > > DH > > >
